Bonus Demografi, Dampak dan Hambatannya

Bonus demografi merupakan kondisi saat penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan penduduk usia non produktif. Kondisi ini memiliki beberapa dampak dan hambatan.
Image title
4 Maret 2022, 15:22
Bonus Demografi, Manfaat dan Hambatannya
ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/hp.
Barista mengedukasi proses kopi kepada pemuda di Papring, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (28/2/2021). Kegiatan pelatihan bertema Gerakan Milenial Cemerlang (Gemilang) di kampung penghasil kopi itu, sebagai upaya membangkitkan semangat anak muda kembali ke kampung mengolah potensi kampungnya.

Bonus demografi adalah sebuah fenomena saat penduduk usia produktif jumlahnya sangat banyak. Indonesia diketahui menjadi negara yang kini memiliki bonus demografi atau ledakan penduduk. Pasalnya jumlah penduduk usia produktif lebih tinggi dibandingkan usia non produktif.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada tahun 2019 lalu, penduduk usia produktif masih mendominasi. Persentase laki-laki dan perempuan di usia produktif (15-64 tahun) sekitar 67,6 %. Sedangkan penduduk usia belum produktif hanya sekitar 26-27 %.

Pada kesempatan kita akan mengulas tentang bonus demografi mulai dari definisi hingga hambatannya. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, berikut penjelasannya.

Advertisement

Definisi Bonus Demografi

Demografi berasal dari Bahasa Yunani dari kata “demos” yang artinya rakyat atau penduduk dan “grafein” berarti menulis. Jadi secara istilah demografi adalah tulisan atay karangan tentang rakyat.

Sementara itu dalam buku “Principles of Demography” mengartikan demografi sebagai ilmu yang mempelajari secara statistik dan matematik tentang besar, komposisi, dan distribusi penduduk serta perubahan sepanjang masa. Perubahan tersebut disebabkan oleh kelahiran, kematian, perkawinan, migrasi, dan mobilitas sosial.

Berdasarkan penjelasan dalam jurnal Visioner 12(2), ledakan penduduk dicirikan dengan jumlah penduduk usia produktif yang lebih banyak dibandingkan penduduk usia non produktif. Parameter yang digunakan untuk menilai bonus demografi yaitu dependency ratio atau rasio ketergantungan.

Dependency ratio adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara jumlah penduduk usia  non produktif (kurang dari 15 tahun dan di atas 64 tahun) dengan penduduk usia produktif (15 – 64 tahun).

Angka rasio tersebut menunjukkan beban tanggungan penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif. Apabila angka rasio tersebut rendah, berarti penduduk usia produktif hanya menanggung sedikit penduduk usia non produktif.

Sebuah negara bisa memanfaat bonus demografi apabila memenuhi syarat berikut ini:

  1. Pertumbuhan penduduk usia kerja harus disesuaikan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
  2. Penduduk usia kerja bisa diserap oleh pasar kerja yang tersedia.
  3. Tersedia lapangan pekerjaan yang dapat menyerap tenaga kerja.

Apabila ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, maka akan terjadi beban demografi yang bisa meningkatkan jumlah pengangguran.

Dampak Bonus Demografi

Bonus demografi memberikan dampak positif untuk setiap negara yang memilikinya. Dalam jurnal Visioner 12(2), disebutkan beberapa dampak bonus demografi seperti berikut:

  • Jumlah penduduk usia kerja yang tinggi dan bisa diserap pasar kerja dapat meningkatkan total output.
  • Meningkatkan tabungan masyarakat.
  • Tersedianya sumber daya manusia dalam pembangunan ekonomi.

Sementara itu, dalam buku Pasti Bisa Geografi" juga menjelaskan tentang beberapa dampak bonus demografi Indonesia, antara lain:

  • Membentuk generasi muda yang bertanggung jawab, bersedia mengabdi, berkorban, membangun dan mengelola bangsa serta negara.
  • Menambah laju perekonomian Indonesia yang memberikan pengaruh besar terhadap kesejahteraan bangsa dan negara.
  • Menumbuhkan roda ekonomi dan menyiapkan persaingan di dunia internasional.
  • Menyediakan tenaga kerja usia produktif.

Dalam buku Manajemen Kebijakan Publik Sektor Pariwisata, disebutkan beberapa dampak dari bonus demografi seperti berikut:

  • Memicu pertumbuhan ekonomi.
  • Semakin besar jumlah penduduk maka permintaan terhadap barang konsumsi juga akan meningkat, sehingga dapat memicu economic of scale dalam produksi.
  • Biaya produksi menurun.
  • Meningkatkan produksi yang akan membuat usaha semakin luas dan meningkatkan usaha baru.

Hambatan Bonus Demografi

Walaupun memiliki jumlah penduduk usia produktif yang tinggi, namun untuk memanfaatkan kondisi tersebut masih sering terhambat oleh beberapa faktor. Adapun hambatan bonus demografi sebagai berikut:

1. Banyak penduduk usia produktif yang menjadi pengangguran

Pengangguran ternyata menjadi penghambat bonus demografi. Di masa pandemi seperti saat ini, tingkat pengangguran semakin tinggi. Banyak anak muda produktif yang terpaksa menganggur karena lowongan pekerjaan menurun di saat pandemi.

BPS mencatat adanya penurunan iklan lowongan pekerjaan yang turun 66 %, dari 34.056 pada kuartal I-2020 menjadi 11.427 pada kuartal III-2020. Di samping itu, bonus demografi bisa menambah angkatan kerja di Indonesia.

Bulan Agustus 2022, jumlah angkatan kerja naik 1,74 % secara tahunan (year on year/yoy). Kondisi ekonomi yang sulit membuat angkatan kerja tersebut sulit terserap dan membuat pengangguran meningkat.  

2. Transformasi digital dan revolusi industri

Digitalisasi yang dilakukan di berbagai sektor memang bisa meningkatkan kemajuan di sektor tersebut. Namun untuk beberapa hal, transformasi digital dan revolusi industri ternyata bisa menghambat bonus demografi.

Sebab transformasi digital dan revolusi industri dapat membuat banyak orang kehilangan pekerjaan.  Untuk mencegah terjadinya pengangguran akibat digitalisasi, maka kita perlu meningkatkan ekosistem digital termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sebuah riset yang dilakukan Lazada dan YCP Solidiance menilai Indonesia perlu lebih agresif untuk menciptakan talenta digital lewat kolaborasi, penciptaan ekosistem, dan pelatihan. Persiapan tersebut penting untuk menyambut bonus demografi pada tahun 2030 nanti.  

Editor: Intan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait