Empat Unicorn Dorong Pertumbuhan Tiga Sektor Industri Indonesia

Indonesia memiliki tantangan tersendiri terkait infrastruktur karena daerahnya yang sangat luas dan kondisi geografisnya yang berbentuk kepulauan.
Desy Setyowati
21 Januari 2019, 20:54
Next Indonesia Unicorn (NextICorn)
Kominfo
Empat CEO Unicorn saat pertemuan The 1st Next Indonesia Unicorn (NextICorn) International Summit di Bali, 9/5.

Indonesia memiliki empat unicorn yakni Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), teknologi digital yang dibawa keempat unicorn ini menjadi berkah bagi sektor transportasi, logistik, dan pariwisata.

Unicorn merupakan sebutan bagi startup bervaluasi lebih dari US$ 1 miliar. "Semua unicorn Indonesia saat ini adalah perusahaan yang erat kaitannya dengan bisnis transportasi dan logistik," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo Ismail dalam siaran pers, Sabtu (19/1) lalu.

Ia mencontohkan, Gojek merekrut banyak mitra pengemudi baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Lalu, e-commerce Bukalapak dan Tokopedia membutuhkan jasa logistik untuk semua barang yang ditransaksikan di platform mereka. Begitu pun dengan Traveloka yang menyediakan tiket pesawat, bus, hingga kereta api.

Begitu pun dengan sektor pariwisata yang juta mendapat berkah. "Traveloka memberi kemudahan untuk bepergian bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di negara kepulauan," kata dia.

Advertisement

(Baca: Kominfo Siapkan Rp 75 Miliar untuk Dukung Pemilu 2019)

Sejalan dengan hal itu, ia mengundang investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Terlebih lagi, Indonesia memiliki empat unicorn yang juga memberi dampak positif ke sektor lainnya. Hal ini ia sampaikan dalam Forum Regional Digital Leaders Panel – Accelerating ASEAN Digital Integration di Singapura, Selasa (15/01) lalu.

"Berdasarkan riset Google dan Temasek, Indonesia diprediksi akan mempunyai market size ekonomi digital yang mencapai US$ 100 miliar pad 2025. Sekarang adalah waktunya untuk datang ke Indonesia," kata Ismail.

Ia menegaskan, bahwa pemerintah berkomitmen untuk mempermudah pebisnis beroperasi di Tanah Air. Salah satunya, pemerintah membangun jaringan kabel serat optik Palapa Ring supaya seluruh masyarakat Indonesia bisa menggunakan internet. Targetnya, Palapa Ring selesai dibangun pada akhir Semester I-2019.

Dengan begitu, infrastruktur bagi perkembangan ekonomi digital bisa terbangun. "Indonesia memiliki tantangan tersendiri terkait infrastruktur karena daerahnya yang sangat luas dan kondisi geografisnya yang berbentuk kepulauan,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah mengubah pendekatan. Pertama, mengurangi peraturan (less regulation). “Pemerintah berupaya mendorong ekonomi digital dengan menggeser perannya, tidak hanya menjadi regulator namun juga fasilitator dan bahkan akeselerator," kat dia.

(Baca: Sri Mulyani Uji Coba Palapa Ring Tengah untuk Layanan Pajak)

Lalu, dengan pendekatan bottom up oleh sektor swasta.  Sebab menurutnya, pendekatan top down dari pemerintah tidak terlalu efektif karena belum tentu menyelesaikan masalah di industri. "Fungsi pemerintah yang efisien adalah menjadi fasilitator dan akselerator bagi industri dan pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya.

Adapun diskusi panel ini dihadiri pula oleh perwakilan pejabat dari negara-negara ASEAN, seperti Director dari Internet of Things (IoT) and Digital Innovation Institute, Digital Economy Promotion Agency Thailand, Monsak Socharoentum serta Head of ICT Industry Benchmarking and Promotions, DICT The Phillippines, Emmy Delfin.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait