Presiden Jokowi: Tidak Masalah Uni Eropa Tak Beli CPO Indonesia

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Ilustrasi, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kiri) bersama Presiden Joko Widodo (tengah) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin berjalan usai meresmikan pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan di Jakarta, Jumat (10/1/2020).
Penulis: Rizky Alika
10/1/2020, 20.47 WIB

Dengan B30 saja, kata Jokowi, Indonesia dapat menghemat devisa hingga Rp 100 triliun per tahun. Penghematan tersebut dapat mencapai lebih dari Rp 200 triliun bila menggunakan biodiesel 50% (B50).

(Baca: Wamendag Optimistis RI Menangkan Gugatan Diskriminasi Sawit Eropa )

Dalam acara tersebut, Jokowi juga menyampaikan nilai-nilai Trisakti Presiden Soekarno, yaitu berdikari di bidang ekonomi. "Jadi kita tidak mudah ditekan oleh siapapun, dari negara mana pun. Kita akan mandiri," ujar dia.

Sebagaimana diketahui, Uni Eropa memberlakukan aturan arahan energi terbarukan atau Renewable Energy Directive II (RED II). Aturan itu menyatakan, konsumsi bahan bakar nabati berisiko tinggi di Uni Eropa akan dibatasi pada 2020-2023. CPO masuk dalam kategori minyak nabati berisiko tinggi.

Selain itu, Uni Eropa mengenakan bea masuk antisubsidi dengan rentang marjin 8-18% untuk biodiesel Indonesia. Penyebabnya, Uni Eropa menilai pemerintah Indonesia memberikan fasilitas subsidi kepada produsen atau eksportir biodiesel yang melanggar ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

(Baca: Bahas Sengketa Sawit & Nikel, RI Akan Hadapi Eropa Januari 2020)

Halaman:
Reporter: Rizky Alika