BPPT: Cemari Lingkungan, Penambang Emas Kecil Masih Pakai Merkuri

BPPT menyebut setidaknya ada 120 lokasi penambangan emas skala kecil atau PESK di Indonesia. Jumlah penambangnya mencapai 1 juta orang.
Image title
1 Desember 2020, 14:11
tambang emas, penambangan emas skala kecil, pesk, pertambangan, tambang ilegal, bppt
ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar
Ilustrasi, salah satu areal pertambangan emas di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (9/2).

Penambang tradisional di Indonesia masih banyak memakai merkuri untuk mengikat dan memperoleh emas. Proses amalgamasi ini sangat berbahaya bagi lingkungan di sekitar tambang

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Rudi Nugroho menyebut setidaknya ada 120 lokasi penambangan tersebut di Indonesia. Jumlah penambangnya mencapai 1 juta orang.

Dari aktivitas penambangan emas skala kecil atau PESK ini, produksinya mencapai 65 sampai 130 ton di 2010. Angkanya nyaris serupa dengan produki nasional di periode yang sama, sebesar 119 ton.

Produksi emas tersebut memang membuka lapangan pekerjaan dan perekonomian daerah. “Namun, di sisi lain, umumnya mereka mengabaikan kaidah penambangan yang baik,” kata Rudi dalam acara Aspek Teknis dan Sosial-Ekonomi Sektor Pertambangan Emas Skala Kecil yang diselenggarakan Katadata.co.id, Selasa (1/12).

Karena itu, BPPT membuat teknologi pengolahan emas non-merkuri untuk penambang emas skala kecil. Teknologinya sudah ada di lokasi tambang emas rakyat Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Harapannya, pengolahan emas penambang kecil dapat lebih ramah lingkungan. “Proyek percontohan ini menjadi ajang pelatihan bagi para penambang lainnya,” ujarnya. 

Dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada Nurhadi berpendapat kegiatan penambangan dengan merkuri telah menyebabkan deforestasi, sedimentasi, kerusakan tanah, penurunan kualitas air, pencemaran sungai dan danau.

Namun, banyak orang tetap melakukannya karena nilai ekonomi dari PESK cukup tinggi. Misalnya, dari bongkahan batu sebanyak satu sampai dua karung per hari diperkirakan menghasilkan emas sebanyak satu sampai 1,5 gram per gelundung. 

Di sisi lain, kebutuhan investasinya tak banyak. Jaringan perdagangan PESK di pasar gelap atau black market sangat kuat. Hal ini juga didorong tingginya permintaan. “Kalau demand kuat, perangnya adalah dengan pasar. Kita tidak bisa main di regulasi karena pasar yang harus kontrol,” kata Nurhadi. 

Hubungan patron-client antara penambang dan pengumpul emas juga kuat. Para penambang telah dijamin hidupnya dari para bos. Mereka memilih pekerjaan ini sebagai cara cepat untuk mendapatkan uang banyak 

Nurhadi mengusulkan adanya lembaga koperasi, seperti badan usaha milik desa atau BUMDes, yang mengelola PESK. “Secara ekonomi akan lebih menguntungkan karena para penambang tidak hanya menjadi pekerja untuk bosnya,” ujarnya. 

Antam Kelola Limbah Tambang Emas Jadi Produk Konstruksi

PT Antam Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor saat ini fokus mengolah limbah tailing yang diklasifikasikan sebagai limbah beracun atau B3 menjadi bahan baku material konstruksi. Misalnya, untuk batako dan paving block

General Manager UBPE Pongkor Purwanto menyampaikan tak menutup kemungkinan jika pengolahan limbah tersebut diadopsi penambang emas skala kecil. 

Di Pongkor, penambang tradisionalnya tak lagi memakai merkuri. “Mereka memakai sianida. Saya rasa itu berbeda (dampaknya ke lingkungan),” kata Purwanto. 

 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait