Inflasi Mei Tinggi, Darmin Tuding Importir Bawang Mainkan Harga

Desy Setyowati
2 Juni 2017, 15:15
Bawang Putih
Antara
Pedagang bawang putih di Pasar Lhokseumawe, Aceh, Jumat (12/5).

Inflasi tercatat mengalami peningkatan signifikan pada Mei lalu, yaitu mencapai 0,39 persen secara bulanan atau 4,33 persen secara tahunan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai tingkat inflasi tersebut terlalu tinggi.

"Inflasi 0,39 persen ya sedikit tinggi itu. Walaupun tidak tinggi sekali. Artinya untuk mencapai target di bawah 5 persen masih oke, tapi terlalu tinggi," kata dia di kantornya, Jakarta, Jumat (2/6). Tingkat inflasi ini melonjak dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,09 persen. (Baca: Menko Ekonomi Targetkan Harga Pangan Terkendali Selama Ramadan)

Sebetulnya, tingkat inflasi tersebut sudah tergambar dalam survei Bank Indonesia (BI). Mengacu pada survei pekan ketiga Mei, inflasi berkisar 0,3-0,4 persen. Penyebabnya, kenaikan beberapa harga pangan dan listrik. Namun, ketika itu, Darmin berharap tekanan inflasi mereda pada minggu keempat sehingga tingkat inflasi Mei tak setinggi itu.

Pada Mei lalu, bawang putih menjadi penyumbang utama inflasi yang besarannya mencapai 0,08 persen. Darmin tak kaget dengan hasil tersebut. Ia menuding ada importir besar--yang menguasai pasokan (supply)--melakukan praktik tidak benar, sehingga harganya melejit. (Baca juga: Kenaikan Harga Pangan Jelang Puasa Picu Inflasi Tinggi Mei 0,39%)

"Kalau bawang putih memang ada yang tidak benar. Itu harus dibereskan. Importirnya memang ada yang terlalu besar dan menguasai supply-nya. Biar Menteri Perdagangan-lah yang berurusan dengan importir itu," ujar dia.

Sedangkan untuk daging ayam, ia justru memantau sudah ada penurunan harga dari sebelum puasa. Sekalipun ada kenaikkan, nilainya masih terbilang kecil. Pada Mei lalu, harga telur ayam ras menyumbang inflasi 0,05 persen dan daging ayam 0,04 persen. "Tapi sebenarnya dia untuk mencapai angka yang masuk akal supaya jangan terlalu rendah. Kalau terlalu rendah, peternaknya bisa kesulitan," ujar dia.

Meski tingkat inflasi di atas ekspektasinya, namun Darmin meyakini inflasi tahun ini tetap sesuai target yaitu 3-5 persen. "Ya seharusnya di bawah 5 persen, agak ke arah 4 persen lah, kalau tahun lalu kan sekitar 4 persen," kata dia.

Bila dibandingkan dengan inflasi jelang Ramadan tahun lalu, tingkat inflasi jelang Ramadan tahun ini terbilang tinggi. Pada Mei tahun lalu, inflasi hanya 0,24 persen. Meski begitu, inflasi masih lebih rendah dibanding periode jelang Ramadan 2015 dan 2016.

Mengacu pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jelang Ramadan 2015 yaitu pada Mei, inflasi tercatat 0,5 persen dan Juni 0,54 persen. Sedangkan jelang Ramadan 2014, yaitu pada Juni, inflasinya mencapai 0,43 persen dan Juli 0,93 persen.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait