Banjir di Penajam Paser Utara, Bappenas Sebut Bukan di Ibu Kota Baru

Kabupaten Penajam Paser Utara kebanjiran, namun disebut masih jauh dari ibu kota baru.
Dimas Jarot Bayu
19 Februari 2020, 17:35
banjir ibu kota baru, penajam paser utara
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Mobil yang membawa Presiden Joko Widodo melewati jalan berlumpur saat meninjau lokasi rencana ibu kota baru di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (17/12/2019).

Pemerintah menyatakan kawasan ibu kota baru bebas banjir. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan banjir yang terjadi di Desa Bukit Subur Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, bukan di kawasan ibu kota baru.

Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan bagian ibu kota. Namun, kata Suharso, lokasi yang kebanjiran di kabupaten tersebut masih jauh dari ibu kota baru. “Kami sudah perhitungkan ada (banjir), tapi enggak persis di tempat itu (ibu kota baru),” kata Suharso di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/2).

(Baca: Draf RUU Omnibus Law Ibu Kota Negara Rampung, Hanya Ada 30 Pasal)

Dia menyatakan pemerintah telah memiliki peta banjir di daerah tersebut untuk mengantisipasinya. “Kami punya peta banjir 100 tahunan, banjir 50 tahunan yang sebelum-sebelumnya. Kami tahu persis keadaan di sana,” kata Suharso.

Presiden Joko Widodo sempat menjelaskan alasan pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur karena lokasi baru bebas dari banjir dan tidak macet. Apalagi kemacetan dan banjir di Jakarta sulit teratasi.

Banjirnya Desa Bukit Subur, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara pada Selasa (18/2) dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Banjir disebabkan oleh hujan dengan intensitas yang cukup tinggi pada malam hingga pagi hari.

“Ditambah kondisi pasang surut air laut mencapai ketinggian muka air mencapai ±0,8 – 1,9 meter,” kata Agus dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/2).

(Baca: Jokowi Taksir Bangun Ibu Kota Baru Habiskan APBN Rp 100 Triliun)

Banjir tersebut mengakibatkan satu jembatan yang biasa dilalui motor dan mobil jebol. Tak hanya itu, banjir juga berdampak kepada 115 kepala keluarga atau 379 jiwa di daerah tersebut.

Adapun, BNPB mencatat ada 30 kejadian banjir di Kabupaten Penajam Paser Utara selama 2010-2019. Penajam Paser Utara, lanjut BNPB, memang memiliki potensi kerawanan terjadinya bencana banjir sesuai sifat dan kondisi masing-masing kecamatan.

Advertisement

(Baca juga: Pemerintah Jamin Ibu Kota Baru Bebas Banjir)

Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait