Indonesia dan Uni Eropa Bahas Isu Sawit di Perundingan Dagang Ketiga

Selama ini sawit Indonesia kerap menjadi obyek kampanye hitam di Eropa. Selain itu, sawit Indonesia juga dikenai bea masuk tambahan di Benua Biru.
Michael Reily
Oleh Michael Reily
14 September 2017, 11:35
Bendera Uni Eropa
Katadata

Indonesia dan Uni Eropa membahas isu sawit pada perundingan putaran ketiga perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kerangka konsep dan akses pasar juga dibahas untuk menyelesaikan hambatan perdagangan.

"Pada putaran ketiga, kedua pihak membahas secara mendalam isu palm oil pada sesi khusus sebagai upaya mencari solusi yang seimbang dan saling menguntungkan," kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo dalam keterangan resmi dari Belgia, Kamis (14/9).

Dalam Revised General Disclosure Document (RGDD) Komisi Eropa, Indonesia masuk ke dalam salah satu negara yang terkena tindakan anti-dumping yang diterapkan Uni-Eropa. Artinya, produk sawit Indonesia dikenakan bea masuk yang lebih tinggi dibanding negara lain.

(Baca juga: Wamen ESDM Kunjungi 4 Negara Eropa untuk Tingkatkan Investasi)

Iman menjelaskan, pemerintah menyayangkan kebijakan itu karena menghambat produk minyak kelapa sawit di pasar Benua Biru. Pihak Uni-Eropa, menurut Iman, juga menyampaikan keprihatinannya terhadap isu minyak kelapa sawit yang makin mencuat. Apalagi, semakin marak kampanye hitam terhadap produk ekspor utama Indonesia tersebut.

Perundingan juga menyoroti akses pasar sebagai prioritas. Sehingga proses perundingan tidak terhambat oleh isu-isu yang terkait kebijakan pemerintah. "Kami mengupayakan finalisasi modalitas maupun parameter sebagai pedoman dalam perundingan perdagangan barang, jasa, dan investasi," ujar Iman.

Kedua pihak juga membahas finalisasi konsep perundingan seluruh isu perundingan supaya kesepakatan cepat terjadi. Selain itu, IEU-CEPA akan mencakup hak kekayaan intelektual, persaingan usaha, perdagangan dan pembangunan berkelanjutan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), perdagangan barang dan jasa pemerintah, serta kerja sama dan pengembangan kapasitas.

(Baca juga:  Global Tidak Pasti, BI Prediksi Kurs Rp 13.420 per Dolar AS Akhir 2017)

Sementara, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani meminta pemerintah untuk segera menyelesaikan perundingan dengan Uni Eropa karena potensi pasarnya sangat besar.

Menurut data IndexMundi, Indonesia merupakan negara eksportir minyak kelapa sawit terbesar dunia. Total produksi kelapa sawit sebesar 25,75 juta ton pada 2016. Kelapa sawit juga menyumbang Rp 239,4 triliun devisa negara.

"Kita sangat memerlukan penyelesaian perundingan perdagangan dengan Eropa untuk meningkatkan pasar," tuturnya.

Tahun lalu, Uni-Eropa adalah tujuan ekspor dan asal impor nonmigas terbesar ke-3 bagi Indonesia dengan nilai masing-masing sebesar USD$ 14,4 miliar dan US$ 10,7 miliar. Total perdagangan Indonesia dengan Uni-Eropa mencapai US$ 25,2 miliar.

(Baca juga: Indonesia Ingin Jadi Tujuan Investasi, Bukan Hanya Pasar Bagi ASEAN)

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir, neraca perdagangan kedua ekonomi menunjukkan surplus bagi Indonesia. Nilai investasi Uni-Eropa di Indonesia juga mencapai US$ 2,6 miliar.

Reporter: Michael Reily
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait