Jokowi dan Raja Malaysia Bahas Proyek Bersama Pertamina dan Petronas

Muncul ide proyek luar negeri untuk digarap kedua perusahaan. Ide akan diteruskan ke Menteri BUMN dan Pertamina. "Sebuah ide besar," kata Menlu Retno.
Michael Reily
27 Agustus 2019, 15:48
Pertamina petronas jadi salah satu bahasan jokowi raja malaysia
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Raja Malaysia Sri Paduka Baginda Yang Dipertuan Agong XVI, Sultan Abdullah Ri'ayatauddin Al Mustafa Billah Shah Ibni Almarhum Sultan Haji Ahmad Shah Al-Musta'in Billah memeriksa pasukan saat upacara kenegaraan di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/8/2019).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah Ri’ayatauddin Al Mustafa Billah Shah Ibni Almarhum Sultan Haji Ahmad Shah Al-Musta’in Billah di Istana Bogor, Selasa, 27 Agustus 2019. Salah satu topik bahasan yaitu tentang kolaborasi Pertamina Petronas untuk menggarap proyek di luar negeri.  

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan, sejauh ini kedua perusahaan baru sebatas melakukan kerja sama jual beli. Pada semester I tahun ini, nilai transaksi dagang mencapai US$ 133 juta dan akan berlanjut ke tahun berikutnya dengan nilai yang lebih besar. Ke depan, kedua pemerintah menginginkan kerja sama yang lebih luas.

“Harus ada kerja sama yang sifatnya lebih strategis. Nah, yang strategis itu yang kami bahas adalah bagaimana keduanya berkolaborasi untuk menggarap proyek-proyek pihak ketiga,” kata Retno usai pertemuan kedua kepala negara, di Istana Negara, Bogor (27/8). Proyek pihak ketiga yang dimaksud terutama proyek-proyek di negara lain.

(Baca: 14 Wilayah Berpotensi Hasilkan Cadangan Migas Baru)

Dari hasil pertemuan, ia menjelaskan, muncul usulan tentang proyek yang bisa digarap bersama. Ia menyatakan akan berbicara dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno dan manajemen Pertamina untuk menindaklanjuti usulan tersebut. “Sebuah ide besar, bagus sekali untuk menggarap proyek di luar (negeri),” ujar Retno.

Ia masih merahasiakan negara yang prospektif untuk dibidik. Sebab, pengungkapan detail tersebut merupakan kewenangan Pertamina dan Petronas. Apalagi, untuk menjalankan kolaborasi, kedua perusahaan membutuhkan waktu untuk hitung-hitungan bisnis. Yang jelas, Retno menyatakan, kedua perusahaan sudah beberapa kali bertemu dan hubungan keduanya sudah semakin dekat.

Februari lalu, Pertamina dan Petronas telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menjajaki kerja sama dalam pengembangan bisnis migas dari hulu hingga hilir.

(Baca: Perusahaan Migas Indonesia Jangan Hanya Jago Kandang)

Direktur Perencanaan Investasi & Manajemen Resiko Pertamina Heru Setiawan mengatakan sinergi antara kedua perusahaan merupakan realisasi dari kerja sama pemerintah atau Government to Government (G to G) yang sudah terjalin cukup erat sebelumnya.

“MoU ini menjadi payung untuk membangun sinergi bisnis yang saling menguntungkan antara kedua perusahaan. Kerjasama ini mencakup kerjasama secara strategis maupun operasional,” ujarnya seperti dikutip dari keterangan resmi Pertamina, Selasa (26/2).

Ada beberapa program kerja sama yang akan dijalankan bersama oleh kedua perusahaan, di antaranya penelitian dan pengembangan migas. Kemudian, studi eksplorasi migas termasuk penerapan teknologi di blok migas dengan kesulitan CO2 tinggi, perdagangan sejumlah produk migas dan turunannya (kondensat dan petrokimia), dan energi terbarukan.

Heru menambahkan kerja sama yang dilakukan nantinya tidak hanya berlokasi di Indonesia maupun Malaysia. Pengembangan migas kedua perusahaan bisa dilakukan hingga ke negara lain, seperti pengolahan minyak di wilayah Asia Timur.

Video Pilihan

Artikel Terkait