Covid-19 Memukul Bisnis H.M. Sampoerna Sepanjang Semester I 2020

Beberapa karyawan HM Sampoerna terinfeksi Covid-19. Hal itu membuat perusahaan menghentikan produksi rokok selama satu bulan.
Image title
24 Juli 2020, 10:43
hm sampoerna, hmsp, rokok
ANTARA FOTO/Siswowidodo/hp.
Ilustrasi, suasana pekerja di ruang produksi pabrik rokok PT Digjaya Mulia Abadi (DMA) mitra PT HM Sampoerna, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (16/6/2020). Pabrik rokok yang mempekerjakan 890 orang pekerja tersebut beroperasi lagi setelah diliburkan selama sepekan menyusul adanya seorang pekerja yang dinyatakan positif Covid-19.

Kinerja PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk atau HMSP turun cukup tajam sepanjang semester I 2020. Hal itu dipengaruhi penurunan daya beli masyarakat dan prioritas belanja konsumen selama pandemi Covid-19.

Manajemen Sampoerna menjelaskan bahwa pandemi corona yang berujung pada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berdampak pada penurunan volume industri rokok dan perubahan preferensi rokok. "Konsumen dewasa (beralih) ke produk-produk yang lebih terjangkau," kata manajemen Sampoerna dikutip dari laporan keuangan, Kamis (23/7).

Tidak hanya berdampak pada konsumsi masyarakat, Covid-19 juga berdampak pada produksi rokok perusahaan. Pasalnya, beberapa karyawan Sampoerna terinfeksi virus corona. Hal itu memaksa perusahaan menghentikan sementara kegiatan dua fasilitas produksi linting tangan di Surabaya, Jawa Timur sejak 27 April 2020 hingga 9 Juni 2020.

Selain penutupan pabrik, kegiatan operasional anak usaha PT Philip Morris Indonesia  itu terganggu adaptasi kegiatan manufaktur, pengadaan barang, periklanan, dan promosi. Perusahaan juga menghadapi hambatan operasional karena harus mematuhi protokol kesehatan demi keselamatan seluruh karyawan.

Advertisement

"Semua ini berdampak negatif terhadap kinerja bisnis Perusahaan," kata manajemen Sampoerna.

Sampoerna telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kinerja bisnis. Perusahaan juga melaksanakan operasional dengan mematuhi kebijakan pemerintah terkait Covid-19.

Salah satu langkah yang diambil yaitu mengkarantina rokok yang diproduksi saat ada karyawan yang positif Covid-19. Karantina produk dilaksanakan selama lima hari sebelum akhirnya didistribusi kepada konsumen dewasa.

Periode itu lebih lama dua hari dari batas yang disarankan oleh European CDC (European Centre for Disease Prevention and Control) dan World Health Organization (WHO). "Manajemen akan terus memonitor perkembangan pandemi Covid-19 dan mengevaluasi dampaknya terhadap hasil usaha dan kinerja keuangan grup secara keseluruhan," ujar manajemen.

Sampoerna tercatat mengalami penurunan kinerja pada semester I-2020, di mana perusahaan hanya mengantongi laba bersih senilai Rp 4,88 triliun. Laba bersih produsen rokok itu turun 27,83% dibandingkan semester I 2019 yang senilai Rp 6,77 triliun.

Hal itu dipengaruhi penurunan penjualan Sampoerna semester I 2020 yang hanya mencapai Rp 44,73 triliun, turun 11,80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 50,71 triliun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christine Natasya menilai bahwa kinerja Sampoerna pada semester pertama tahun ini lebih rendah dibandingkan diprediksinya. Kinerja keuangan yang anjlok tersebut diproyeksi terjadi juga pada periode kuartal II-2020.

Christine menjelaskan bahwa pendapatan Sampoerna pada periode April-Juni 2020 tersebut hanya senilai Rp 21 triliun. Artinya, terjadi penurunan sebesar 21,8% secara year on year dan turun 11,2% secara quarter on quarter.

Sedangkan laba bersih Sampoerna pada periode tiga bulan kedua tahun ini hanya Rp 1,5 triliun. Laba bersih itu, tercatat turun hingga 52,9% secara year on year dan turun 55,1% secara kuartalan.

"Kami percaya ini disebabkan oleh penurunan volume penjualan perusahaan selama kuartal tersebut, mengingat pembatasan sosial skala besar (PSBB). Kami akan meninjau kembali asumsi kami tentang saham HMSP," kata Christine dalam risetnya.

Sepanjang semester pertama tahun ini, saham Sampoerna yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada penutupan perdagangan 30 Juni 2020 sebesar Rp 1.645 per saham. Artinya, saham Sampoerna mengalami koreksi hingga 21,67% dibandingkan dengan penutupan perdagangan terakhir tahun lalu di harga Rp 2.100 per saham.

Level tertinggi saham berkode emiten HMSP ini terjadi pada 13 Januari 2020 di harga Rp 2.320 per saham atau naik 10,48% dari akhir tahun. Sedangkan level terendah saham Sampoerna sepanjang semester pertama tahun ini terjadi pada 19 Maret 2020, di mana harganya hanya Rp 1.155 per saham, atau turun hingga 45%.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait