Perusahaan Chairul Tanjung akan Akuisisi 73,71% Saham Bank Harda

Mega Corpora dan Hakimputra Perkasa sudah meneken perjanjian Pengikatan Jual-Beli Saham pada 16 Oktober 2020.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
2 November 2020, 17:52
chairul tanjung, ct, ct akuisisi bank harda, bank harda, saham bank harda, bank harda, bank mega, mega corpora, akuisisi bank kecil, ct akuisisi bank kecil, ct caplok bank harda, saham, pasar modal, BBHI
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Sejumlah karyawan mengamati layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia

Perusahaan milik pebisnis Chairul Tanjung, PT Mega Corpora berencana membeli 3,08 miliar unit saham PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI). Jumlah saham ini setara dengan 73,71% total saham yang ditempatkan dan disetor penuh Bank Harda. Mega Corpora akan membeli seluruh saham Bank Harda yang dipegang PT Hakimputra Perkasa.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh manajemen Bank Harda, Senin (2/11), Mega Corpora dan Hakimputra Perkasa sudah meneken perjanjian Pengikatan Jual-Beli Saham pada 16 Oktober 2020. Adapun, Mega Corpora yang merupakan pengendali PT Bank Mega Tbk, saat ini belum memiliki saham Bank Harda.

"Tujuan pengendalian untuk mendukung kebijakan perbankan Indonesia dan mengembangkan Bank Harda untuk menjadi bank sesuai dengan ketentuan yang berlaku baik dari segi operasional maupun permodalan," seperti dikutip dari keterbukaan informasi.

Dalam rencana pengambilalihan saham Bank Harda ini, baik Hakimputra dan Mega Corpora telah menyiapkan dokumen rencana ini. Bank Harda akan melaksanakan rapat umum pemegang saham luar biasa untuk menyetujui pengambilalihan saham ini.

Setelah itu, Bank Harda akan mengajukan izin pengambilalihan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas di industri perbankan. Pengambilalihan pun akan dilakukan melalui transaksi di pasar negosiasi di Bursa Efek Indonesia setelah diterimanya izin dari OJK tersebut.

Rencana ini dilakukan melalui akuisisi saham yang sudah dikeluarkan oleh Bank Harda. Dengan transaksi ini, pemegang saham pengendali Bank Harda akan beralih dari Hakimputra kepada Mega Corpora. Pengambilalihan Bank Harda ini akan dilaksanakan dengan penandatangan akta pengambilalihan yang masih belum dijelaskan target waktunya.

Nantinya, Mega Corpora akan melaksanakan penawaran tender wajib (mandatory tender offer) kepada pemegang saham lainnya. Ini akan dilakukan setelah pelaksanaan akuisisi mendapatkan izin dari OJK. Harga dari tender offer tersebut akan ditetapkan dengan menggunakan harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian di BEI selama 90 hari kalender sebelum tanggal pengumuman ini.

"Sehingga harga periode 4 Agustus 2020 sampai dengan 1 November 2020, yakni sebesar Rp 160,26 per saham," seperti dikutip dari keterbukaan informasi.

Adapun, setelah diumumkan pengambilalihan saham ini, saham Bank Harda di pasar saham pada perdagangan Selasa (2/11), ditutup meroket hingga 5,77% menjadi Rp 165 per saham. bahkan, saham Bank Harda sempat menguat hingga 17,9% menyentuh Rp 184 per saham.

Tanggapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan konsolidasi perbankan ini merupakan upaya agar perbankan lebih kompetitif. Konsolidasi bisa menawarkan produk yang bervariasi dan murah tapi memiliki kualitas yang bagus. Sehingga, bank memberikan pelayanan yang nyaman kepada nasabah dengan harga murah.

"Itu semua produknya harus didukung dengan teknologi, tanpa itu akan sulit bersaing. Sehingga, untuk bisa bersaing ini tidak mungkin skalanya kecil. kalau skala kecil pasti tidak kompetitif," kata Wimboh dalam konferensi pers secara virtual, Senin (2/11).

Salah satu upaya OJK untuk konsolidasi perbankan dan mendorong pemanfaatan teknologi di industri perbankan, dengan mengeluarkan Peraturan OJK Nomor 12. Salah satunya dengan meningkatkan permodalan bank menjadi minimal Rp 3 triliun secara bertahap hingga 2022 mendatang.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan dengan aturan ini, konsolidasi perbankan diwajibkan bagi bank-bank yang belum bisa memenuhi syarat minimal modal inti. Konsolidasi menjadi salah satu cara pemenuhan syarat minimal, jika pemilik bank tidak bisa menyuntikan tambahan modal atau bank tidak bisa tumbuh secara organik.

Beberapa bank memang masih belum memenuhi syarat minimal modal inti, setidaknya untuk akhir 2020 senilai Rp 1 triliun. "Tapi kalau kami melihat rencana mereka yang sudah disampaikan kepada OJK, pada dasarnya mereka sudah mempunyai rencana yang lebih konkret untuk bisa memenuhi permodalan pada akhir tahun ini," kata Heru.

Video Pilihan

Artikel Terkait