Didukung Institusi Keuangan, Aneka Tambang Siap Beli Saham Freeport

Pondasi keuangan Aneka Tambang hingga kini belum kuat untuk membiayai pembelian saham Freeport. Namun, mereka bisa bekerjasama dengan institusi keuangan.
Yura Syahrul
21 Oktober 2015, 15:20
Tedy Badrujaman
Arief Kamaludin|KATADATA
Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk Tedy Badrujaman.

KATADATA - PT Aneka Tambang Tbk siap membeli saham PT Freeport Indonesia, yang akan didivestasikan akhir tahun ini. Meski kondisi keuangannya belum mapan saat ini, perusahaan tambang milik negara (BUMN) ini sudah menjajaki pendanaan eksternal untuk membiayai hajatan tersebut.

Direktur Utama Aneka Tambang Teddy Badrujaman menyatakan pihaknya siap jika ditunjuk pemerintah untuk membeli 10,64 persen saham divestasi Freeport tahun ini. “Akan diadakan Focus Group Discusion (FGD) untuk kesiapan mengambil divestasi (saham) Freeport. Kami tetap bersedia," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Rabu (21/10).

Pernyataan itu menanggapi pertanyaan anggota DPR tentang kesiapan Aneka Tambang membeli sebagian saham perusahaan tambang emas di Papua tersebut. Dari sisi teknologi, Teddy mengklaim Aneka Tambang memiliki kemampuan dalam operasional tambang dalam seperti Freeport. Karena itu, selain Freeport, sebenarnya Aneka Tambang juga berminat membeli saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara beberapa tahun silam. Namun, keinginannya kandas dan saham divestasi itu jatah ke tangan konsorsium perusahaan daerah dan Grup Bakrie. “Bukan rezeki kami saat itu.”

Dari sisi pendanaan, Teddy mengakui, pondasi keuangan Aneka Tambang hingga kini belum kuat untuk membiayai pembelian saham Freeport. Namun, mereka bisa bekerjasama dengan institusi keuangan untuk mendukung pembiayaannya. Ia pun mengungkapkan sudah berdiskusi dengan sejumlah institusi keuangan untuk mendapatkan pinjaman. "Banyak yang bersedia agar kami mengambil divestasi tersebut," imbuhnya.

Meski begitu, Teddy enggan menjelaskan lebih detail mengenai upaya Aneka Tambang membeli saham Freeport skema pendanaannya. Yang jelas, dia menyambut baik rencana pemerintah menduetkan Aneka Tambang dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) untuk mendekap saham Freeport. “Inalum kan punya uang. Sistemnya seperti apa, itu nanti," ujarnya.

(Baca: Dua Pekan lagi, Keputusan Duet Antam-Inalum Beli Saham Freeport)

Seperti diketahui, Menteri BUMN Rini Soemarno berencana memadukan Aneka Tambang dan Inalum untuk membeli 10,64 persen saham Freeport. Pertimbangannya, kondisi keuangan Inalum saat ini lebih kuat dibandingkan Aneka Tambang. Pasalnya, Aneka Tambang tengah membutuhkan dana besar untuk membangun pabrik pengolahan bauksit di Menpawah, Kalimantan Barat senilai US$ 2 miliar. Sedangkan kondisi keuangan Inalum lebih longgar karena belum memiliki kegiatan operasional pertambangan.

Rini berharap, kesepakatan sinergi di antara dua perusahaan BUMN itu dapat diputuskan akhir bulan Oktober ini. Saat ini, pemerintah Indonesia telah mengempit 9,36 persen saham Freeport. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang kegiatan usaha penambangan minerba, Freeport memiliki kewajiban divestasi 30 persen saham kepada pemerintah Indonesia. Pelepasan saham itu dilakukan secara bertahap hingga tahun 2019 atau dua tahun sebelum masa kontrak karya Freeport berakhir.

Rencananya, 10,64 persen saham akan dilepas mulai bulan Oktober ini dan  10 persen lagi tahun depan. Ada tiga opsi divestasinya. Pertama, Freeport harus menawarkan sahamnya kepada pemerintah. Kedua, bila pemerintah tidak mengambilnya, opsi akan jatuh kepada BUMN dan badan usaha milik daerah (BUMD). Ketiga, opsi penawaran saham perdana ke publik (IPO) melalui bursa saham. Rini pernah menyatakan tengah mempertimbangkan opsi menggadaikan saham Freeport milik pemerintah untuk mendapatkan dana pembelian 10,64 persen saham Freeport.

(Baca: Divestasi Freeport, Pemerintah Wacanakan Gadai Saham )

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR Kurtubi tidak setuju jika skema divestasi saham Freeport melalui IPO karena pembelinya bisa berbagai pihak. Padahal, divestasi itu bertujuan mengalihkan sebagian saham Freeport kepada negara. “Bisa saja muncul PT Angin Ribut atau PT Antah Berantah. Saya tidak sependapat dengan divestasi saham di bursa," tandasnya.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait