Pemerintah Bentuk Sistem Pengawasan Perdagangan Alternatif

“Kami dapat melakukan pengawasan transaksi SPA dengan cepat, akurat, dan tepat waktu terhadap pelaku usaha perdagangan berjangka komoditi,“ kata Bahrul
Michael Reily
Oleh Michael Reily
31 Oktober 2017, 21:28
Bappebti
www.bapebti.go.id
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kemendag, Bachrul Chairi meresmikan Sistem Pengawasan Tunggal Transaksi Sistem Perdagangan Alternatif (SPTT-SPA) di Jakarta, Selasa (31/10)

Kementerian Perdagangan meresmikan Sistem Pengawasan Tunggal Transaksi Sistem Perdagangan Alternatif (SPTT-SPA). Sistem ini bertujuan untuk mengantisipasi pratik curang dan penyimpangan dalam transaksi sistem perdagangan alternatif (SPA) atau  sistem perdagangan yang berkaitan dengan kontrak derivatif di luar bursa berjangka.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Bachrul Chairi mengatakan perkembangan industri berjangka di Indonesia memiliki risiko tinggi dan transaksi yang kompleks. SPTT-SPA terhubung dengan sistem perdagangan  yang digunakan penyelenggara SPA, sehingga semua transaksi nasabah dapat diawasi pelaporannya ke Bursa Berjangka dan pendaftarannya ke lembaga kliring.

“Kami dapat melakukan pengawasan transaksi SPA dengan lebih cepat, akurat, dan tepat waktu terhadap pelaku usaha perdagangan berjangka komoditi,“ kata Bahrul dalam keterangan resminya, Selasa (31/10).

Pada tahap awal, implementasi SPTT-SPA Bappebti hanya bisa digunakan untuk mengawasi transaksi yang sudah terjadi (post trade). Penyelarasan masih dilakukan karena pedagang penyelenggara memiliki sistem perdagangan berbeda untuk mengeksekusi transaksi, menyampaikan informasi kepada nasabah, serta melakukan pelaporan kepada bursa berjangka dan Bappebti.

(Baca: Tak Hanya KPK, KPPU dan DPR Turut Kawal Lelang Gula Rafinasi)

Basis data akan diolah untuk laporan sesuai kebutuhan pengawasan. “Dalam transaksi SPA, semua yang tersimpan di dalam masing-masing server pedagang penyelenggara SPA bisa ditarik oleh SPTT-SPA Bappebti secara periodik setiap hari secara periodik,” kata Bachrul.

Implementasi SPTT-SPA Bappebti saat ini sudah terkoneksi dengan 4 SPA yaitu, Meta Trade (MT4), Trade Pro, PRO-I dan I-Exchange. Untuk sistem perdagangan MT4 telah digunakan oleh 49 pialang berjangka pada 13 klaster pedagang SPA atau mencapai 81 persen. Untuk sistem perdagangan Trade Pro telah digunakan oleh 5 pialang berjangka pada 1 klaster pedagang SPA atau 9 persen.

Sedangkan sistem perdagangan PRO-I digunakan 4 pialang berjangka pada 1 klaster Pedagang SPA atau mencapai 7 persen. Selanjutnya, sistem perdagangan I-Exchange digunakan 1 pialang berjangka pada 1 klaster pedagang SPA atau sebanyak 3 persen.

Menurut Bachrul, manfaat yang bisa diperoleh melalui implementasi SPTT-SPA adalah kemudahan akses data secara tepat waktu. Sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas kerja karena ditunjang ketersediaan data dan informasi yang lengkap dan terkini.

SPPT-PTA juga mampu meningkatkan efisiensi biaya dan waktu. Dalam jangka panjang, sistem ini dapat menekan biaya input data serta biaya penyimpanan dokumen yang menyertai proses pelaporan dan pengawasan transaksi. Selain itu, SPPT-PTA juga dapat meningkatkan kualitas data karena terimplementasinya proses kerja yang efektif, efisien, dan terukur pencapaiannya.

Basis data pengawasan pada SPPT-PTA juga dapat menjadi data dukung dalam melakukan pengawasan dan pengambilan keputusan pimpinan di Bappebti. Di samping kecepatan, sistem ini mampu menekan kesalahan, meningkatkan kontrol data, menyediakan akses pemutakhiran, serta mampu memilah jenis informasi apa saja yang dibutuhkan Bappebti saat melakukan pengawasan.

Nantinya, SPPTA-PTA akan menciptakan proses yang transparan, karena tersedianya fitur yang memudahkan Bappebti untuk melakukan pengawasan transaksi.

Berdasarkan data Bapebti, perkembangan transaksi perdagangan berjangka komoditi dalam periode Januari–September 2017 mencapai 5.063.221 lot, sebesar 4.134.628 lot atau 81,7 persen diantaranya adalah transaksi SPA. Sementara transaksi multilateral hanya sebesar 928,593 lot atau 18,3 persen.

Video Pilihan

Artikel Terkait