Duet Mobil Tiongkok Mengancam Dominasi Merek Jepang

Penulis: Ameidyo Daud dan Safrezi Fitra

11/5/2019, 03.28 WIB

Wuling dan DFSK baru masuk ke pasar otomotif nasional pada 2017. Tahun lalu Wuling masuk dalam 10 merek penjualan mobil terbesar.

Telaah - Mobil China
hxdyl/123rf

Belum genap dua tahun kehadiran dua merek mobil asal Tiongkok, SGMW Motor (Wuling) dan Dongfeng Sokon (DFSK), di Indonesia. Namun, mereka mampu mengambil hati konsumen kendaraan Tanah Air. Kesuksesan penjualan duet Wuling dan DFSK telah menggerus dan mengancam produk Jepang, bahkan Korea Selatan, Eropa dan Amerika di pasar otomotif nasional.

Dalam ajang pameran Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) pada 25 April - 5 Mei 2019, mobil Tiongkok cukup menarik perhatian pengunjung yang datang ke JIExpo Kemayoran, Jakarta. Sepanjang pameran ini, DFSK mencatat total pemesanan hingga 1.487 unit. Pemesanan produk terbarunya DFSK Glory 560 mencapai 1.056 unit. Produk ini bersaing dengan model terlaris Toyota Avanza dengan pemesanan 1.106 unit.

"Ini menjadi pertanda kendaraan DFSK mulai dapat tempat di hati masyarakat," kata Managing Director of Sales Centre Sokonindo Automobile Franz Wang dalam keterangannya, Kamis (9/5). 

(Baca: Pameran Otomotif IIMS 2019 Meriah, Transaksi Naik hingga Rp 5 Triliun)

Pemesanan tiga varian Wuling dalam ajang IIMS memang hanya mencapai 771 unit. Namun, Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat sebagai pemain baru, Wuling sudah mampu masuk dalam 10 merek mobil dengan penjualan terbesar tahun lalu.

Presiden Direktur Hyundai Motors Indonesia Mukiat Sutikno mengatakan pabrikan mobil asal Tiongkok bisa saja menjadi ancaman bagi merek lain. Apalagi dengan tawaran harga yang kompetitif, mobil Tiongkok bisa berhadapan langsung dengan pabrikan lama yang terkenal dengan harga yang kompetitif seperti Daihatsu.

Mukiat memprediksi persaingan ketat ke depan akan terjadi di segmen Multi Purpose Vehicle (MPV). Merk Tiongkok, Wuling, telah mengeluarkan Confero dan Cortez yang dapat bersaing di segmen itu. "Mungkin bisa jadi ancaman. Produk mereka punya harga dekat dengan Daihatsu," kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (9/5).

(Baca Analisis Data: Peta Baru Persaingan Bisnis Mobil di Indonesia)

Banderol mobil Tiongkok telah menabrak pakem mobil-mobil Jepang selama ini. Mereka menyuguhkan harga lebih terjangkau atau di bawah harga mobil Jepang di kelas yang sama. Di kelas MPV, Wuling menjual produk Confero dengan harga termurah Rp 146 juta. Pada segmen yang sama, harga Daihatsu Xenia mencapai Rp 180 juta dan kembarannya Toyota Avanza Rp 190 juta. Sementara Mitsubishi Expander dan Honda Mobilio di atas Rp 200 juta. 

Di kelas Low Sport Utility Vehicle (SUV), DFSK membanderol Glory 560 seharga Rp 189 juta. Lebih murah dari pesaingnya Daihatsu Terios Rp 202 juta, Toyota Rush 244 juta, dan Honda BR-V Rp 238 juta. Di segmen ini Wuling Almaz dibandrol lebih mahal, yakni mencapai Rp 318 juta.

Meski murah, produk tiongkok menawarkan fitur yang lengkap dan berani memberikan garansi hingga tujuh tahun. Adapun garansi yang diberikan Wuling sama dengan rata-rata pabrikan Jepang, yakni lima tahun. Selain itu, mereka menawarkan fitur lengkap keamanan dan kenyamanan dengan teknologi yang mutakhir.

(Baca juga: Prospek Bisnis Otomotif 2019: Potensi Besar, Volume Penjualan Stagnan)

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan masuknya Wuling dan DFSK dalam industri otomotif Tanah Air akan membuat persaingan menjadi semakin ketat. Namun, dia menyambut baik kehadiran mobil Tiongkok ini. Menurutnya masyarakat akan semakin menikmati pilihan varian kendaraan yang semakin banyak. "Harga tentu jadi faktor penentuan pilihan," ujarnya.

Grup Astra Tak Anggap Mobil Tiongkok Ancaman

Selama ini pasar otomotif di Indonesia dikuasai kendaraan Jepang, terutama yang dipegang oleh Grup Astra, seperti Toyota dan Daihatsu. Pada 2016, kedua merek ini memegang 53,7 persen pangsa pasar otomotif nasional. Namun, sejak kehadiran dua pabrikan Tiongkok pada 2017, pasarnya tergerus menjadi 51,8 persen. Tahun lalu pangsa pasar Toyota dan Daihatsu kembali menyusut menjadi 48,2 persen.

Meski begitu, kedua Grup Astra ini tidak menganggap mobil Tiongkok sebagai ancaman yang akan bisa terus menggerus pangsa pasarnya. Direktur Pemasaran Astra Daihatsu Motors Amelia Tjandra mengatakan semakin maraknya merek otomotif di Indonesia merupakan hal yang wajar. Apalagi pasar mobil di Indonesia masih punya potensi yang besar. "Jadi semua merek mengerahkan sumber daya yang optimal," ujarnya kepada Katadata.co.id.

(Baca juga: Penurunan Performa Grup Otomotif Menahan Laju Laba Astra International)

Executive General Manager Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto juga enggan menyebut kehadiran mobil Tiongkok sebagai ancaman. "Kalau ancaman kesannya akan ada proteksionisme," kata dia kepada Katadata.co.id.

Dia malah menyambut positif masuknya Wuling di pasar mobil kelas MPV  terutama Low MPV alias mobil keluarga berharga murah, bersaing dengan Toyota Avanza. Dia pun memastikan Toyota tak akan beradu harga dengan mobil Tiongkok. Perusahaannya akan tetap mengandalkan pelayanan dan tak berhenti memperkenalkan varian produk baru

Menurut Mukiat, pabrikan mobil asal Negeri Panda yang baru masuk ke Indonesia harus bisa mengambil kepercayaan konsumen. Apalagi melawan pabrikan Jepang seperti Toyota yang sudah ada sejak 58 tahun lalu di Tanah Air. "Konsistensi dalam membangun brand sangat diperlukan," katanya.

 

Wuling dan DFSK Baru Masuk Pasar pada 2017

Data Gaikindo mencatat Wuling baru melakukan penjualan produknya pada Juli 2017 dan mereka langsung bisa mengambil hati konsumen Indonesia. Hanya dalam enam bulan, Wuling berhasil menjual 5.050 unit mobilnya dan meraup pangsa 0,5 persen pasar mobil nasional 2017.

Saat itu, Wuling sudah berada di urutan 11 teratas penjualan mobil di Indonesia. Wuling berhasil menyalip penjualan mobil Korea Selatan, Hyundai dan mobil India, TATA. Bahkan mobil-mobil Eropa dan Amerika yang sudah lebih dulu ada.

(Baca: Wuling Berhasil Mencuri Perhatian Pasar Otomotif Domestik)

Setahun kemudian, penjualan wuling kembali melesat. Tahun lalu, Wuling berhasil menjual 17 ribu unit. Dengan hanya mengandalkan dua produk Confero dan Cortez, Wuling bisa meningkatkan pangsa pasarnya menjadi 1,5 persen.

Kesuksesan penjualan tahun lalu membawa Wuling masuk ke urutan 9 penjualan mobil terbanyak pada 2018. Penjualan Wuling tahun lalu juga telah mengungguli produsen mobil jepang seperti Nisan, Datsun, dan Mazda.

Berselang dua bulan dari Wuling, DFSK melalui PT Sokonindo Automobile memulai penjualannya pada September 2017. Dalam empat bulan sejak pertama kali menjejakkan kakinya di pasar mobil Indonesia, DFSK hanya terjual 159 unit. Saat itu Sokon hanya menjual kendaraan niaga yang diberi nama Super Cab. Dengan hanya menjual mobil pick up, DFSK masih berada di urutan 24 dalam penjualan mobil nasional 2017.

Penjualan DFSK memang tidak secepat Wuling. Setelah memulai dengan kendaraan niaga, DFSK mulai meluncurkan kendaraan penumpang jenis SUV pada April 2018. Dengan produk baru ini, penjualan DFSK naik dari 159 pada 2017 menjadi 1.222 pada tahun lalu. Posisi DFSK dalam pasar mobil Indonesia naik ke urutan 18 dengan pangsa pasar 0,1 persen. DFSK berhasil menyalip penjualan TATA. 

Setelah sukses memulai debut di kelas MPV dengan Confero dan Cortez, Wuling pada tahun ini mencoba peruntungan masuk kelas SUV dengan membawa Almaz. Sedangkan DFSK masih fokus membangun nama dengan memasukkan Glory 560 pada yang masih di kelas SUV.

Keseriusan Wuling dan DFSK di Indonesia

Sebelum Wuling dan DFSK, mobil Tiongkok Geely dan Chery sudah lebih dulu masuk ke pasar otomotif nasional. Namun, mereka gagal karena masih setengah hati berjualan di Indonesia. Sementara Wuling dan DFSK cukup serius dengan membangun pabrik di Tanah Air. Wuling menyiapkan investasi hingga US$ 700 juta dan DFSK lebih dari US$ 150 juta.

Dengan modal investasi yang besar ini Wuling bisa menjual produknya dengan harga lebih murah. Brand Manager SAIC General Motors Wuling (SGMW) Motor Indonesia Dian Asmahani sempat mengatakan investasinya tak hanya membangun fasilitas pabrik berkapasitas 120 ribu unit per tahun. Kompleks pabrik Wuling di kawasan Deltamas, Cikarang, Jawa Barat, juga digunakan untuk memproduksi suku cadang kendaraan.

(Baca juga: Ekspansi di Indonesia, Wuling Dikabarkan Tambah Investasi Rp 9 Triliun)

Dalam memacu penjualan, Wuling dan DFSK agresif memperbanyak dealer. Hingga akhir tahun ini Wuling menargetkan punya 120 dealer di seluruh Indonesia dan DFSK 90 dealer. Memang masih jauh dibandingkan Toyota yang memiliki 340 dealer tahun lalu. Namun, target dealer Wuling dan DFSK bisa bersaing dengan Mitsubishi yang sudah punya 130-an dealer dan Honda 200 dealer.

Di negara asalnya, Wuling merupakan anak usaha dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Tiongkok, Shanghai Automotive Industry Corporation (SAIC), yang bekerja sama dengan pabrikan Amerika Serikat, General Motor. SAIC merupakan produsen mobil terbesar Tiongkok yang juga memiliki pabrik di Inggris dan Indonesia dengan total kapasitas produksi 5,62 juta unit per tahun.

Sementara prinsipal DFSK, yakni Dongfeng Motor Corporation merupakan produsen otomotif terbesar ketiga di Tiongkok, setelah SAIC dan Grup BAIC. Dongfeng Motor Corp sudah bekerja sama dengan banyak merek, termasuk Kia, Honda, Peugeot-Citroen, Renault, Volvo, Nissan, dan merek Taiwan, Yulon.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha