Kaji Ulang Pengembangan Blom Masela, ESDM Pakai Konsultan Independen

"Menteri ESDM meminta SKK Migas dan Dirjen Migas mencari konsultan independen dengan reputasi world class yang dapat memberikan rekomendasi profesional"
Safrezi Fitra
7 Oktober 2015, 12:20
ESDM KATADATA | Arief Kamaludin
ESDM KATADATA | Arief Kamaludin
ESDM KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menggandeng konsultan independen melakukan kajian, sebagai pertimbangan untuk memutuskan proyek Blok Masela. Tujuannya untuk mendapatkan keputusan yang terbaik terkait revisi rencana pengembangan (PoD) I Blok Masela.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan permintaan menggunakan konsultan independen tersebut langsung dari Menteri ESDM Sudirman Said. Sudirman meminta kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) dan Dirjen migas untuk mencari konsultan independen yang berkelas internasional.

"Menteri ESDM meminta SKK Migas dan Dirjen Migas mencari konsultan independen dengan reputasi world class yang dapat memberikan rekomendasi profesional," kata dia kepada Katadata, Rabu (7/10).

(Baca: Pemerintah Diminta Utamakan Efek Berantai di Blok Masela)

Kajian ini terkait revisi PoD I yang diajukan Inpex untuk Blok Masela. Inpex ingin menambah kapasitas fasilitas gas Blok Masela dengan skema pengolahan gas cair terapung (FLNG), dari 2,5 juta metrik ton per tahun (MTPA), menjadi 7,5 juta MTPA. Penambahan kapasitas ini terkait ditemukannya cadangan gas baru di blok migas tersebut dari 6,05 triliun kaki kubik (TCF) menjadi 10,73 TCF.

(Baca: Sudirman Said Lebih Percaya Hitungan SKK Migas soal Blok Masela)

“Kalau (FLNG) dipakai untuk 2,5 MTPA kurang ekonomis. Setelah dikaji lagi, Inpex mengusulkan FLNG ukuran 7,5 MTPA,” ujar Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.

SKK Migas sebenarnya telah memberikan rekomendasi kepada Menteri ESDM pada 10 September lalu. Dalam rekomendasinya, SKK Migas menyetujui revisi (POD) I Lapangan Abadi Blok Masela yang diajukan oleh Inpex sebagai operator. Namun, rekomendasi ini belum cukup kuat, hingga Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli meminta Kementerian ESDM mengkaji ulang rekomendasi tersebut. Makanya Sudirman memutuskan untuk menggunakan konsultan independen.

Menurut Rizal menggunakan pipa di darat akan lebih murah dibandingkan skema FLNG. Berbeda dengan penjelasan SKK Migas, yang menyebut FLNG lebih unggul dibandingkan pipa. Kementerian ESDM memiliki batas waktu hingga 10 Oktober 2015 untuk memutuskan revisi PoD Blok Masela. 

Sekadar informasi, PoD Blok Masela sebenarnya telah disetujui pemerintah pada Desember 2010, yaitu 12 tahun setelah kontrak pengelolaan blok tersebut diperoleh Inpex Masela tahun 1998. Dalam PoD itu, Blok Masela dijadwalkan mulai berproduksi (on stream) tahun 2018 dengan volume produksi 355 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dan produksi kondensat sebanyak 8.400 barel per hari (BPH).

Blok Masela dengan operator PT Inpex Masela Limited memiliki luas area lebih kurang 4.291,35 km². Blok migas ini terletak di Laut Arafura, sekitar 800 km sebelah timur Kupang, Nusa Tenggara Timur atau lebih kurang 400 km di utara kota Darwin, Australia, dengan kedalaman laut 300-1000 meter. 

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait