Penerimaan Pajak yang Meleset Jauh dari Target

Penulis: Sorta Tobing

28/11/2019, 07.00 WIB

Kekurangan atau shortfall pajak tahun ini bakal lebih dari Rp 140 triliun. Realisasi penerimaan pajaknya baru mencapai 65,71% dari target.

Telaah - Shortfall Pajak
123RF.com/Andrii Yalanskyi
Kementerian Keuangan memperkirakan kekurangan penerimaan atau shortfall pajak tahun ini bakal berada di atas proyeksi Rp 140 triliun.

Direktorat Jenderal Pajak memperkirakan kekurangan penerimaan pajak pada tahun ini bakal berada di atas proyeksi. Kementerian Keuangan sebelumnya menargetkan shortfall pajak 2019 mencapai Rp 140 triliun.

Belum jelas betul berapa besar kekurangan pajak itu. “Masih dicermati. Semoga tidak sebesar akumulasi dua tahun terakhir yang mencapai Rp 240 triliun,” kata Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Pajak Yon Arsal di Jakarta, Senin (25/11).

Pada 2017 dan 2018 shorfall pajak masing-masing sebesar Rp 127,2 triliun dan Rp 110, 78 triliun. Sementara, realisasi penerimaan pajak dari awal tahun hingga Oktober 2019 baru mencapai 65,71% dari target Rp 1.786,38 triliun. Jadi, masih ada kekurangan sekitar Rp 612,5 triliun.

Terlihat dari grafik Databoks di bawah ini realisasinya masih jauh dari target. Bahkan angka itu turun dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Pada Oktober 2018, realisasi penerimaan pajak sudah mencapai angka 71,7% dari target Rp 1.618,1 triliun.

Penerimaan pajak terbesar dalam 10 bulan tahun ini berasal dari pajak dalam negeri, Rp 1.140,87 triliun. Angkanya mencapai 65,45% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 untuk pajak dalam negeri. Sementara, realisasi pajak perdagangan internasional sebesar Rp 33,02 triliun atau 76,23% dari target.

Menurut Yon, ada tiga faktor penyebab rendahnya penerimaan pajak tahun ini. Pertama, percepatan restitusi yang diberikan pemerintah. Fasilitas pengembalian pajak ini memang telah diprediksi sebelumnya akan menurunkan penerimaan negara.

(Baca: Restitusi Tumbuh Pesat, Target Penerimaan Pajak Berat)

Kedua, perlambatan ekonomi dunia, akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, membuat aktivitas ekspor dan impor dalam negeri ikut turun. Hal itu terlihat dari pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN) impor. Target pertumbuhan kedua pajak itu adalah 23%. Tapi realisasinya ternyata hanya 7% sepanjang tahun ini.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik melaporkan kinerja perdagangan pada bulan lalu mengalami surplus sebesar US$ 161,3 juta. Namun, neraca perdagangan Januari-Oktober 2019 masih defisit US$ 1,79 miliar

Terakhir, rendahnya penerimaan pajak, menurut Yon, karena harga komoditas yang belum membaik. Harga sawit sedikit ada perbaikan pada bulan lalu. Namun, efeknya baru terasa pada penerimaan pajak Desember 2019 atau tahun depan.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha