Faisal Basri Prediksi Defisit Energi Capai US$ 80 Miliar pada 2021

Ekonom Faisal Basri memperkirakan defisit energi akan mencapai US$ 80 miliar atau 3% dari produk domestik bruto pada 2021.
Image title
25 Juli 2019, 18:17
faisal basri, defisit energi, energi baru terbarukan
Agung Samosir|KATADATA
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri memperkirakan defisit energi akan terjadi di Indonesia pada 2021.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri memperkirakan defisit energi akan terjadi di Indonesia pada 2021. Defisit ini terjadi akibat lambatnya pemanfaatan energi baru terbarukan, terus menurunnya produksi minyak dan gas bumi nasional, serta lesunya industri pertambangan batu bara karena turunnya harga komoditas itu.

Jika tidak dilakukan langkah antisipasi, ia memperkirakan defisit energi akan mencapai US$ 80 miliar atau 3% dari produk domestik bruto (PDB). "Ini namanya defisit di depan mata," kata dia dalam acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Rabu (25/7).

Ia pun mengatakan, semakin tinggi target pertumbuhan ekonomi nasional, maka kebutuhan energi juga meningkat. Pasalnya, peningkatan aktivitas ekonomi membutuhkan banyak pasokan bahan bakar untuk mendorong kinerja industri.

Apalagi, menurut Faisal, Indonesia memiliki tren mengonsumsi energi dalam jumlah besar. Konsumsinya bahkan lebih tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya, seperti Tiongkok dan Korea Selatan.

Advertisement

(Baca: PLN Sebut Butuh Ubah PP untuk Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)

Berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy, konsumsi Indonesia pada 2018 terbagi menjadi beberapa jenis. Konsumsi minyak memiliki porsi sebesar 45%, gas 18,1%, batu bara 33,2%, hidro elektrrik 2%, dan energi terbarukan 1,8%. Secara keseluruhan, konsumsi energi pada tahun lalu setara dengan 4,9% dari PDB.

The International Energy Agency (IEA) pun mengelompokkan porsi penggunaan energi tersebut berdasarkan sektornya. Pada 2018, konsumsi energi digunakan untuk transportasi sebesar 30%, industri 24,7%, dan lainnya sebesar 45,3%.

Faisal berharap pemerintah dapat mengantisipasi defisit itu dengan beralih ke energi terbarukan. Hal ini pun sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi karbon yang tertuang dalam Paris Agreement.

(Baca: PLN Siapkan Lelang Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Angin Baru)

Reporter: Rizky Alika
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait