Pertamina Akan Pasok Kondensat ke Iran

Pertamina telah melakukan penjajakan dengan Iran beberapa waktu lalu.
Safrezi Fitra
26 Februari 2016, 20:28
Pertamina
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA – Beberapa hari lalu delegasi Iran menyambangi Indonesia hendak melakukan kerjasama di sektor migas dan kelistrikan. Di sektor migas, selain menawarkan pengelolaan 29 blok migas kepada perusahaan migas Indonesia, Iran juga bersedia memasok kebutuhan minyak mentah (crude) dan LPG (liquefied petroleum gas) untuk kebutuhan dalam negeri.

Meski kesepakatannya belum final, Indonesia seakan tidak mau hanya menjadi pembeli produk Iran. Perusahaan minyak negara PT Pertamina (Persero) juga ingin bisa menjual produk yang dihasilkannya ke Iran. Salah satu produk yang akan dipasok Pertamina ke negara tersebut adalah kondensat.

Vice President Communication Pertamina Wianda Poesponegoro mengatakan ada potensi kerjasama saling pasok produk migas antara Indonesia dan Iran. Makanya Pertamina pun melakukan penjajakan terkait potensi tersebut. (Baca: Iran Tawarkan 29 Blok Minyak ke Indonesia)

Kedatangan delegasi Iran ini sebenarnya melakukan bilateral dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Namun, pertemuan tersebut juga dihadiri perusahaan minyak dan gas dari kedua negara. Dari Indonesia ada Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Sedangkan Iran membawa lima perusahaan migasnya.

“Pertemuan masih membahas (kerjasama) dari aspek legal, komersial, finansial, dan sosial yang harus kami jajaki untuk bisa disepakati,” ujar Wianda. (Baca: Andy Noorsman Sommeng: Minyak Kita Diatur Singapura)

Selain menawarkan untuk memasok kondensat, dengan kerjasama ini Pertamina juga bisa mendapatkan pasokan minyak mentah dengan harga yang kompetitif. Minyak mentah ini dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan produksi kilang minyak Pertamina.

Saat ini Pertamina memiliki enam kilang yang mampu memproduksi sekitar 800 ribu barel per hari (bph). Sementara bahan baku minyak yang bisa dipasok dari dalam negeri hanya setengahnya. Pertamina masih harus mengimpor sekitar 400 ribu bph. Kebutuhan ini akan meningkat setelah revitalisasi kilang Pertamina rampung sekitar lima tahun lagi. (Baca: Ditawari Minyak Iran, Saka Energi Lebih Tertarik di Dalam Negeri)

Selain pasokan minyak mentah, ada 10 peluang investasi dari hasil kerjasama tersebut. Iran punya rencana untuk membangun kilang minyak di Indonesia. Negara ini juga tertarik untuk investasi membangun pembangkit listrik tenaga air. Sedangkan Indonesia akan berencana membangun pabrik pupuk di Iran.

Sebelumnya Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan pertemuan bilateral dengan Iran sudah tujuh kali digelar. Bahkan, pemerintah Indonesia sudah mengunjungi Iran sebanyak tiga kali. Jadi, kerjasama di sektor energi dengan Iran sebenarnya sudah dibahas lama namun sempat terkendala sanksi internasional. Saat ini kerjasamanya sudah mulai menemui titik terang, dengan dicabut sanksi ekonomi Iran.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait