Indonesia Energy & Engineering Shows Dibuka untuk Umum

Pamerindo Indonesia mengumumkan Indonesia Energy & Engineering Series Exhibitions dibuka untuk umum.
Image title
Diproduksi oleh Tim Publikasi Katadata
27 September 2019, 12:16
PT Inter Media Prisma
Katadata

Jakarta – Pamerindo Indonesia mengumumkan Indonesia Energy & Engineering Series Exhibitions dibuka untuk umum hari ini. Pemeran internasional ini merupakan pameran dari lima industri besar Indonesia yaitu, pertambangan, minyak dan gas, konstruksi, concrete show SEA Indonesia, dan marintec Indonesia. Tujuannya, untuk memfasilitasi dan mempromosikan upaya industri dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Dengan area pameran seluas 60,000 meter persegi dan menghadirkan lebih dari 1,400 perusahaan dari 39 negara di seluruh dunia yang terbagi dalam 15 paviliun Negara. Indonesia Energy & Engineering merupakan pameran dagang terbesar di Indonesia yang didedikasikan khusus untuk industri pertambangan, minyak & gas bumi, konstruksi, dan industri maritim. Penyelenggaraan pameran ini merefleksikan posisi Indonesia di mata dunia dan kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.

Maysia Stephanie, Event Director PT Pamerindo Indonesia mengatakan, "Kami menghadirkan lima pameran tersegmentasi untuk melayani sektor pertambangan, minyak dan gas, maritim dan konstruksi yang kami satukan sebagai satu acara unggulan yakni Indonesia Energy & Engineering Exhibitions.

Dukung Pembangunan Berkelanjutan untuk Indonesia

Maysia Stephanie menambahkan pameran menampilkan teknologi terkini dan solusi bagi seluruh rantai pasokan untuk meningkatkan daya saing dan pembangunan yang berkelanjutan.
“Pembangunan berkelanjutan merupakan tanggung jawab semua pemangku kepentingan di industri ini. Kami memahami terkadang hal ini adalah tantanga,” tambah Maysia.

Menurut Masyia pameran Indonesia Energy & Engineering diselenggarakan sebagai platform ideal bagi para pemain industri dan seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat dan berbagi pemikiran. Selain itu, untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Andrew Wong, Managing Director Swagelok Indonesia mewakili industri Oil & Gas mengungkapkan, “Tidak ada yang mudah dalam industri minyak dan gas di Indonesia bahkan di dunia. Setiap tahunnya, kami menghadapi tantangan teknis yang semakin kompleks, di antaranya, sumur yang lebih dalam, suhu lebih tinggi, tekanan, serta lingkungan yang lebih korosif." Hal-hal tersebut kata Andrew, menuntut standar, peraturan, bentuk pengawasan dan pertanggungjawaban yang lebih, bagi industri dalam menyediakan eksploitasi sumber daya alam yang sehat, aman, ramah lingkungan, dan dengan biaya yang optimal.

Sementara itu, Budiono Wibowo, East Territory Director PT Daya Kobelco Construction Machinery Indonesia (Kobelco) menyampaikan, sektor infrastruktur, agribisnis dan kehutanan tahun ini diprediksi tetap positif dan berlanjut meskipun 2019 adalah tahun politik. Proyek konstruksi jangka menengah dan panjang masih memerlukan investasi alat berat. Sedangkan untuk sektor tambang, walaupun trennya sedikit menurun tetapi potensi dan prospektifnya masih positif. Kobelco merupakan produsen ternama alat-alat berat di dunia, khususnya hydraulic excavator dan crane yang dikenal powerful, lincah, dan sangat hemat dalam pemakaian bahan bakar. "Di samping itu, produk kami juga sangat cocok untuk iklim tropis karena sudah disesuaikan dengan iklim di Indonesia. Dari kelengkapan dan kombinasi tersebut tentunya memberikan kontribusi terhadap pembangunan di Indonesia dalam mengurangi pencemaran emisi gas buang atau ramah lingkungan," lanjut Budiono.

Pada kesempatan yang sama, Ketua IPERINDO Eddy Kurniawan Logam mengatakan, "Sejak azas cabotage diterapkan, kami telah melihat impor kapal secara regular ke Indonesia dan menciptakan defisit perdagangan sebesar $13,10 miliar di tahun 2018." IPERINDO berharap pemerintah akan mengambil tindakan tegas untuk memberdayakan Industri Maritim Indonesia dengan menetapkan regulasi pajak, fiskal, dan pembiayaan yang menguntungkan.


Eddy menambahkan, ketika industri maritim Indonesia bertumbuh, otomatis dapat memenuhi permintaan akan kapal pelayaran, dan bahkan mungkin ke depannya kita bisa mengekspor kapal ke negara-negara lain. "Ketika hari itu tiba, kita tidak akan melihat defisit dalam neraca perdagangan, tapi menghasilkan surplus perdagangan untuk Indonesia. Di sinilah menurut saya Pameran Marintec Indonesia juga memainkan peranan penting sebagai salah satu fasilitator dan pendukung para pemain industri dalam perkembangan ini," tambah Eddy.

Dr. Ir. Hari Nugraha Nurjaman, M.T, Ketua Ikatan Ahli Pracetak Prategang Indonesia (IAPPI) menyimpulkan, meskipun jumlah perusahaan Indonesia yang sudah mulai menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan memang tidak sebanyak di negara maju. "Namun, dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhannya sangat agresif. Perusahaan yang ingin hidup lebih lama, tentu saja harus menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan,” lanjut

Pameran Energy & Engineering dibuka untuk umum hingga 21 September 2019 mendatang di Jakarta International Expo, Kemayoran, mulai pukul 10.00 WIB hingga 18.00 WIB setiap hari.

Indonesia Energy & Engineering Show didukung oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Asosiasi Jasa Penambangan Indonesia (ASPINDO). Dukungan juga diberikan oleh AUSMINCHAM, Bali International Arbitration & Mediation Center (BIAMC), Djakarta Mining Club, The Women in Mining and Energy (WiME), Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia (AP3I), dan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI). Selanjutnya ada Perkumpulan Produsen Beton Ringan Indonesia (Proberindo), Perkumpulan Produsen Mortar Industri Indonesia (Promindo), Indonesian Welding Engineering Society (IWES), Ikatan Perusahaan Industri Kapal, dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO).

Penulis: Tim Publikasi Katadata

Video Pilihan

Artikel Terkait