JK Optimistis ke Depan Indonesia Setop Impor BBM

?Penambahan kapasitas kilang yang telah dan akan dilaksanakan Pertamina, kami optimistis Indonesia dapat terbebas sama sekali dari impor BBM?
Safrezi Fitra
26 November 2015, 20:08
bbm
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Hari ini Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bersama jajaran Menteri Kabinet Kerja meresmikan pengoperasian proyek Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Kilang Cilacap. Proyek ini akan menambah kapasitas pengolahan Kilang Cilacap dari 350 ribu barel per hari (bph) menjadi 412 ribu bph.

Saat peresmian peresmian tersebut, JK menyatakan bahwa ke depan Indonesia tidak akan lagi mengimpor bahan bakar minyak (BBM). Saat ini saja, dengan beroperasinya RFCC Kilang Cilacap dan Kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) mampu menekan impor BBM hingga 30 persen.

“Penambahan kapasitas kilang yang telah dan akan dilaksanakan Pertamina, kami optimistis Indonesia dapat terbebas sama sekali dari impor BBM,” kata JK dalam keterangan resminya, Kamis (26/11). (Baca: Tak Perlu Impor, Tahun Depan Solar Bisa Surplus 400 Ribu Barel)

Proyek RFCC Kilang Cilacap senilai US$ 846,89 juta akan mengolah produk-produk residu yang selama ini dijual murah, menjadi produk bernilai tinggi. Beberapa produk yang akan dihasilkan adalah BBM dengan angka oktan yang tinggi (HOMC), LPG (liquid petroleum gas), dan produk baru petrokimia.

Advertisement

RFCC ini nantinya  mengolah bahan baku berupa LSWR (low sulfur waxy residue) sebanyak 62.000 barel per hari (bph), yang dihasilkan dari Crude Distillation Unit (CDU) II. RFCC memiliki 21 unit equipment yang telah sukses beroperasi pada 30 September 2015. Pada saat beroperasi 100 persen, RFCC dapat memproduksi HOMC sekitar 37.000 barel per hari, 1.066 ton per hari LPG, dan 430 ton per hari propylene.  

Dari produksi HOMC tersebut, sebagian besarnya diproses lebih lanjut untuk diproduksikan menjadi bensin Premium. Produksi Premium akan meningkat dari 62 ribu bph, menjadi 91 bph. Peningkatan produksi ini bisa menekan impor produk tersebut. (Baca: Saudi Aramco Siap Pasok 70 Persen Kebutuhan Minyak Kilang Cilacap)

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengklaim banyak dampak berganda (multiplier effect) yang dapat dirasakan oleh masyarakat dari setiap proyek yang dilaksanakan Pertamina. Proyek RFCC Cilacap mampu membuka 8.700 lapangan pekerjaan untuk selama proyek, dan 400 saat mulai beroperasi. Bahkan tidak kurang dari 16.000 orang merasakan manfaat selama proyek berlangsung.

Selain proyek RFCC yang sudah selesai, Pertamina juga sedang mengerjakan proyek lanjutan, yakni proyek Langit Biru Cilacap. “Apabila proyek ini tuntas maka Kilang unit IV Cilacap akan menghasilkan gasoline RON 92 (Pertamax) dengan spesifikasi menuju Euro IV yang lebih ramah lingkungan. Dengan demikian, impor HOMC juga dapat ditekan dengan signifikan,” kata Dwi.

Saat ini Pertamina telah menetapkan konsorsium JGC Corporation, JGC Indonesia, dan Encona Inti Industri, sebagai Kontraktor EPC Proyek Langit Biru Cilacap. Dia menargetkan proyek senilai US$ 392 juta ini bisa selesai dalam 34 bulan ke depan. (Baca: Pemerintah Siapkan Lahan untuk Bangun 4 Kilang Minyak Baru)

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait