Bappebti Ingin Perdagangan Komoditas Timah Indonesia Jadi Poros Dunia

Bappebti mencatat volume dan nilai transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK) naik di 2020. Akhir tahun lalu, total volume transaksi mencapai 13,2 juta lot atau naik 18,85% dibandingkan 2019.
Image title
22 Juli 2021, 17:57
Bursa bappebti
Arief Kamaludin|KATADATA
Bursa

Badan Pengawas Pedagangan Berjangka Komoditi atau Bappebti meminta Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Group untuk meningkatkan performa perdagangan komoditas timah. Harapannya, pasar timah Tanah Air bisa menjadi poros timah di dunia.

Kepala Bappebti Indrasari Wisnu menekankan bahwa Indonesia merupakan penghasil salah satu komoditas unggulan dunia seperti Timah. Untuk itu, peran Indonesia dalam pasar timah global menjadi hal penting dan berpotensi memberikan dampak besar bagi industri timah global.

“Kami berharap ICDX Group serta para anggotanya bisa meningkatkan performa perdagangan timah dan menjadikan pasar timah Indonesia sebagai poros timah dunia,” kata Wisnu dalam perayaan 12 tahun ICDX Group secara virtual, Kamis (22/7).

Komisaris Utama ICDX Said Aqil Siradj menyampaikan, harga komoditas timah turut terdampak pandemi dan sempat mengalami gangguan operasional akibat kebijakan penutupan atau lockdown di beberapa negara. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya distrupsi terhadap sentimen di pasar timah.

Meskipun begitu, ICDX mampu menjaga harga timah tetap stabil di mana harganya sempat menyentuh rekor tertinggi di level US$ 34,800 per ton atau di atas harga London Metal Exchange (LME). “Angka ini jadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir sejak diperdagangkan ICDX pada Agustus 2013 hingga Juni 2021,” kata Said dalam kesempatan yang sama.

Aqil menyampaikan, sepanjang periode Agustus 2013 hingga Juni 2021 total ekspor timah ICDX mencapai 417.331 metrik ton setara dengan US$ 8,2 miliar atau Rp 1.188 triliun. Hal tersebut menunjukkan kalau Indonesia dapat menjadi tulang punggung pasar timah dunia. Apalagi, pasar timah diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih bagi perekonomian Tanah Air.

Di samping itu, ICDX saat ini tengah menyoroti kondisi ekonomi hijau global. Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu sentra perdagangan karbon dan mengimplementasikan ekonomi hijau. Dengan bentang alam yang luas dan sumber daya alam, Indonesia berpotensi besar menjadi produsen karbon utama.

“Kita dikaruniai dengan kemampuan menyerap karbon besar dan menyumbangkan 75% - 80% kredit karbon dunia. Untuk itu, kredit karbon dapat menjadi komoditas sangat strategis dan berkelanjutan,” ujarnya.

ICDX Group terdiri dari beberapa perusahaan terafiliasi seperti ICDX, Indonesia Clearing House (ICH), dan juga ICDX Logistik Berikat (ILB). ICDX atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mefasilitasi layanan dan transaksi kontrak perdagangan berjangka komoditi di Indonesia.

Selanjutnya, setiap perdagangan di ICDX akan diselesaikan, dijamin dan dikliring oleh perusahaan afiliasi yakni ICH. Adapun ILB yang merupakan anak perusahaan ICDX dan ICH, memiliki kegiatan utama menyediakan gudang untuk komoditas yang diperdagangkan di ICDX, termasuk komoditas ekspor.

Sementara itu, transaksi multilateral yang diperdagangkan ICDX tercatat tumbuh 57,9% atau menyentuh Rp 126 triliun di semester pertama 2021. Adapun untuk transaksi derivatif tumbuh 137% dari periode yang sama tahun lalu, dengan total transaksi 294.658 lot.

Secara keseluruhan, Bappebti mencatat volume dan nilai transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK) di bursa berjangka berhasil mencatatkan kenaikan di 2020. Akhir tahun lalu, total volume transaksi mencapai 13,2 juta lot atau naik 18,85% dibandingkan 2019.

Dari total tersebut, Bappebti mencatat volume transaksi PBK di ICDX berkontribusi sekitar 3,77 juta lot atau setara 28,5% dengan nilai Rp 4.536 triliun. Sedangkan untuk transaksi multilateral di tahun lalu tumbuh 73,7% atau mencapai 593 ribu lot.

Ke depan, Wisnu berharap ICDX Group dapat menyediakan sistem transaksi yang sesuai dengan kebutuhan pasar, sekaligus upaya untuk meningkatkan transaksi. Dia juga mendorong perusahaan untuk mengembangkan grup baru untuk kontrak berjangka multilateral melalui diversifikasi.

“Termasuk meningkatkan jenis-jenis kontrak multilateral, baik transaksi berjangka untuk kontrak regular unilot hingga mikrolot,” ujar Wisnu.

Penyumbang bahan: Nada Naurah (magang)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait