RI Butuh Rp 2,8 Kuadriliun untuk Produksi Migas 1 Juta Barel pada 2030

Indonesia membutuhkan investasi migas US$ 179 miliar atau sekitar Rp 2,8 kuadriliun untuk mencapai target produksi 1 juta barel per hari minyak dan 12 juta standar kaki kubik gas per hari pada 2030.
Muhamad Fajar Riyandanu
23 November 2022, 10:50
migas, investasi, skk migas, produksi migas, produksi minyak
Pertamina Hulu Energi
Ilustrasi pengeboran migas.

SKK Migas menyampaikan kebutuhan investasi jangka panjang di sektor industri hulu migas US$ 179 miliar atau lebih dari Rp 2,7 kuadriliun dengan asumsi kurs Rp 15.518 per dolar AS, untuk mencapai target produksi minyak 1 juta barel per hari (bph) dan gas 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030.

Selain itu, proyeksi besaran investasi tersebut juga digunakan untuk pembangunan proyek memenuhi target emisi nol bersih dan produksi energi terbarukan, seperti pengembangan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, mengatakan LNG akan memainkan peran penting di era transisi energi seiring meningkatnya kebutuhan pasokan gas alam yang mendesak di Eropa dan pertumbuhan populasi dan ekonomi di negara-negara Asia seperti India dan Indonesia.

“Sebagai negara yang memiliki pengalaman luas sebagai produsen LNG, Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk menarik investasi. Investasi yang signifikan dan partisipasi aktif dari pelaku domestik dan asing diperlukan untuk mengoptimalkan potensi migas di dalam negeri,” ujarnya dalam sambutannya di agenda The 3rd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG) 2022, Rabu (23/11)

Advertisement

Menyadari hal tersebut, pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk bekerja sama dengan para kontraktor lewat lima visi dan strategi utama, yaitu mengoptimalkan produksi lapangan yang ada, transformasi sumber daya kontingen menjadi produksi dan mempercepat Enhanced Oil Recovery atau EOR.

Lebih lanjut, pemerintah juga terus mendorong kegiatan eksplorasi migas dan percepatan peningkatan regulasi melalui One Door Service Policy (ODSP) dan insentif hulu migas.

Pemerintah juga memperbaiki ketentuan fiskal sebagai bentuk komitmen kerja sama dengan kontraktor dengan memberikan insentif tambahan agar suatu lapangan dapat dikembangkan secara ekonomis.

“Kami telah memberikan insentif untuk pengembangan lapangan ExxonMobil Cepu, Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina Hulu Energy Sanga-Sanga, Pertamina Hulu Kalimantan Timur, dan beberapa wilayah kerja lainnya,” ujar Dwi.

Dwi menyebut, implementasi lima visi tersebut diharap memunculkan dampak positif bagi penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. “Oleh karena itu, sebelumnya dianggap sebagai sunset industry, kini industri minyak dan gas berubah menjadi sunrise industry,” pungkas Dwi.

Sebagai informasi, investasi migas mulai mengalami penurunan sejak 2015. Ketika itu realisasi investasi mencapai US$ 21,7 miliar, turun dari US$ 22,4 miliar tahun sebelumnya. Setelah itu realisasinya terus menurun hingga menjadi hanya US$ 11 miliar pada 2017.

Adapun tahun ini pemerintah menargetkan investasi US$ 13,2 miliar. Namun SKK Migas memproyeksikan target tersebut hanya akan tercapai sebesar US$ 12,1 miliar. Merosotnya hitung-hitungan investasi hulu migas disebabkan oleh kekhawatiran perusahaan atas fluktuasi harga minyak dunia.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait