Rudiantara: Valuasi 4 Unicorn sudah Melebihi 4 Operator Telekomunikasi

Pertumbuhan bisnis digital dianggap lebih pesat ketimbang sektor industri lain.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
9 Mei 2018, 09:24
Aplikasi Nasional
Katadata/Pingit Aria
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (berdiri) menjelaskan dukungan pemerintah terhadap pengembang aplikasi nasional dalam Katadata Forum 2018 di Djakarta Theater, Selasa (8/5).

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengklaim valuasi atau nilai dari empat unicorn Indonesia telah melebihi empat perusahaan operator telekomunikasi. Menurut dia, itu adalah pertanda bahwa perusahaan rintisan (startup) di bidang digital tumbuh lebih cepat dibanding segmen bisnis lain yang sudah ada.

Adapun empat perusahaan startup yang valuasinya lebih dari US$ 1 miliar itu adalah Go-Jek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak. Sedangkan operator telekomunikasi yang dimaksud seperti Indosat Ooredoo, XL Axiata, Tri Indonesia, dan Smartfren. Sementara Telkomsel bukan tak mungkin akan disusul dalam waktu dekat.

"Padahal operator sudah ada sejak 20-30 tahun lalu, tapi valuasinya kalah dibanding empat unicorn yang baru ini," kata dia dalam Katadata Forum 2018 bertajuk 'Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital' di Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (8/5).

(Baca juga: BKPM Longgarkan 2 Aturan Investasi Digital)

Umumnya, startup masih tergolong semi-enterprise, sehingga nilai valuasinya ditentukan berdasarkan persetujuan antara pendiri dengan investor. Tidak ada rumus khusus untuk menentukan valuasi, namun bisa dicontohkan dengan perhitungan modal awal dan suntikan dana investor.

Berkaca dari kondisi tersebut, ia kian optimistis bahwa ekonomi digital di Indonesia bisa mencapai US$ 130 miliar atau setara Rp 1.820 triliun pada 2020, dengan asumsi kurs Rp 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tersebut mencapai 11% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di 2020.

Supaya proyeksi itu bisa terwujud, kata Rudiantara, pemerintah harus konsisten menetapkan kebijakan yang fleksibel kepada pelaku bisnis dan investor. Terlebih lagi, dinamika di sektor ini begitu cepat sehingga kebijakan yang terlalu ketat bisa tidak relevan. Oleh karenanya, pemerintah harus berperan sebagai akselerator dan fasilitator, selain menjadi regulator.

(Baca juga: Targetkan Tambahan Unicorn, Kominfo Gelar NextICorn di Bali)

Reporter: Desy Setyowati

Video Pilihan

Artikel Terkait