Krisis Bahan Baku Impor Hantui Industri Farmasi

Penulis: Martha Ruth Thertina

23/4/2020, 12.17 WIB

Kinerja industri farmasi dibayangi tekanan kurs rupiah hingga tunggakan BPJS. Pembebasan bea masuk dan pajak impor untuk atasi pandemi memberi angin segar.

Ilustrasi industri farmasi
123rf/lightwise
Nilai tukar rupiah yang lemah membuat industri farmasi harus mengeluarkan dana lebih besar untuk membeli bahan baku.

Besarnya ketergantungan industri farmasi Indonesia akan impor bahan baku obat dan alat kesehatan menjadi sorotan di tengah pandemi corona. Terkendalanya produksi di luar negeri seiring berbagai pembatasan sosial, ditambah perebutan dengan negara lain membuat Indonesia “kelimpungan”.

Pertengahan Maret lalu, Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku GP Farmasi Vincent Harijanto menyiratkan tipisnya stok obat di tengah pandemi. Stok obat-obatan fast moving forward alias yang kebutuhannya besar -- seperti paracetamol, antiseptik, dan ambroxol – hanya sampai Maret-April. Meskipun, ia meyakinkan kondisinya aman.

Sedangkan Staf Khusus Menteri BUMN Bidang Komunikasi Arya Sinulingga sempat menyinggung soal gerilya memburu obat dan bahan baku obat. Pemerintah harus menjemput dengan pesawat Garuda bahan baku obat Tamiflu sebesar 150 kilogram dari India. Tamiflu adalah obat antiviral yang dikenal untuk penanganan flu burung.

(Baca: Alat Pelindung Diri dan Alkes Kurang, Rumah Sakit Saling Bersaing)

Arya menceritakan itu saat membahas ketergantungan impor bahan baku obat dan alat kesehatan, serta dugaan permainan mafia yang memaksa Indonesia terus membeli bukan memproduksi. “Hanya 150 kilogram, kita harus pakai Garuda, meskipun ada chloroquin juga,” kata dia, beberapa waktu lalu.

Masalah bahan baku obat dan alat kesehatan impor sebetulnya bukan hal baru. Presiden Joko Widodo sempat menyoroti masalah ini dalam rapat terbatas membahas program kesehatan nasional, November tahun lalu. Ia menyebut 95% bahan baku obat dan alat kesehatan berasal dari impor. Ini artinya, hanya 5% yang tersedia di dalam negeri.

Kondisi ini, kata dia, tidak boleh dibiarkan berlama-lama. Ia meminta skema insentif untuk riset dan penyederhanaan regulasi. “Sehingga industri farmasi bisa tumbuh dan masyarakat bisa beli obat dengan harga yang lebih murah,” ujarnya. Seiring besarnya komponen impor, harga obat jadi rentan terhadap risiko nilai tukar rupiah. 

Belakangan, Menteri BUMN Erick Thohir kembali menyoroti masalah ini, dengan sindiran keras. Ia menduga adanya mafia yang membuat Indonesia terus bergantung pada impor, bukan memproduksi sendiri. Ini seperti yang kemudian dijelaskan stafnya, Arya Sinulingga, dalam kesempatan berbeda.

“Jangan-lah negara kita yang besar ini selalu terjebak praktik-praktik kotor sehingga alat kesehatan musti impor, bahan baku musti impor,” ujarnya dalam siaran langsung di Instagram pribadinya, beberapa waktu lalu.

(Baca: RI Impor Barang untuk Tangani Corona Rp 777 M, Terbesar dari Tiongkok)

PASOKAN CHLOROQUINE UNTUK TANGANI COVID-19
Pasokan klorokuin untuk tangani Covid-19. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras.)

Bila mengacu pada data Kementerian Perdagangan, impor produk farmasi Indonesia mengalami kenaikan rata-rata 6,5% per tahun pada periode 2015-2019, meskipun pada 2019 tercatat turun 7,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai impor produk ini tercatat US$ 912,2 juta tahun lalu.

Impor produk tersebut naik signifikan pada dua bulan pertama tahun ini di tengah mulai meluasnya penyebaran virus corona. Nilainya tercatat US$ 173 juta, naik hampir 40% dari periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 123,7 juta. Menurut asosiasi, impor berasal dari India dan Tiongkok.

Besarnya impor seiring dengan industri kimia dasar yang belum kuat di dalam negeri. Perusahaan-perusahaan farmasi pelat merah membidik penurunan impor dari 95% menjadi 75% tahun depan. Namun, untuk bisa turun lebih jauh diperlukan komitmen yang sama dari perusahaan farmasi swasta dan pengembangan industri kimia dasar.

(Baca: Kimia Farma Distribusikan 13 juta Obat Klorokuin untuk Pasien Covid-19)

Risiko dan Prospek Industri Farmasi di Tengah Pandemi

Lantas, bagaimana risiko dan prospek industri farmasi di tengah pandemi? Penjualan produk kesehatan memang berpotensi melonjak seiring naiknya kebutuhan masyarakat, namun industri farmasi dibayangi risiko peningkatan harga bahan baku. Ini imbas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyebut industri farmasi salah satu yang terpukul paling parah akibat pelemahan rupiah. "Industri pharmaceutical menjadi persoalan karena dia sebagian bahan baku impor, (sedangkan) jualnya rupiah," ujarnya, akhir Maret lalu.

Pernyataan senada diungkapkan Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani. Akibat nilai tukar rupiah yang makin lemah, industri farmasi harus mengeluarkan dana lebih besar untuk membeli bahan baku. Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah lebih dari 12%.  

Tekanan untuk industri farmasi juga datang dari tunggakan BPJS Kesehatan. “Belum lagi masih ada outstanding (tunggakan) dari BPJS Kesehatan di industri farmasi kurang lebih Rp 6 triliun,” kata dia pada pertengahan April.

(Baca: Raksasa Farmasi Inggris dan Prancis Kolaborasi Bikin Vaksin Corona)

Tahun lalu, besarnya beban, termasuk dari pelemahan nilai tukar rupiah, membuat kinerja industri farmasi lesu. Perusahaan farmasi milik negara Kimia Farma mencatatkan penurunan drastis laba. Laba tahun berjalan tercatat hanya sebesar Rp 15,89 miliar tahun lalu, turun 97,03% dari Rp 535,08 miliar tahun sebelumnya.

Bahkan, perusahaan mencatatkan rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik induk sebesar Rp 12,72 miliar. Padahal, penjualan meningkat 11,11% dari Rp 8,46 triliun menjadi Rp 9,4 triliun. Laba terkikis oleh berbagai beban yang membengkak.

Beban pokok penjualan tercatat Rp 5,9 triliun, naik 15,69% dari tahun sebelumnya Rp 5,1 triliun. Selisih nilai tukar mata uang meningkat 95,37% dari Rp 2,59 miliar menjadi Rp 5,06 miliar. Sedangkan beban usaha melonjak 23,46% dari Rp 2,6 triliun menjadi 3,21 triliun. Kemudian, beban keuangan melonjak 119,18% dari Rp 227,2 miliar menjadi Rp 497,97 miliar.

Membesarnya beban juga membuat perusahaan farmasi swasta Kalbe Farma mencatatkan kenaikan tipis laba. Kalbe mencatatkan laba tahun berjalan Rp 2,54 triliun, hanya naik 1,6% dari tahun sebelumnya Rp 2,5 triliun. Sedangkan penjualan Rp 22,63 triliun, naik 7,4% dari tahun sebelumnya Rp 21,07 triliun.  

Faktor pemberatnya antara lain beban pokok penjualan yang sebesar Rp 12,39 triliun, naik 10,33% dari tahun sebelumnya Rp 11,23 triliun. Kemudian, beban penjualan naik 3,08% dari Rp 5,2 triliun menjadi menjadi Rp 5,36 triliun. Sedangkan beban bunga dan keuangan naik 35,91% dari Rp 29,74 miliar menjadi Rp 40,42 miliar.

(Baca: Lebih dari 10 Perusahaan Kembangkan Vaksin Corona, Ini Daftarnya)

Meski begitu, analis dan pelaku pasar tampak optimistis akan adanya perbaikan kinerja emiten farmasi di tahun ini. Analis Oso Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas melihat peluang membaiknya kinerja karena meningkatnya kebutuhan masyarakat akan produk kesehatan. Dalam rapat dengar pendapat dengan DPR, Selasa (21/4), Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menargetkan penjualan naik 24,46% menjadi Rp 11,7 triliun.

Sukarno tak menafikan adanya tantangan dari segi pelemahan nilai tukar rupiah. Tapi, kebijakan baru pemerintah yakni pembebasan bea masuk dan pajak impor barang untuk penanganan pandemi corona bisa menjadi angin segar yang meringankan beban. “Jadi kinerjanya bisa tumbuh meskipun pelemahan rupiah terjadi,” kata dia kepada katadata.co.id, Rabu (22/4).

Saham emiten farmasi pelat merah berada dalam tren naik setelah amblas tahun lalu seiring tertekannya keuntungan. Saham Kimia Farma menanjak 12,58% dalam waktu kurang dari dua bulan yakni dari posisi Rp 580 pada akhir Februari ke posisi Rp 1.310 pada Selasa, 22 April. Saham Indofarma bahkan melejit 158% pada periode yang sama.

Sedangkan saham Kalbe Farma tercatat naik mulai akhir Maret. Saham berbalik naik setelah menyentuh level terendah sejak 2012 yaitu Rp 865 pada 23 Maret, seiring rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan. Saham perusahaan tersebut tercatat berada di posisi Rp 1.250 pada 22 April, ini artinya harga saham rebound 44,5% dalam sebulan.

Saham perusahaan farmasi swasta lainnya yakni Tempo Scan Pacific, Darya Varia Laboratoria, dan Sido Muncul juga telah berbalik naik setelah rontok pada Maret. Sepanjang April, saham Tempo naik 21,76%, Darya 3,8%, dan Sido Muncul naik 0,85%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha