Harga Minyak Dunia Cetak Rekor, Rupiah Dibuka Melemah Rp 14.383/US$

Kenaikan harga minyak mentah dunia bisa mendorong semakin meningkatnya inflasi global.Dari dalam negeri, kenaikan kasus Covid-19 juga ikut melemahkan nilai tukar rupiah hari ini.
Image title
Oleh Abdul Azis Said
4 Februari 2022, 09:32
rupiah, minyak dunia, minyak
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Jumat (5/11/2021).

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 0,03% ke level Rp 14.383 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah dunia yang mendorong potensi masih berlanjutnya kenaikan inflasi global.

Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik menguat ke Rp 14.379 pada pukul 09.15 WIB. Kendati demikian belum berhasil kembali ke level penutupan perdagangan kemarin di Rp 14.378 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia lainnya menguat. Yen Jepang menguat 0,13% bersama dolar Singapura 0,04%, won Korea Selatan 0,45%, peso Filipina 0,01%, yuan Cina 0,11%, ringgit Malaysia 0,14% dan bath Thailand 0,16%.

Sementara rupee India melemah 0,03% dan dolar Taiwan 0,01%, sedangkan dolar Hong Kong stagnan.

Advertisement

 Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah masih akan tertekan hari ini dengan pelemahan ke arah Rp 14.400, sementara potensi support di kisaran Rp 14.350 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak yang mendorong meningkatnya kekhawatiran inflasi tinggi masih akan berlanjut.

"Kenaikan harga minyak mentah sebagai sumber energi yang menyentuh kisaran US$ 90 per barel, pertama kali sejak tahun 2014 akan menjadi pendorong kenaikan inflasi global," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (4/2).

Berdasarkan data Bloomberg per pukul 08.48 WIB, harga minyak jenis Brent untuk kontrak pengiriman April 2022 naik 0,38% ke level US$ 91.46 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Maret 2022 naik 0,49% ke level US$ 90.71 per barel.

Para analis melihat kenaikan harga minyak dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran terhadap cuaca dingin berkepanjangan yang dapat mengganggu produksi di Texas, AS. 

Selain itu, ketegangan antara Rusia dan Barat atas sikap agresif Rusia terhadap Ukraina juga turut membuat pasar bergejolak. Di sisi lain, permintaan global terhadap minyak justru meningkat.

 Sentimen global lainnya yang mendorong pelemahan rupiah hari ini yaitu inflasi yang tinggi di AS. Kondisi ini mengonfirmasi kebijakan pengetatan moneter AS yang lebih agresif ke depan yang akan mendorong penguatan dolar terhadap rupiah.

"Sementara dari dalam negeri, kondisi penularan Covid-19 yang semakin tinggi akan meresahkan pelaku pasar dan bisa menekan nilai tukar rupiah," kata Ariston.

Laporan hari Kamis (4/2) menunjukkan penambahan kasus harian mencapai 27.197 orang.

Ini berarti kasus Corona di Indonesia sudah naik 52% hanya dalam sehari. Lonjakan kasus ini merupakan yang tertinggi sejak 14 Agustus tahun lalu. Sedangkan kasus kematian mencapai 38 orang.

 Sementara itu, analis pasar uang Bank Mandiri Rully A Wisnubroto memperkirakan rupiah akan bergerak di interval Rp 14.334-14.405 per dolar AS. Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi pengumuman kebijakan moneter bank sentral Eropa dan Inggris yang menunjukkan sikap hawkish.

Bank sentral Inggris mengumumkan kenaikan kedua untuk bunga acuannya menjadi 0,5%. Sementara, meski bank sentral Eropa belum menaikkan bunga acuannya, tetapi mereka mulai melihat bahwa inflasi akan bertahan lebih lama.

"Dolar AS sedikit melemah karena adanya sinyal hawkish dari bank sentral Inggris dan Eropa, dan biasanya juga sejalan dengan pergerakan dolar ke rupiah," kata dia.

Selain sentimen eksternal, pasar juga menunggu publikasi data produk domestik bruto (PDB) domestik dan cadangan devisa pekan depan.

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait