Mulai Terpukul Lemahnya Daya Beli, Penjualan Mobil Anjlok 29%

Penjualan sepeda motor memang lebih sensitif terhadap pelemahan daya beli masyarakat dibanding penjualan mobil.
Amal Ihsan Hadian
19 Juli 2017, 17:10
IIMS 2016
Arief Kamaludin|KATADATA
Pengunjung pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2016 di Jakarta, Kamis (7/4).

Pengusaha otomotif mulai mewaspadai faktor melemahnya daya beli masyarakat terhadap penjualan kendaraan tahun ini. Indikasinya adalah anjloknya penjualan mobil dan motor selama Juni lalu dibandingkan bulan sebelumnya maupun bulan yang sama 2016.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil selama Juni lalu hanya mencapai 66.370 unit. Jumlah tersebut turun 29,5% dibandingkan penjualan mobil pada bulan sebelumnya yang mencapai 94.091 unit. Jumlahnya juga jauh di bawah penjualan Juni 2016 yang sebanyak 91.488 unit.    

Ketua Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menilai, anjloknya penjualan mobil lebih disebabkan oleh siklus bulan puasa dan Lebaran pada Juni lalu. Jumlah hari kerja efektif selama bulan tersebut terpotong masa cuti bersama Lebaran.

Akibatnya, jumlah penjualan pun menurun. "Itu bulan pendek untuk jualan. Waktunya hanya sekitar 2 minggu," ujarnya kepada Katadata, Rabu (19/7).

Gaikindo pun sebenarnya sudah memprediksi potensi penurunan penjualan di bulan Juni lalu. Prediksi itu mengacu kepada data penjualan tahun lalu. Saat bulan puasa dan Lebaran, penjualan mobil pada Juli 2017 memang menurun drastis.

Pada bulan tersebut, penjualan mobil sebesar 61.891 unit, atau jauh di bawah penjualan bulan sebelumnya yang mencapai 91.488 unit. Selepas Lebaran, di bulan Agustus 2016, penjualan mobil kembali melesat hingga 96.282 unit.

Karena itu, Jongkie pun optimistis penjualan mobil akan kembali meningkat pada Juli ini. Gaikindo menargetkan penjualan mobil tahun ini akan mencapai 1,1 juta unit atau naik 50 ribu unit dari tahun sebelumnya.

Meski begitu, sebagian pelaku industri menganggap, anjloknya penjualan pada Juni lalu juga dipengaruhi melemahnya daya beli dan kehati-kehatian perbankan dalam menyalurkan kredit kendaraan.

Menurut Executive General Manager Astra Toyota Motor Fransiscus Soerjopranoto, banyak bank mulai menghitung potensi risiko dari kredit seret atau Non-Performing Loan (NPL) sehingga berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Kehati-hatian itu termasuk dalam mengucurkan kredit kendaraan bermotor.

Penjualan mobil Grup Astra bulan Juni lalu hanya mencapai 36.745 unit. Jumlah ini turun dibanding bulan sebelumnya yang sebanyak 50.071 unit. Penjualan mobil Low Cost Green Car (LCGC) Grup Astra juga turun dari 14.541 unit di Mei 2017 menjadi hanya 12.635 unit di Juni lalu.

Meski turun, Fransiscus optimistis penjualan mobil akan kembali meningkat bulan ini dan bulan-bulan berikutnya. Apalagi, semester ll-2017 ini, akan digelar pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS).

Pasar kendaraan bermotor roda dua rupanya tidak berbagi optimisme yang sama. Gunadi Sindhuwinata, Penasihat Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI), mengatakan, daya beli yang melemah membuat banyak konsumen yang menahan diri untuk membeli sepeda motor.

Ia bahkan memprediksi penjualan motor akan turun sekitar 5 persen dari realisasi tahun lalu. Tahun lalu, penjualan sepeda motor mencapai 5,93 juta unit.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya juga menunjukkan, penjualan sepeda motor memang lebih sensitif terhadap pelemahan daya beli masyarakat dibanding penjualan mobil.

Bulan Juni lalu, penjualan sepeda motor mencapai 379.467 unit. Jumlahnya merosot 28,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 531.496 unit. Jumlah tersebut juga jauh di bawah penjualan Juni 2016 yang mencapai 518.878 unit.

Editor: Yura Syahrul

Video Pilihan

Artikel Terkait