ESDM Gandeng Petrokimia Gresik dan IPB Jajaki Produksi Surfaktan EOR

Pembahasan detail mengenai kerja sama antara ESDM, Petrokimia Gresik dan IPB dalam waktu dekat.
Image title
13 Juli 2020, 15:00
EOR, ESDM, Petrokimia, IPB
KATADATA
Ilustrasi. ESDM mengembangkan produksi surfaktan EOR dengan menjajaki kerja sama dengan PT Petrokimia Gresik dan IPB.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM kerja sama riset dengan PT Petrokimia Gresik dan Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) - Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk pengembangan dan produksi Enhanced Oil Recovery (EOR).

Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana, berbagai pihak akan membahas detail mengenai kerja sama tersebut dalam waktu dekat. "Tim teknis akan segera membahasnya secara detail," ujar Dadan, dalam keterangan tertulis, Senin (13/7).

Sementara, Koordinator Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan (KP3) Teknologi Eksploitasi PPPTMGB LEMIGAS, Usman Pasarai menjelaskan, PPPTMGB LEMIGAS telah lama mengembangkan surfaktan untuk EOR dalam upaya meningkatkan produksi lapangan minyak. Metode ini berfungsi menurunkan tegangan antar muka air minyak.

(Baca juga: Ada Restrukturisasi, Proyek EOR Pertamina Jadi Tak Pasti)

Adapun, minyak yang terperangkap di batuan dapat terlepas setelah didorong oleh larutan surfaktan yang memenuhi kriteria EOR. Ketika terlepas dari batuan dan membentuk mikroemulsi, minyak akan mudah diproduksi dan dipisahkan dari air saat di permukaan.

Usman menjelaskan PPPTMGB LEMIGAS saat ini tengah melakukan riset injeksi chemical EOR untuk Lapangan Jirak milik Pertamina EP. Para peneliti KP3 Teknologi Eksploitasi terus menguji kinerja chemical EOR dalam peningkatan produksi minyak skala laboratorium, untuk memastikan implementasi EOR di lapangan berjalan baik.

Di samping fasilitas sintesa surfaktan dan fasilitas uji EOR, PPPTMGB LEMIGAS juga memiliki laboratorium pendukung penelitian untuk keperluan analisa batuan, minyak dan air formasi lapangan target.

(Baca juga: Tahan Laju Penurunan Produksi, Pertamina Kerjakan 8 Proyek EOR)

Salah satu kisah sukses keberhasilan metode EOR di lapangan minyak Duri, Provinsi Riau. Lapangan yang mulai beroperasi sejak 1954 ini pernah mengalami puncak produksi 65 ribu barel minyak per hari (Mbopd) pada tahun 1964 dan setelah itu turun secara signifikan.

Setelah persiapan 18 tahun, Duri Steam Flood Project (DSF) sukses mengimplementasikan metode EOR untuk meningkatkan kapasitas produksi. Sejak 1985, produksinya meningkat cukup tajam dan mencapai puncak produksi 296 juta barel pada tahun 1995. Produksinya kemudian terus turun dan saat ini kurang dari 100 Mbopd.

Sementara, Direktur Produksi PT Petrokimia Gresik, I Ketut Rusnaya menjelaskan, pihaknya memiliki unit produksi asam sulfat dengan kapasitas 2 x 1.800 TPD, sebagai sumber gas SO3 untuk bahan baku surfaktan. Perusahaan juga telah bekerja sama dengan SBRC IPB terkait uji coba mini plant sebagai pabrik pembuatan surfaktan sejak Maret 2020.

PT Petrokimia Gresik menyuplai gas SO3 dari pabrik asam sulfat dan membeli bahan baku methyl ester yang diproduksi SBRC IPB di Gunung Putri, Bogor. Pembangunan pabrik surfaktan skala besar dapat dibangun melalui sinergi bersama dengan Badan Litbang ESDM.

Adapun untuk mendorong KKKS melakukan EOR, pemerintah memberikan insentif berupa tambahan bagi hasil sebesar 10%. Ini tercantum dalam Permen ESDM Nomor 52/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 8/2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split.

(Baca juga: Polesan Akhir Regulasi untuk Memikat Investasi Hulu Migas)

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait