Dolce & Gabbana Tuntut Blogger Mode Rp 10 T atas Pencemaran Nama Baik

Gugatan hukum terkait video rasis yang diposting Dolce & Gabbana pada 2018 yang memicu boikot.
Image title
Oleh Happy Fajrian
8 Maret 2021, 14:50
dolce gabbana, brand,
ANTARA FOTO/REUTERS/Alessandro Garofalo/nz/dj
Sejumlah model memakai rangcangan musim Semi/Panas 2021 Dolce & Gabbana untuk pria pada pertunjukkan siaran langsung di kampus universitas Yayasan Riset Humanitas pada salah satu peragaan busana secara fisik pertama sejak wabah virus corona (COVID-19), selama berlangsungnya Milan Digital Fashion Week di Rozzano, selatan Milan, Italia, Rabu (15/7/2020).

Rumah mode asal Milan, Dolce & Gabbana dilaporkan telah menggugat dua blogger mode asal Amerika Serikat (AS) atas dugaan pencemaran nama baik di pengadilan Italia. Merek fesyen mewah tersebut meminta ganti rugi senilai 670 juta euro atau US$ 714 juta (sekitar Rp 10,2 triliun, asumsi kurs Rp 14.350 per dolar). 

Gugatan ini sebenarnya sudah diajukan ke pengadilan Milan pada 2019 namun baru mengemuka ke publik pekan ini ketika kedua blogger mode yang digugat, Tony Liu dan Lindsay Schuyler, mempostingnya di akun instagram mereka yang bernama Diet Prada.

Gugatan ini terkait dengan postingan Liu dan Schuyler di Instagram Diet Prada video promosi pertunjukan busana yang dirilis Dolce&Gabbana pada November 2018. Video tersebut menunjukkan seorang wanita etnis Asia yang kesulitan memakan pizza dan pasta menggunakan sumpit.

Warganet bereaksi keras terhadap video yang dinilai rasis dan merendahkan entis Asia, khususnya warga Tiongkok. Apalagi Diet Prada juga membeberkan tangkapan layar percakapan Instagram dengan Stefano Gabbana, yang menganggap video tersebut tidak rasis, melainkan bentuk penghormatan.

“Jika orang China tersinggung dengan video seorang gadis memakan pizza atau pasta dengan sumpit, maka mereka yang merasa inferior, itu bukan masalah kami! Seluruh dunia tahu kalau orang China makan menggunakan sumpit dan orang barat dengan garpu dan pisau. Apa ini rasisme?” tulis Gabbana.

Video tersebut akhirnya dihapus. Namun Gabbana mengatakan bahwa hal itu karena tim dari kantornya bodoh. “Jika itu terserah saya, saya tidak akan pernah menghapus postingan itu,” kata Gabbana dalam percakapan tersebut.

Gabbana juga menyamakan Tiongkok dengan emoji kotoran, dan menyebut Tiongkok sebagai “ignorant dirty smelling mafia” atau negara mafia yang bodoh, kotor dan bau.

Tak lama, Gabbana bersama rekannya Domenico Dolce melalui video menyampaikan permintaan maaf dan beralasan bahwa akun Instagram Gabbana telah diretas, sehingga percakapan melalui direct message yang tersebar tangkapan layarnya bukan dilakukan oleh dirinya.

Namun publik Tiongkok terlanjur marah, pertunjukkan tersebut akhirnya batal terselenggara, dan muncul gerakan untuk memboikot produk-produk Dolce&Gabbana, yang juga dilakukan oleh banyak orang penting di Asia. Toko-toko mode pun menarik barang-barang Dolce&Gabbana.

Atas boikot itulah brand mode kenamaan Italia ini menggugat blogger AS. Menurut Susan Scafidi, direktur Fashion Law Institute di Fordham Law School, sekaligus pengacara Liu dan Schuyler, seharusnya kasus ini selesai dengan permintaan maaf tersebut.

“Kasus ini menjadi cara (Dolce&Gabbana) membungkam Diet Prada dan untuk membungkam Tony (Liu) dan Lindsay (Schuyler),” ujar Scafidi seperti dikutip dari AP, pada Senin (8/3).

Dia menjelaskan bahwa rumah mode itu meminta ganti rugi sebesar lebih dari setengah miliar euro, dengan rincian 450 juta euro untuk memulihkan citra merek yang rusak sejak kasus ini muncul pada 2018, sebear 3 juta euro untuk perusahaan, dan 1 juta euro untuk Stefano Gabbana.

Gugatan tersebut juga meminta lebih dari 8,6 juta euro untuk pembatalan pertunjukan mode di Shanghai, 8,6 juta euro untuk pengeluaran staf, dan 89,6 juta euro untuk hilangnya penjualan di kawasan Asia dari November 2018 – Maret 2019.

Dalam sebuah pernyataan Liu dan Schuyler mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan platform mereka untuk menyarakan masalah-masalah seperti ini dibungkam oleh tuntutan hukum.

“Diet Prada akan terus menjadi platform untuk mengangkat masalah krusial ini. Tokoh dan brand seharusnya merespon opini publik dan kritik media dengan tindakan progresif, bukan dengan tuntutan hukum,” kata Schuyler.

Akhir Bisnis Dolce & Gabbana di Tiongkok?

Apa yang terjadi pada postingan video dan tangkapan layar salah satu founder rumah mode ini merupakan bencana public relation (PR). Apalagi Tiongkok merupakan pasar yang besar bagi produk-produk mewah seperti yang ditawarkan Dolce&Gabbana.

Menurut studi, Tiongkok membelanjakan hingga lebih dari US$ 100 miliar untuk barang-barang mewah, atau nyaris spertiga dari pangsa pasar global.

Media Tiongkok Business of Fashion melaporkan, Dolce&Gabbana belum lama ini menutup tokonya di berbagai kota di Tiongkok, seperti Chengdu, Nanning, Shanghai (sebuah toko dan butik), dan di Beijing. Brand ini juga menutup salah satu butiknya di mal di Hong Kong.

Penutupan tersebut terjadi di masa-masa penting di mana sebuah brand harus meningkatkan dan memperluas jangkauannya ritelnya di Tiongkok di masa pandemi, di mana konsumen di negara itu tidak dapat bepergian ke luar negeri.

Video Pilihan

Artikel Terkait