Menilik Prospek Jangka Panjang Saham Unilever di Tengah Boikot Israel

Ringkasan
- Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengalami kenaikan hampir 19% dalam sebulan terakhir, didorong oleh pertumbuhan positif Unilever global, dengan nilai kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 119 triliun. Analis melihat kesenjangan valuasi antara Unilever Indonesia dan Unilever global menyempit, menandakan peluang pembelian taktis.
- Unilever global dikabarkan akan melakukan pembelian kembali saham senilai EUR 1,5 miliar, mengindikasikan kinerja keuangan yang kuat, terutama dari pertumbuhan bisnis di Amerika Latin dan segmen bisnis Prestige Health and Wellness. Namun, Unilever Indonesia menghadapi tantangan, termasuk potensi dampak dari boikot terkait konflik Israel-Palestina dan depresiasi nilai tukar mata uang Indonesia, dengan pertumbuhan volume unit UNVR hanya sebesar 0,2% tahunan pada kuartal pertama 2024.
- Bahana Sekuritas tetap memberikan rekomendasi hold bagi saham UNVR namun menaikkan target harga 12 bulan menjadi Rp 3.500 dari Rp 2.700, berdasarkan peningkatan target price earning ratio. Faktor pendukung jangka menengah termasuk berkurangnya dampak boikot, namun beberapa risiko seperti fluktuasi harga bahan baku, biaya iklan dan promosi, tingkat persaingan, dan penjualan produk inovatif baru bisa mempengaruhi kinerja saham.

Pertumbuhan positif kinerja Unilevel global turut mengerek saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Dalam sebulan terakhir ini, saham UNVR melesat hampir 19%. Alhasil, nilai kapitalisasi pasarnya juga terkerek menjadi Rp 119 triliun.
Analis Bahana Sekuritas, Christine dan Satria optimistis bahwa arus modal Unilever global merupakan faktor kunci bagi saham UNVR. Mereka mencatat bahwa kesenjangan valuasi antara Unilever Indonesia dan mitranya yang terdaftar di bursa global, Unilever global baru-baru ini menyempit.
Berdasarkan pola historis, hal ini bisa menunjukkan adanya peluang pembelian taktis. Selain itu, Unilever global telah menunjukkan pertumbuhan volume yang kuat dalam dua kuartal terakhir, terutama di Amerika Latin, serta pertumbuhan dua digit pada segmen bisnis Prestige Health and Wellness.
“Selain itu, Unilever global akan segera melakukan pembelian kembali saham senilai EUR 1,5 miliar,” tulis Christine dan Satria dalam risetnya, Kamis (30/5).
Namun, menurut mereka, tidak ada perubahan signifikan untuk Unilever Indonesia. Mereka memperkirakan penjualan UNVR pada kuartal ini masih dapat dipengaruhi oleh boikot. Hal itu karena konflik Israel-Palestina yang tengah berlangsung dan turunnya nilai tukar mata uang di Indonesia.
Agar tetap kompetitif, perusahaan melakukan "intervensi harga" atau memberikan diskon pada produk-produk tertentu. Namun, pertumbuhan volume unit UNVR hanya sebesar 0,2% secara tahunan pada kuartal pertama 2024.
Dari sudut pandang arus kas, mereka menyebut bahwa kenaikan harga saham UNVR baru-baru ini masih mungkin berlanjut. Namun, berdasarkan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), perlu dicatat bahwa investor institusi domestik, termasuk dana pensiun dan asuransi, masih mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 1,5 triliun di saham UNVR sepanjang tahun ini.
Berdasarkan data RTI Business, pada Kamis (30/5) siang, harga saham UNVR terpantau menguat 1,66% ke level Rp 3.060 per lembar saham. Nilai transaksinya sebesar Rp 44,77 miliar dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 116,74 triliun.
“Kenaikan harga saham baru-baru ini sulit untuk dibenarkan jika UNVR gagal mempertahankan momentum pemulihan,” tambahnya.
Namun, mereka mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mendukung saham ini dalam jangka menengah. Salah satunya adalah berkurangnya dampak boikot terhadap produk mereka yang bisa meningkatkan penjualan kembali.
Bahana Sekuritas tetap memberikan rekomendasi hold untuk saham ini, tetapi menaikkan target harga 12 bulan menjadi Rp 3.500, dari sebelumnya Rp 2.700 per lembar saham. Hal ini didasarkan pada meningkatnya target price earning ratio menjadi 27,2x dari sebelumnya 20,8x.
“Yang ditetapkan pada -1,2SD dari rata-rata PE 5 tahun, pada EPS 2024E (sebelumnya 20,8x),” katanya.
Tak hanya itu, Ia juga menjelaskan faktor-faktor dan risiko yang dapat mempengaruhi naik atau turunnya saham UNVR. Pertama, harga bahan baku yang lebih rendah atau lebih tinggi dari perkiraan.
Kedua, biaya iklan dan promosi (A&P) yang lebih rendah atau lebih tinggi dari perkiraan. Ketiga, tingkat persaingan yang menurun atau meningkat. Keempat, pangsa pasar dan volume penjualan yang lebih tinggi atau lebih rendah dari perkiraan. Kelima, keberhasilan produk inovatif baru dalam memenangkan pangsa pasar atau sebaliknya, produk inovatif yang gagal terjual.