Mengenal Dual Listing, Strategi GoTo Raih Investor di Bursa Saham

Strategi dual listing kerap digunakan oleh sejumlah perusahaan multinasional, seperti Alibaba dan Unilever.
Image title
22 Maret 2022, 10:44
dual listing, bursa, IPO, BEI
Arief Kamaludin|KATADATA

Perusahaan gabungan Gojek dan Tokopedia, alias GoTo telah membuka penawaran perdana sahamnya. Rencananya, saham GoTo tidak hanya dijajakan kepada publik, melainkan juga para mitra, seperti pengemudi, konsumen, dan pedagang.

Awal April, decacorn tersebut rencananya bakal resmi mencatatkan saham perdana atau initial public offering alias IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Tak berhenti di sana, perusahaan teknologi itu juga berencana melakukan dual listing, dengan mencatatkan sahamnya di papan bursa negara lain. Sebut saja New York Stock Exchange (NYSE), National Association of Securities Dealers Automated Quotations (NASDAQ), Hong Kong Stock Exchange (HKSE), Singapore Stock Exchange (SGX), atau London Stock Exchange (LSE).

Rencana ini masih akan terealisasi dalam jangka waktu dua tahun setelah tanggal pencatatan, seturut dengan peraturan Pasal 32 POJK nomor 22/2021.

Advertisement

Apa Itu Dual Listing?

Beberapa literatur menyebut dual listing dengan sebutan cross listing. Secara singkat, dual listing dapat diartikan sebagai pencatatan saham suatu perusahaan lebih dari satu pasar modal. Strategi ini kerap digunakan oleh sejumlah perusahaan multinasional, seperti Alibaba dan Unilever.

Saham Alibaba contohnya, melantai di papan Bursa Efek New York (NYSE) dan juga Hong Kong (Hong Kong Exchange/HEX). Adapun sejauh ini Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum menerima masuknya perusahaan asing untuk mencatatkan saham, layaknya di luar negeri. 

Perusahaan Pilih Dual Listing 

Bergeser ke dalam negeri, sejauh ini tercatat baru ada tiga perusahaan publik yang berhasil mencatatkan sahamnya di luar Indonesia, yaitu PT Aneka Tambang (ANTM), PT Indosat (ISAT), dan PT Telkom Indonesia (TLKM).

Apabila April 2024 GoTo sudah berhasil melakukan dual listing, maka perusahaan teknologi tersebut akan menjadi perusahaan keempat, beriringan dengan ANTM, ISAT, dan TLKM.

Dalam sejarahnya, perjuangan ketiga perusahaan untuk mempertahankan dual-listing tidaklah mudah, beberapa bahkan mengalami delisting alias penghapusan pencatatan di bursa luar negeri. 

Aneka Tambang alias Antam misalnya, sudah melantai di empat negara berbeda dalam waktu cukup lama. Keempat negara tersebut adalah Indonesia, Australia, Jerman, dan Amerika. Melansir informasi dari laman resmi Antam, perusahaan tambang emas ini mulanya mencatatkan saham di BEI pada 1997.

Usai melantai di bursa Tanah Air, Antam mencatatkan sahamnya di bursa Australia atau Australian Securities Exchange (ASX) dua tahun berikutnya, yakni pada 1999. Sementara di Jerman, saham Antam dijual dengan kode emiten AKTA, dan tercatat di papan Bursa Efek Frankfurt, Berlin, Munich, dan Stuttgart.

Sementara itu, melansir laman Trading View, saham Indosat juga tercatat di beberapa bursa, yakni Indonesia, Jerman, dan Amerika. Meski begitu, papan saham Indosat di Amerika termasuk dalam Over The Counter (OTC), berarti perusahaan sudah mengalami forced delisting alias penghapusan pencatatan secara paksa pada Mei 2013.

Alhasil, saham Indosat dapat dijual dengan harga yang lebih murah dengan biaya transaksi lebih kecil. Sebagai informasi, sebelum masuk ke papan OTC, saham Indosat sudah tercatat dalam bursa NYSE.  

Untuk saham Telkomsel, investor bisa menemukannya di bursa di Indonesia, Amerika (NYSE) dan Jerman. Telkom mencatatkan sahamnya secara serentak di NYSE dan BEI pada 14 November 1995 silam.

Selain itu, Telkomsel juga menawarkan sahamnya pada investor di Meksiko (Bolsa Mexicana de Valores/BMV). Melansir laporan keuangan perusahaan kuartal pertama 2020, saham Telkomsel sempat melantai di (London Stock Exchange/LSE) dan Bursa Efek Tokyo (Tokyo Stock Exchange/TSE) sejak 14 November 1995 namun memutuskan untuk delisting (penghapusan pencatatan) pada 2014. 

Keunggulan Dual Listing

Meski belum banyak perusahaan lokal yang mencatatkan sahamnya di luar negeri, strategi dual listing memiliki keunggulan tersendiri. Dengan mencatatkan saham di bursa luar negeri, perusahaan berkesempatan untuk membuka perdagangan dengan zona waktu yang berbeda, maka durasi perdagangan pun bisa bertambah.

Infografik_Menimbang prospek saham goto
Infografik_Menimbang prospek saham goto (Katadata/ Pretty Juliasari)

 

Adapun mata uang yang digunakan untuk investasi semakin bervariasi. Lebih lanjut, laman Investopedia menulis setidaknya ada tiga manfaat dan keunggulan dari melantai di bursa lain, yaitu:

  • Memperbesar akses modal

Eksposur internasional ini memungkinkan lebih banyak pembeli dan penjual di perusahaan, sehingga likuiditas dana pun meningkat. Dana inilah yang kemudian menambah modal perusahaan untuk diinvestasikan di masa depan.

  • Meningkatkan citra perusahaan

Pencatatan di bursa internasional tidak jarang dilakukan untuk memperkuat citra perusahaan, sebab ada kemungkinan media internasional akan memberitakan kinerja perusahaan. Selain itu, adanya syarat pencatatan yang lebih ketat di luar negeri, seperti di Amerika Serikat dan London, membuat perusahaan harus lebih detail dan transparan mengenai laporan keuangannya. Otomatis perusahaan mengikuti kaidah Good Corporate Governance (GCG) yang baik. 

  • Menunjukkan adanya keterlibatan lokal

Ada kalanya perusahaan sudah memiliki pabrik maupun kantor di negara lain sebelum melantai di bursa, walhasil nama perusahaan pun masih asing di telinga masyarakat. Dengan adanya pencatatan saham di negara baru, masyarakat lokal dapat mengenal perusahaan tersebut dan tidak terlihat sebagai perusahaan asing. Perusahaan juga dapat melakukan rekrutmen untuk pekerja lokal.

Reporter: Amelia Yesidora
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait