Pelanggar PSBB Meningkat, Anies Kantongi Denda Rp 2,87 M

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengantongi denda sebesar RP 2,87 miliar atas pelanggaran PSBB hingga 10 Agutsus.
Image title
14 Agustus 2020, 11:01
PSBB, pelanggaran PSBB, aturan PSBB, denda PSBB
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz
Petugas Satpol PP mengawasi pelanggar aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang melaksanakan sanksi kerja sosial di Pasar Jatinegara, Jakarta, Kamis (11/6). Pemprov DKI Jakarta telah mengantongi denda sebesar Rp 2,98 miliar atas pelanggaran selama masa PSBB hingga 10 Agustus.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat terjadi peningkatan pelanggaran pada aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Hingga 10 Agustus, Pemprov telah mengantongi denda sebesar Rp 2,87 miliar atas pelanggaran selama masa PSBB. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, data Satuan Polisi Pamong Praja menemukan 2.556 pelanggar pada periode  1-6 Juli. Lalu, 4.901 pelanggaran selama 7-11 Juli, 5.968 pelanggaran selama 12-19 Juli, dan puncaknya 6.337 pelanggaran pada periode 20-29 Juli.

Sementarada 30 Juli-3 Agustus angkanya sempat menurun secara signifikan menjadi 7.102 pelanggar. "Jumlah pelanggar kembali meningkat pada 4-10 Agustus angkanya kembali meningkat menjadi 17.172 pelanggar," kata Anies melalui siaran per yang diterima Katadata.co.id, Kamis (13/8) malam.

Menurut dia, kondisi tersebut menandakan perlilaku masyarakat yang semakin tak disiplin menjaga kesehatan bersama di tengah merebaknya pandemi virus corona. Untuk kembali meningkatkan kedisiplinan, Pemprov DKI Jakarta pun menerapkan kebijakan berupa denda progresif bagi para masyarakat yang melakukan pelanggaran secara berulang-ulang.

Advertisement

Sanksi yang sama pun bakal diterapkan kepada badan usaha yang melanggar protokol kesehatan saat membuka kembali operasionalnya. "Kami juga menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada masyarakat dan juga tempat usaha yang telah menjalankan protokol kesehatan selama masa PSBB transisi," kata Anies.

Adapun imbas dari ketidakdisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan jumlah penyebaran virus di Ibu Kota terus melonjak. Hingga Kamis (13/8), menurut Anies jumlah pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit maupun isolasi mandiri, saat ini bertambah 119, sehingga total kasus aktif menjadi 9.044 orang. Sedangkan jumlah pasien yang terkonfirmasi positif yang meninggal dunia bertambah 13 orang, sehingga total menjadi 981 orang.

Berdasarkan data itu, tingkat kematian di Jakarta sebesar 3,5% dan masih di bawah nasional yaitu 4,5%. Untuk pasien sembuh bertambah 489 orang, sehingga total secara kumulatif mencapai 17.838.

Pemprov DKI Jakarta pun terus meningkatkan upaya testing melalui metode polymerase chain reaction. Hasilnya, tingkat temuan kasus positif baru atau positivity rate di Jakarta yang cenderung meningkat selama sepekan terakhir, yaitu di angka 8,7%.

Anies menyebut, jika diakumulasikan sejak awal, positivity rate di Jakarta berada di angka 5,7%. Sementara standar positivity rate dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk dinyatakan aman dan terkendali adalah 5%.

 Berdasarkan angka penyebaran virus yang kian melonjak, Pemprov DKI Jakarta akhirnya mengambil keputusan untuk memperpanjang PSBB transisi I selama dua pekan ke depan hingga 27 Agustus mendatang. Perpanjangan PSBB yang bertepatan dengan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 terpaksa harus meniadakan seluruh kegiatan-kegiatan yang biasanya rutin digelar seperti perlombaan dan malam tasyakuran.

Selain itu, kegiatan yang berpotensi kerumunan seperti hari bebas kendaraan (CFD) pun kembali ditiadakan sementara waktu. "Lomba-lomba inilah yang menyebabkan kerumunan tanpa terkendali, sedangkan upacara relatif bisa dikendalikan karena jarak antar berdirinya bisa diatur hingga tata caranya," kata Anies.

 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait