Mantan Deputi Gubernur BI Ditunjuk Jadi Komisaris Utama Bank Mandiri

Bank Mandiri juga menetapkan Jaksa Agung Muda Pengawasan A. Widyopramono sebagai anggota komisaris dan Direktur Keuangan PT Semen Indonesia Darmawan Junaidi sebagai Direktur Keuangan.
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
21 Agustus 2017, 19:07
Gedung Bank Mandiri
Arief Kamaludin|KATADATA
Bank Mandiri

Pemegang saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menunjuk mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi A. Sarwono sebagai Komisaris Utama perusahaan. Hartadi menggantikan Wimboh Santoso yang meninggalkan jabatan tersebut lantaran terpilih sebagai Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Pemegang saham seri A Dwiwarna menunjuk Hartadi A. Sarwono (sebagai Komisaris Utama)," kata Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo saat Konferensi Pers usai menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/8). (Baca juga: Bank Mandiri Akan Akuisisi Dua Bank Filipina Tahun Depan)

Hartadi sudah lama malang melintang di dunia perbankan. Ia merupakan Deputi Gubernur BI periode 2003-2013. Pasca habis masa jabatan di BI, ia berkarier sebagai Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia periode 2013-2016. Adapun sejak 2016 hingga saat ini, pria kelahiran Jakarta, 10 Agustus 1952 tersebut menjabat sebagai Komisaris Utama Bank BNI.

Selain menetapkan Hartadi, pemegang saham juga memutuskan untuk menambah jajaran komisaris dengan menunjuk R. Widyopramono yang sebelumnya menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus periode 2013-2015, dan terakhir bertindak sebagai Jaksa Agung Muda Pengawasan periode 2015-2017.

"Adanya unsur penegak hukum untuk memberi masukan terkait pelaksanaan hukum di Bank Mandiri," ujar Kartika. (Baca juga: Bank Mandiri Pidanakan Debitur Nakal Penyebab Kredit Macet)

Selain itu, Bank Mandiri juga mengangkat Darmawan Junaidi sebagai Direktur Keuangan dan Treasury perseroan menggantikan Pahala N. Mansury yang diangkat sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia. Saat ini, Darmawan merupakan Direktur Keuangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.  

Meski begitu, Kartika menjelaskan, Darmawan bukanlah orang baru di Bank Mandiri. Sebelumnya, Darmawan sudah meniti karir di perseroan dengan menjabat sebagai SVP Treasury periode 2012-2014. Dilanjutkan sebagai Regional CEO dan Nusa Tenggara Bank Mandiri tahun 2015-2016 dan terakhir Head of Treasury Group periode Januari-Mei 2016.

Kartika menambahkan, dalam RUPS-LB juga dibahas mengenai persetujuan pemegang saham untuk melakukan stock split atau pemecahan saham. Menurut dia, aksi korporasi ini akan dilakukan dengan rasio 1:2 guna meningkatkan volume transaksi perdagangan.

Selama ini, saham Bank Mandiri banyak dimiliki oleh institusi pengelola dana asal luar negeri, sehingga transaksi harian kurang bergairah. Nilai kapitalisasi Bank Mandiri sendiri saat ini sekitar Rp 157 triliun.

"Dengan lot yang lebih murah, investor ritel domestik bisa masuk. Likuiditas harian Bank Mandiri bisa membaik. Sehingga transaksi harian tidak hanya didominasi asing," ucapnya. Targetnya, proses tersebut bisa selesai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada November 2017. 

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, stock split tentunya akan membuat harga saham emiten berkode saham BMRI tersebut lebih murah dan terjangkau oleh banyak investor. Namun, minat investor bergantung pada keyakinan terhadap kinerja saham Bank Mandiri. "Kembali ke investornya masing-masing seberapa yakin mereka terhadap kinerja saham BMRI," ucapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait