Tesla Mulai Sasar Pasar Cina, Buat Pusat Penelitian dan Pusat Data

Tesla membangun pusat data baru di Cina yang akan berfungsi sebagai tempat penyimpanan data operasi secara lokal.
Image title
26 Oktober 2021, 12:03
Tesla, Cina, mobil listrik
ANTARA FOTO/REUTERS/Tingshu Wang/hp/cf
Pengunjung memakai masker pelindung melihat kendaraan SUV Tesla Model Y buatan Cina di ruang pamerang pembuat kendaraan listrik di Beijing, China, Selasa (5/1/2021).

Produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) saat ini sedang mengembangkan pusat penelitian dan pusat data di Cina. Tesla gencar masuk pasar Cina karena potensi pasar yang dianggap besar.

Tesla mengumumkan pembangunan pusat penelitian dan pusat data terpisah di Shanghai, Cina yang akan menunjang produksi mobil listrik perusahaan milik Elon Musk tersebut, yakni Model 3 dan Model Y.

Pusat penelitian Tesla di Cina akan menjadi yang pertama berdiri di luar Amerika Serikat (AS). "Di pusat penelitian itu kami akan mempekerjakan insinyur di bidang perangkat lunak, elektronik, hingga pengisian daya," kata Tesla dikutip dari Reuters pada Senin (25/10).

Tesla juga akan membuat pusat data baru di Cina yang akan berfungsi sebagai tempat penyimpanan data operasi secara lokal. Pembangunan pusat data itu untuk menuruti regulasi pemerintah Cina yang mengharuskan perusahaan untuk menyimpan data penting terkait industri secara lokal.

Sejak Mei 2021, Tesla telah mendirikan situs resminya untuk pasar Cina bersamaan dengan masuknya Tesla ke Negeri Tirai Bambu. 

Tesla sendiri gencar mengembangkan pasar ke Cina karena potensinya dianggap besar.  Berdasarkan data Canalys, penjualan mobil listrik di Cina diperkirakan naik lebih dari 50% tahun ini dibandingkan 2020 (year on year/yoy).

International Energy Agency (IEA) juga mencatat, pada 2018, Cina menjadi pasar terbesar mobil listrik global. Dari 5,1 juta unit mobil listrik yang terjual secara global, pasar Cina berkontribusi dengan menyerap 2,24 juta unit mobil listrik. Kemudian, AS sebanyak 1,13 juta unit.

Meski begitu, Tesla akan bersaing dengan sejumlah pemain lokal, seperti SAIC Motor, Nio dan Xpeng. Bahkan, sejumlah raksasa teknologi asal Cina pun gencar mengembangkan mobil listrik.

Huawei misalnya pada Mei lalu berkerja sama dengan produsen kendaraan, Chongqing Xiaokang menjual mobil listrik pertama bermerek Cyrus SF5. Mobil ini dibanderol 216.800 - 246.800 yuan atau US$ 27.771 - US$ 31.614 (Rp 398 juta – Rp 453 juta).

Xiaomi juga mengembangkan mobil listrik tahap awal pada tahun ini. Produsen ponsel pintar (smartphone) ini juga mempercepat produksi massal kendaraan listrik menjadi paruh pertama 2024.

“Xiaomi mengonfirmasi bahwa mereka sedang mengerjakan mobil awal tahun ini. CEO Lei Jun mengatakan proyek itu membuat kemajuan yang sangat baik akhir-akhir ini,” demikian dikutip dari AutoEvolution, pekan lalu (22/10)

Bulan lalu, Xiaomi secara resmi mendaftarkan bisnis kendaraan listriknya Xiaomi EV, Inc. Xiaomi EV juga memiliki 300 karyawan per September.

Tesla melaporkan pendapatan perusahaan mencapai US$ 13,75 miliar pada kuartal III-2021, tumbuh 56,85% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Menurut , capaian tersebut berada sedikit di atas perkiraan analis yang memproyeksikan pendapatan Tesla sekitar US$ 13,63 miliar. Berikut grafik Databoks:

 

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait