Trump Menyebut Ledakan Dahsyat Beirut Mirip Serangan

Hizbullah dan Israel membantah terlibat dalam ledakan tersebut.
Yuliawati
Oleh Yuliawati
5 Agustus 2020, 11:56
Trump, ledakan beirut, ledakan lebanon, mirip serangan
ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria/pras/cf
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ledakan di Beirut mirip serangan.

Ledakan dahsyat mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut, pada Selasa (4/8) pukul 18.02 waktu setempat yang menewaskan setidaknya 78 orang dan melukai lebih dari 4.000 orang lainnya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut ledakan tersebut "tampak seperti serangan yang mengerikan," menunjukkan bahwa peristiwa itu adalah pemboman, bukan kecelakaan.

Trump mengatakannya saat konferensi pers di Gedung Putih, hari ini."Saya bertemu dengan beberapa jenderal besar kami dan mereka sepertinya merasa begitu. Ini bukan semacam jenis ledakan manufaktur," kata Trump.

"Mereka akan lebih paham daripada saya, tetapi mereka tampaknya berpikir itu adalah serangan, itu semacam bom," ia melanjutkan.

Trump menyampaikan simpati terdalam AS kepada rakyat Lebanon atas peristiwa tersebut. "Amerika Serikat siap membantu Lebanon. Kami akan berada di sana untuk membantu," ujar Trump.

Pihak berwenang Lebanon mengatakan ledakan disebabkan kebakaran di sebuah gudang yang berisi bahan peledak di Pelabuhan Beirut. Ledakan ini meratakan bangunan tiga lantai. Suara ledakan  dan terdengar di seluruh kota dan pinggirannya.

Gubernur Beirut Marwan Abboud menangis ketika berbicara kepada wartawan di lokasi ledakan, membandingkan ledakan itu dengan pemboman nuklir yang mengerikan di kota-kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan sebanyak 2.750 ton amonium nitrat ditimbun selama enam tahun di gudang pelabuhan, lokasi terjadinya ledakan. Amonium nitrat adalah senyawa kimia yang biasa digunakan untuk pupuk dan menjadi campuran zat dalam konstruksi pertambangan.

Perdana Menteri meminta kabinet pemerintahan menggelar rapat darurat terkait ledakan ini pada Rabu, serta mengatakan status darurat selama dua pekan harus segera diumumkan.

Ledakan itu terjadi pada saat yang sensitif, hanya beberapa hari sebelum Pengadilan Khusus PBB untuk Lebanon dijadwalkan mengumumkan putusannya dalam kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri yang tewas dalam ledakan besar di Beirut pada 2005.

Negara ini juga mengalami krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade, dan juga menghadapi pandemi virus corona.

Dikutip dari Anadolu, sumber yang dekat dengan Hizbullah membantah tuduhan bahwa ledakan besar-besaran di Beirut adalah serangan oleh Israel terhadap gudang senjata mereka.

Para pejabat Israel yang berbicara kepada media lokal membantah keterlibatan Israel dalam tragedi itu, mengatakan ledakan itu bisa saja kecelakaan.

Reporter: Antara
Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait