Lanjutkan Burden Sharing, BI Beli Lagi Surat Utang Pemerintah Rp 58 T

Pembelian SBN sebesar Rp 58 triliun merupakan bagian dari implementasi Surat Keputusan Bersama III antara Bank Indonesia dan pemerintah alias burden sharing.
Image title
2 Desember 2021, 10:48
burden sharing, bank Indonesia, utang, Kementerian Keuangan, SBN
Pexels
Ilustrasi mata uang Rupiah

Kementerian Keuangan mulai menerbitkan obligasi seri Surat Utang Negara (SUN) dalam rangka implementasi kerja sama dengan Bank Indonesia sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) III. Penerbitan pertama ini berbuah utang baru senilai Rp 58 triliun.

SKB III merupakan skema pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja negara (APBN) dengan melibatkan Bank Indonesia (BI). Skema ini biasa juga disebut burden sharing.

Melalui kerja sama ini, bank sentral akan memborong surat utang pemerintah dengan nilai tertentu dengan bunga yang lebih rendah dari pasar.

Dengan demikian pemerintah memperoleh utang yang lebih murah dan mengurangi beban bunga tinggi di masa depan.

Advertisement

"Penerbitan SUN hari ini merupakan transaksi yang pertama dalam rangka implementasi SKB III," demikian tertulis dalam keterangan resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Selasa (30/11).

Penerbitan pertama ini dengan melepas empat seri SUN jenis veriable rate (VR) melalui private placement. Surat utang ini dilepas dengan status dapat diperdagangan dan dengan kupon suku bunga Reverse Repo BI tenor tiga bulan. Kupon tiga bulan pertama masing-masing seri sebesar 3,06%.

Empat seri SUN masing-masing menghasilkan Rp 14,5 triliun. Adapun rincian dari seri SUN tersebut antara lain,

  • VR0066 tanggal jatuh tempo 2 Desember 2026
  • VR0067 tanggal jatuh tempo 2 Desember 2027
  • VR0068 tanggal jatuh tempo 2 Desember 2028
  • VR0069 tanggal jatuh tempo 2 Desember 2029

Adapun transaksi ini dilakukan berdasarkan tiga ketentuan utama. Pertama, skema kerja sama BI dan Kemenkeu untuk membiayai pandemi yang tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 347/KMK.08/2021 dan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 23/11/KEP.GBI/2021.

 Kedua, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang SUN. Ketiga, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 51/PMK.08/2019 tentang Penjualan SUN di pasar Perdana Domestik dengan Cara Private Placement.

DJPPR menilai implementasi SKB III ini menjadu bukti kuatnya sinergi dan koordinasi kebijakan antara otoritas fiskal dan moneter dalam menangani pandemi COvid-19.

Kendati demikian, pemerintah memastikan tetap mengelola utang secara hati-hati dan terukur, serta memperhatikan debt affordability untuk menjaga kesinambungan fiskal.

"Selanjutnya, penerbitan SUN atau sukuk dalam skema SKB III akan dilakukan secara bertahap sesuai skebutuhan pembiayaan anggaran penanganan kesehatan dan kemanusiaan dalam rangka pandemi Covid-19," kata DJPPR.

 Melalui kerja sama SKB III ini, memungkinkan bank sentral ikut membiayai APBN dengan memborong surat utang pemerintah.

Sesuai kerja sama tersebut, BI rencananya memborong surat utang pemerintah senilai Rp 215 triliun untuk tahun ini dan Rp 224 triliun dalam APBN tahun depan.

Kerjasama pembelian surat utang oleh Bank Indonesia akan dilakukan dalam dua skema. Pertama, jumlah pembelian sebesar Rp 58 triliun untuk tahun ini dan Rp 40 triliun pada tahun depan dilakukan dengan burden sharing atau berbagi beban.

Dalam skema ini tingkat suku ditanggung oleh Bank Indonesia, dengan kata lain pemerintah tidak akan membayar bunga utang.

Kedua, jumlah pembelian sebesar Rp 157 triliun pada tahun ini dan Rp 184 triliun tahun depan. Namun, tingkat suku bunga akan ditanggung pemerintah.

 Seperti diketahui, sejak awal November, pemerintah telah mengumumkan berhenti untuk menerbitkan surat utang untuk pembiayaan tahun 2021.

Kebijakan ini dilakukan karena pembiayaan untuk APBN 2021 dinilai sudah mencukupi, terutama berkat adanya SKB III dengan BI yang baru dimulai November dan Desember ini.

Selain itu, pemerintah juga akan mengoptimalkan anggaran yang ada di Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk membiayai berbagai kebutuhan.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait