Harap-harap Cemas Menanti Realisasi Impor Ayam Brasil

Penulis: Sorta Tobing

15/8/2019, 18.00 WIB

Pemerintah akan membuka keran impor ayam Brasil karena kalah sengketa di WTO. Ada celah untuk mengatur agar harga ayam stabil dan peternak tidak merugi.

Telaah - Impor Ayam Brasil
123RF.com/Chevanon Wonganuchitmetha
Indonesia harus membuka keran impor ayam dari Brasil lantaran kalah dalam gugatan di World Trade Organizations (WTO).

Para peternak ayam tampaknya belum bisa bernapas lega. Masalah baru kini datang ke industri perunggasan. Pemerintah akan membuka keran impor ayam Brasil. Padahal, harganya baru saja stabil setelah sempat anjlok pada Juni-Juli lalu.

Ketika harganya turun dua bulan lalu, para peternak meminta bantuan pemerintah untuk mengendalikan pasokan dan konsumsi ayam. Cara ini berhasil, terutama di level peternak mandiri.

Nah, belum sebulan menikmati hal itu, badai datang dari Negeri Samba. Pemerintah RI tak bisa berkelit lagi untuk tak melonggarkan ketentuan impor daging ayam. Pasalnya, negara ini telah kalah dalam sengketa importasi ayam dengan Brasil di sidang Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2017.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan Indonesia tidak bisa menolak impor daging ayam Brasil. “Tidak ada pilihan lain. Kita sudah kalah, mau apa lagi. Aturan harus diubah,” katanya di Tangerang, Rabu (14/8).

Proses impor ini, menurut dia, masih panjang. Ayam Brasil tetap harus memiliki sertifikasi halal dan memenuhi syarat kesehatan dan kebersihan alias sanitasi. Pemerintah pun masih harus merevisi Peraturan Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian tentang ketentuan impor produk hortikultura.

(Baca: Bisa Ekspor Ayam ke Indonesia, Ini Gambaran Industri Peternakan Brasil)

Masalah ini bermula dari gugatan pemerintah Brasil yang mengajukan pembentukan panel ke Sidang Badan Penyelesaian Sengketa (DSB) WTO dengan nomor kasus BS484: Indonesia-Measures Concerning the Importation of Chicken Meat and Chicken Products pada 16 Oktober 2014.

Dalam gugatan itu ada 18 negara lainnya yang bertindak sebagai pihak ketiga. Ke-18 negara itu antara lain Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Selandia Baru, Norwegia, Vietnam, Paraguay, Thailand, Kanada, Argentina, India, Australia, dan Rusia.

Seperti dikutip dari Antara, setelah melalui serangkaian persidangan, WTO mengeluarkan putusan final pada 10 Mei 2017. Terdapat tiga ketentuan yang dimenangkan Indonesia karena Brasil dianggap gagal membuktikan ketentuan yang bertentangan dengan perjanjian WTO. Namun, negara Amerika Latin itu memenangkan empat ketentuan lainnya.

Indonesia memutuskan tidak melakukan banding dengan pertimbangan beberapa ketentuan yang dianggap bertentangan telah diubah dan disederhanakan. Namun, pemerintah tetap mensyaratkan ketentuan teknis terkait persyaratan sanitari dan kehalalan pangan.

(Baca: Mengenal Berdikari, BUMN yang Impor Ribuan Ton Daging dari Brasil)

Ternak Ayam Potong
Ilustrasi ternak ayam potong. Pemerintah akan membuka keran impor ayam dari Brasil. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Peternak Tolak Rencana Impor Ayam Brasil

Para peternak ayam mulai harap-harap cemas. Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi menilai masuknya ayam Brasil dapat membuat harga ayam peternak lokal di pasar tradisional kembali jatuh. “Hal ini berpotensi menghentikan produksi peternak rakyat,” katanya kepada Katadata.co.id.

Kekhawatiran ini tak berlebihan mengingat biaya pokok produksi ayam lokal lebih tinggi ketimbang dari Brasil. Menurut hitungannya, perbedaan harganya bisa mencapai Rp 6.000 per kilogram (kg) dengan biaya pokok produksi ayam lokal yang sebesar Rp 18 ribu per kg.

Karena itu, menurut dia, pemerintah sebaiknya membantu meningkatkan dulu kualitas industri ayam lokal sebelum membuka keran impor. Caranya, dengan menyesuaikan harga jual sarana produksi peternakan (Sapronak).

Harga jagung, yang menjadi material utama pakan dan mencakup 70% biaya budidaya ayam, perlu diturunkan. “Jika harga pakan turun, pasti harga ayamnya mengikuti,” katanya.  

(Baca: Kelebihan Pasokan, Peternak Khawatirkan Harga Ayam Kembali Jatuh)

Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin) juga menolak rencana impor daging tersebut. Selain dapat menghancurkan bisnis peternakan unggas rakyat, daging ayam Brasil juga tidak diperlukan. “Impor ini tidak memberikan multiplier effect bagi perekonomian Indonesia,” kata Kepala Bidang Hukum dan Humas Arphuin Cecep M Wahyudin.

Menurut data Badan Pusat Statistik, pada 2018 produksi karkas ayam mencapai 3,38 juta ton. Jumlah itu melebihi proyeksi kebutuhan yang hanya 3,05 juta ton. Sementara untuk jumlah produksi daging ayam ras dapat terlihat dalam grafik Databoks berikut ini.

Ia berharap pemerintah dapat mengingat kasus daging ayam Brasil yang mengandung bakteri salmonella dan berbahaya bagi kesehatan. Kasus itu mendorong Uni Eropa melakukan investigasi terhadap rumah pemotongan ayam milik eksportir Brasil.

Selain itu, Indonesia juga perlu belajar dari Filipina yang sulit mengendalikan impor ayam dari AS, Brasil, dan negara lainnya. "Sekali produk impor masuk, maka akan sulit untuk dihentikan," kata dia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha