Ekonom Bank Dunia Carmen Reinhart Ragu Resesi Global Dapat Dihindari

Dengan upaya bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi, resesi ekonomi global kemungkinan menjadi tak terhindarkan.
Happy Fajrian
30 Juni 2022, 08:41
resesi, bank dunia, pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga,
Katadata | Arief Kamaludin
Logo Bank Dunia.

Kepala ekonom Bank Dunia Carmen Reinhart menyatakan skeptisismenya bahwa Amerika Serikat (AS) dan ekonomi global dapat menghindari resesi di tengah melonjaknya inflasi, kenaikan suku bunga yang tajam dan melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina.

Dia mengatakan bahwa secara historis, pengendalian inflasi dan pada saat yang sama merancang soft landing perekonomian merupakan tugas yang sangat berat. Risiko resesi pun menjadi semakin tak terhindarkan.

“Yang mengkhawatirkan semua orang adalah bahwa semua risiko menumpuk pada sisi negatifnya,” ujarnya seperti dikutip Reuters, Kamis (30/6).

Dia juga membandingkan kondisi saat ini dengan krisis keuangan global 2008-2009 yang sebagian besar berdampak pada banyak negara maju dan Cina, yang pada waktu itu adalah mesin pertumbuhan yang besar. “Tetapi krisis ini jauh lebih luas dan pertumbuhan Cina tidak lagi dalam dua digit,” katanya.

Advertisement

Bank Dunia bulan ini memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya hampir sepertiga menjadi 2,9% untuk 2022, memperingatkan bahwa perang Rusia di Ukraina telah menambah kerusakan akibat pandemi Covid-19, dan banyak negara sekarang menghadapi resesi.

Dikatakan pertumbuhan global bisa melambat menjadi 2,1% pada 2022 dan 1,5% pada 2023, mendorong pertumbuhan per kapita mendekati nol, jika risiko penurunan terwujud. Simak selengkapnya pada databoks berikut:

Ditanya apakah resesi dapat dihindari di Amerika Serikat atau secara global, Reinhart berkata, “Saya cukup skeptis. Pada pertengahan 1990-an, di bawah Ketua (Fed) (Alan) Greenspan, kami mengalami soft landing, tetapi inflasi ketika itu hanya 3% bukannya 8,5% seperti saat ini”.

Dia menambahkan, “Anda tidak bisa mengatakan bahwa serangkaian episode pengetatan yang dilakukan The Fed (The Federal Reserve/bank sentral AS) secara signifikan belum berdampak pada perekonomian”.

Reinhart mengatakan pemerintahan Biden tidak sendirian dalam salah menilai sejauh mana risiko inflasi, mencatat bahwa Fed, IMF dan lainnya telah berbagi pandangan itu, meskipun Bank Dunia sejak awal menyebutnya sebagai risiko yang nyata.

“The Fed seharusnya bertindak lebih cepat dan lebih agresif. Dan saya sudah mengatakan ini sejak lama. Semakin lama Anda menunggu, semakin kejam tindakan yang harus Anda ambil,” kata dia.

Amerika Serikat (AS) diperkirakan jatuh ke jurang resesi tahun depan, seiring adanya tekanan inflasi. Survei Financial Times menyebutkan, hampir 70% dari 49 ekonom akademisi memprediksi resesi ekonomi AS terjadi tahun depan. Bank of America (BofA) Securities memperkirakan hal serupa.

Pembicaraan soal resesi di AS semakin menguat, karena inflasi terus menanjak. Bank sentral AS, The Fed juga mengambil langkah agresif untuk mengendalikan kenaikan inflasi tersebut. The Fed mengumumkan kenaikan bunga acuan 75 basis poin pada awal Juni. Kenaikan ini merupakan paling agresif sejak 1994.

Gubernur The Fed Jerome Powell juga memberi sinyal masih akan menaikkan suku bunga dengan kecepatan yang sama pada pertemuan bulan depan. Inflasi AS mencapai 8,6%. Ini merupakan rekor tertinggi selama lebih dari 40 tahun.

Sejumlah pejabat Fed mengatakan bahwa mereka mempertimbangkan kenaikan antara 50 sampai dengan 75 basis poin. “Kita perlu bergerak cepat. Dalam pertemuan kami berikutnya saya pikir kenaikan 50 bps atau 75 bps akan menjadi perdebatan,” kata Presiden Fed New York, John Williams.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait