• Banyak emiten rokok mengalami penurunan kinerja karena volume penjualan yang turun.
  • Kenaikan cukai dan pandemi Covid-19 mengubah konsumsi rokok masyarakat.
  • Pengetatan larangan iklan rokok dinilai tidak akan berpengaruh signifikan ke kinerja perusahaan. 

Per 24 Januari 2022 tak akan ada lagi kode efek RMBA dalam papan pencatatan Bursa Efek Indonesia. PT Bentoel Internasional Investama Tbk memutuskan hengkang dari pasar modal alias delisting.

Perusahaan rokok ini telah mengantongi persetujuan aksi korporasi itu pada saat rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 28 September lalu. Bentoel akan memulai tender sukarela pada akhir Oktober 2021.

British American Tobacco (BAT) selaku pengendali Bentoel akan membeli saham publik di level Rp 1 ribu per saham. Nilanya lebih mahal 226,8% dibandingkan harga penutupan terakhir RMBA sebelum disuspensi pada 5 Agustus 2021, di Rp 306 per lembarnya.

Corporate Brand & ESG Manager Bentoel Maria Melissa Riyani Putri mengatakan, saham RMBA relatif tidak likuid. Tanpa penawsaran tender atau tender offer, pemegang saham minoritas akan sulit menjual sahamnya di pasar reguler. 

Saat ini porsi pemegang saham publiknya tercatat hanya 7,52%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7,29% dimiliki oleh satu pihak, yaitu UBS AG London. Sisanya, yaitu 0,23%, berada di tangan publik lainnya atau sekitar 2.385 pemegang saham.  

Bentoel meyakini rencana delisting akan memberikan yang terbaik untuk pemegang saham. “Kami memberi kesempatan pemegang saham publik untuk menjual sahamnya dengan harga premium," kata Maria pada pekan lalu. 

Aksi korporasi ini juga untuk mengatasi persoalan kinerja perusahaan. Sejak 2010, Bentoel tidak memberikan dividen kepada pemegang sahamnya karena saldo laba yang negatif.

Penjualan rokoknya pada paruh pertama 2021 turun 36,3% menjadi Rp 4,8 triliun. Rugi bersih RMBA mencapai Rp 28,9 miliar. Angka ini menurun 82,5% dari kerugian Rp 165,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

PRODUKSI IHT AWAL 2021 TURUN
Ilustrasi industri rokok. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori/foc.)

Kinerja Emiten Rokok

Penurunan kinerja sebenarnya tak hanya terjadi pada Bentoel. Laba dua emiten besar produsen rokok lainnya tercatat juga turun. Pemberlakuan pembatasan kegiatan sosial masyarakat karena pandemi Covid-19 menjadi salah satu yang memicu hal itu.

Laba PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) susut 15,4% pada paruh pertama 2021 menjadi Rp 4,13 triliun dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) keuntungannya pun turun 39,53% menjadi Rp 2,31 triliun.

Pandemi juga mengubah preferensi rokok orang Indonesia. Data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menunjukkan terjadi peralihan besar ke rokok full flavour karena harganya lebih murah dan dianggap lebih ‘mengenyangkan’.

Daya beli masyarakat saat ini sedang turun. “Dengan harga rokok (mild) semakin tinggi maka akhirnya mereka pilih full flavour,” kata Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Nirwala Dwi Heryanto pada 26 Agustus lalu.

Mahalnya harga rokok tak lepas dari kebijakan kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) sebesar 12,5% rata-rata tertimbang pada 2021, seperti terlihat pada grafik Databoks berikut. Untuk tahun ini, tarif baru mulai berlaku sejak 1 Februari.  

Pemerintah hanya menyasar segmen sigaret putih mesin (SPM) dan sigaret kretek mesin (SKM). Segmen rokok sigaret kretek tangan (SKT) tidak ada kenaikan tarif. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani ketika itu beralasan kebijakan ini mempertimbangkan nasib para buruh di industri rokok. Kenaikan cukai harapannya dapat menekan pertumbuhan produksi rokok sekitar 3,2%. Estimasi volume produksinya sekitar 288,8 miliar batang pada 2021. 

Full flavour memakai penyedap cengkeh dan mengandung tar dan nilotin lebih tinggi dibandingkan rokok mild. Gudang Garam dan Djarum merupakan produsen paling terkenal untuk jenis rokok full flavour. HM Sampoerna dominan dengan produk rokok mild-nya.

Kondisi pandemi juga membuat produsen rokok dengan harga yang terjangkau unggul dalam penjualan. Laba produsen rokok PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) naik 44,56% menjadi Rp 63,04 miliar pada semester 2021 dibandingkan periode yang sama 2020. 

Sekretaris Perusahaan Wismilak Surjanto Yasaputera pada tengah tahun lalu mengatakan, produk-produk WIIM berada pada rentang harga terjangkau. Pandemi membuat volume penjualannya meningkat. 

rokok
Ilustrasi larangan memajang produk rokok di tempat penjualan. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.)

Ekspansi Bisnis Perusahaan Rokok

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah perokok usia 15 tahun ke atas turun 29,03% pada 2020. Selain isu daya beli, alasan kesehatan di tengah pandemi juga membuat banyak orang memutuskan berhenti merokok.

Beberapa yang masih merokok memutuskan untuk mengurangi konsumsinya. Hasil survei Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) pada 26 Agustus lalu menyebut, dari 1.082 responden terdapat 29% perokok aktif.

Dari angka itu, sebanyak 37% mengaku mulai mengurangi konsumsinya. Dari sisi pengeluaran, 42% telah mengurangi biaya untuk merokok. Lalu, sebanyak 24% memilih membeli rokok dengan harga murah. 

Pengetatan larangan merokok di tempat publik pun mulai pemerintah daerah lakukan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru saja mengeluarkan Seruan Gubernur Nomor 8 Tahun 2021 yang salah satu isinya melarang memajang bungkus rokok di tempat penjualan.

“Tidak memasang reklame rokok atau zat adiktif, baik di dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor), termasuk memajang kemasan atau bungkus rokok atau zat adiktif di tempat penjualan,” tulis Sergub tersebut.

Kebijakan ini merupakan salah satu cara menjalankan program Jakarta Bebas Rokok. Seluruh gedung di Ibu Kota pun diminta tidak menyediakan asabak dan tempat pembuangan puntung rokok pada kawasan dilarang merokok.

Komunitas bebas rokok, Smoke Free Jakarta, menyebut regulasi tersebut sudah dibahas sejak 2010 dan baru rampung sekarang. “Ini merupakan mandat Undang-Undang Kesehatan yang harus segera dituntaskan,” kata Koordinator Smoke Free Jakarta Dollaris Suhadi pada Senin lalu.

Larangan iklan rokok, menurut Dollaris, dapat menjadi strategi efektif mengendalikan angka perokok pemula, khususnya anak dan remaja. 

Hasil survei Atlas Tembakau Indonesia pada 2020 menunjukkan usia pertama kali merokok paling banyak pada umur 15 hingga 19 tahun. Angkanya mencapai 52%. Di bawahnya adalah usia 10 hingga 14 tahun, sebanyak 23%.

Direktur Riset Center for Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, industri rokok masih akan bertahan dalam waktu lama, meskipun menghadapi sejumlah hambatan. Adanya larangan iklan rokok tidak akan berpengaruh signifikan.“Regulasi tersebut untuk membatasi pertumbuhan industrinya," katanya.

Kenaikan tarif cukai juga menjadi tantangan ke depan. Namun, hal ini pun tidak akan signifikan menurunkan konsumsi rokok. Pemilik industri ini tetap akan sukses secara nasional. “Orang terkaya Indonesia masih dipegang pemilik industri rokok, yaitu Djarum dan Gudang Garam,” ucapnya. 

Melansir dari Forbes, pemilik Djarum, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, merupakan dua orang terkaya di Tanah Air. Pemilik Gudang Garam, Susilo Wonowidjojo, berada di posisi keenam pada tahun lalu.

 

Kedua perusahaan sudah lebih dulu melakukan diversifikasi usaha non-rokok. Djarum melebarkan bisnisnya melalui Grup Djarum dengan masuk ke sektor perbankan, elektronik, minuman kemasan, properti, perkebunan, telekomunikasi, dan digital.

Di bawah kongolomerasi itu terdapat BCA, Polytron, WTC Mangga Dua, Grand Indonesia, GDP Venture, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT Daya Network Lestari (pemilik jaringan ATM Alto). 

Lalu, GDP Venture mendanai berbagai perusahaan rintisan. Melansir dari situs resminya, perusahaan menanamkan modalnya ke Gojek, Blibli.com, Dekoruma, Halodoc, Tiketcom, Kaskus, IDN Media, Kumparan, dan lainnya. 

Gudang Garam juga mulai menginjakkan kakinya ke sektor infrastruktur. Perusahaan mendirikan PT Surya Kertaagung Toll yang bergerak dalam bidang konstruksi, perbaikan jalan, dan proyek bangunan. 

GGRM juga sedang membangun bandar udara di Kediri, Jawa Timur. Proyek ini berada di bawah anak usahanya, yaitu PT Surya Dhoho Investama. Belanja modal yang sudah perusahaan keluarkan untuk proyek ini hampir Rp 5 triliun.

Penyumbang bahan: Amartya Kejora (magang)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.