Mengenal Tari Seudati dari Aceh, Tarian Tanpa Musik Pengiring

Tari Seudati berasal dari provinsi Aceh. Tarian tradisional ini menggunakan pola lantai simetris atau tegak lurus. Seudati menjadi tarian tradisional untuk menyebarkan agama Islam.
Dwi Latifatul Fajri
17 November 2021, 12:12
Tari Seudati
ANTARA FOTO/ Irwansyah Putra/foc.

Indonesia memiliki tarian tradisional dari berbagai daerah. Sekarang ini tarian daerah tersebut ditampilkan untuk seni pertunjukan lokal dan mancanegara. Contohnya, tari Seudati berasal dari Kabupaten Pidie dan tersebar di Aceh Utara, Bireuen, hingga Aceh Timur.

Tarian ini berkembang di Aceh terutama bagian pesisir. Tari Seudati ini terdiri dari 8 orang penari laki-laki. Berikut pembagian dan penyebutan penari Seudati:

  • Satu orang penari utama yang disebut satu syeh.
  • Satu orang pembantu syeh.
  • Dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeetwie.
  • Satu orang pembantu di belakang yang disebut peet bak.
  • Tiga orang pembantu biasa.
  • Dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.

Pola Lantai Tari Seudati

Dalam sebuah tarian, pola lantai digunakan untuk posisi berdiri, bergerak, dan diamnya penari. Penari yang terdiri dari penari tunggal dan kelompok akan membentuk pola simetri, asimetri, lingkaran, lengkung, dan garis lurus. Beberapa tarian menggunakan pola lantai bervariasi.

Pola lantai tari Seudati memakai garis vertikal atau lurus. Tari asal Aceh ini dilakukan berkelompok dan dimainkan 2 orang atau lebih, sehingga memakai pola simetris atau garis lurus. Pola lantai dalam Seudati disebut konfigurasi.

Mengutip dari buku "Seudati di Aceh" karya Essi Hermaliza, Seudati ditampilkan dalam beberapa babakan. Pola lantai dan ragam gerakan tari sederhana dan bisa dipaca oleh penonton.

Ragam gerak disusun dari berbagai rangkaian gerakan. Ragam gerak ini bisa melangkah maju mundur, kanan ke kiri, ayunan tangan, tepukan dada, dan petikan jari.

Ragam gerakan tarian Seudati yaitu:

  1. Nyap
    Merupakan gerakan menekukkan lutut sambil merendahkan badan ketika langkah 3.
  2. Reng
    Gerakan memutar sambil menjentikkan dari dalam posisi kedua. Kemudian tangan diangkat ke depan dan gerakan tangan memetik jari.
  3. Asset
    Ragam gerak tarian yang menggerakan kepala ke arah kiri dan kanan.
  4. Kureep
    Jari memeti atau ketrip jaroe.
  5. Nyeet
    Gerak tarian ini mirip gerakan nyap. Tetapi pada gerakan Nyeet, kaki sedikit ditekuk ketika melangkah.
  6. Dheeb
    Bagian tangan agak dikepalkan mengikuti irama lagu.
  7. Gaudham
    Gerakan menghentakan kaki.
  8. Kucheek
    Gerakan badan melangkah ke depan, belakang, samping kiri, dan kanan.
  9. Gerak talu
    Gerakan silang-silang.

Properti Tari Seudati

Properti tarian Seudati terdiri dari busana tradisional tari, aksesoris, alat musik tradisional, dan lagu pengiring tari. Penari memakai pakaian warna putih yang terdiri dari sarung, tangkulok dipakai di kepala, dan rencong yang disematkan di pinggang. Pakaian ini memberi identitas dan karakter budaya penari.

Pakaian Penari Seudati

  • Tangkulok atau Tutup Kepala

Tangkulok adalah penutup kepala khas Aceh yang dinamakan tangkulok palet. Penutup kepala ini bahan dasarnya dari kain yang dilipat-lipat menjadi sebuah topi. Bagian tengah tangkulok yang dijahit diberi karton supaya bisa berdiri tegak dan bentuknya seperti lidah.

  • Bajee Seudati

Bajee adalah kaos putih lengan panjang dan celana panjang putih. Kaos yang dipakai penari ketat dan melekat di tubuh. Kaos yang ketat ini supaya tidak menimbulkan suara nyaring ketika penari menepukkan kedua tangan di dada.

Sedangkan bagian celana panjang warna putih, lebarnya 15 cm. Celana yang terlalu lebar bisa mengganggu kecepatan penari ketika bergerak. Warna putih pada pakaian melambangkan semangat kepahlawanan.

Selain itu warna putih dipakai untuk menguatkan identitas agama Islam dan simbol perlawanan. Menurut sejarah, dahulu umat muslim atau kaum Padri memakai pakaian putih untuk perlawanan pemerintah Belanda. Warna putih menggambarkan perjuangan umat Islam untuk mengalahkan penjajahan.

  • Songket

Songket adalah properti tari Seudati yang berfungsi menyangkutkan rencong. Songket seperti sarung namun panjangnya di atas lutut. Songket menjadi kain tradisional Sumatera dan identitas laki-laki.

  • Kain Ikat Pinggang

Ikat Pinggang dipakai untuk menyelipkan rencong dan mengikat kain songket agar tidak mudah lepas. Ikat pinggang ini berbahan dasar kain katun yang warnanya bisa merah atau kuning. Warna kuning menyimbolkan kebesaran dan kebanggan para raja. Sedang kan merah adalah simbol pejuang pemberani dan kesatria.

  • Rencong

Rencong adalah senjata tajam tradisional khas Aceh. Senjata ini digunakan dalam peperangan dan aksesoris busana. Rencong berupa senjata tajam seperti kapak, pisau, dan alat perang.

Senjata ini diselipkan di pinggang dengan gagang mencuat ke atas dan miring ke belakang. Rencong dipasang di bagian depan sehingga dilihat lebih jelas. Senjata ini menjadi simbol bahwa orang Aceh berterus terang dan tidak suka berkhianat.

Syair Sebagai Pengiring Tari

Salah satu keunikan tari Seudati adalah tidak memakai alat musik seperti tarian lain. Pengiring tari hanyalah suara petikan jari, hentakan kaki, tepukan, dan syair. Awalnya tari Seudati digunakan sebagai dakwah dan mengajak penonton untuk memahami agama Islam.

Tarian ini menceritakan berbagai macam masalah yang dapat diselesaikan secara bersama-sama. Mengutip dari laman isbiaceh.ac.id, tarian Seudati disebut ratoh atau ratoih. Artinya menceritakan dan diperagakan untuk bersuka ria ketika musim panen tiba.

Lantunan syair yang diceritakan disebut aneuk syahi. Syair ini berisi tema kehidupan sehari-hari seperti tema-tema kehidupan, lelucon, ajaran agama, sosialisasi, sampai sindiran terhadap pemerintah karena kondisi sosial tertentu.

Makna Tari Seudati

Tari Seudati adalah tarian untuk mengembangkan ajaran agama Islam. Tarian ini berasal dari kata Syahadat yang artinya saksi atau bersaksi pengakuan tiada Tuhan selain Alah, dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Ada juga yang menjelaskan kata sedati, berasal dari kata seurasi yang artinya harmonis atau kompak. Tarian tradisional ini berkembang ketika agama Islam masuk di Aceh. Seudati masuk dalam tari Perang karena pengiring syairnya.

Dahulu syair yang dibawakan menjelaskan tentang semangat pemuda Aceh untuk bangkit dan melawan penjajah. Tarian ini sempat dilarang ditampilkan ketika penjajahan Belanda. Isi pesan syair Seudati berisi pembakar semangat dan sejarah Aceh. Kemudian isi syair disesuaikan dengan perkembangan sekarang.

Editor: Safrezi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait