Dua Minggu Perang dengan Iran, Trump Mulai Terdesak secara Politik
Dua minggu sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran, Presiden Donald Trump semakin terpojok secara politik.
Ia menjadi lebih gelisah terhadap pemberitaan dan belum dapat menemukan cara untuk menjelaskan mengapa ia memulai perang di Iran atau bagaimana ia akan mengakhirinya. Publik AS khawatir terhadap kematian warga AS dalam konflik tersebut, lonjakan harga minyak, dan pasar keuangan yang anjlok. Bahkan, beberapa pendukungnya mempertanyakan rencananya dan angka jajak pendapat secara keseluruhan menurun.
Sementara itu, Rusia mendapat keuntungan dari hari-hari awal perang setelah Trump melonggarkan sanksi terhadap beberapa pengiriman minyak dari negara tersebut. Pelonggaran itu, disertai dengan naiknya harga minyak, semakin melemahkan dorongan bertahun-tahun untuk membatasi kemampuan Presiden Vladimir Putin dalam berperang di Ukraina.
Dengan kendali Kongres dipertaruhkan pada pemilu sela November mendatang, Partai Demokrat bersatu menentang kebijakan Trump terkait Iran. Demokrat menunjuk kekacauan ekonomi sebagai bukti bahwa kaum Republik belum memenuhi janji mereka untuk menurunkan biaya hidup sehari-hari.
“Saya rasa Demokrat berada dalam posisi yang baik untuk November ini dan pemilihan sela,” kata Kelly Dietrich, CEO National Democratic Training Committee, yang melatih pendukung partai untuk mencalonkan diri dan menjadi staf kampanye, kepada Associated Press (AP).
Dietrich mengatakan, dua minggu terakhir menunjukkan pemerintahan Trump gagal dalam perencanaan jangka panjang. “Mereka bekerja sambil menebak-nebak, dan kita yang lain yang menanggung akibatnya,” katanya.
Trump Minta Bantuan Amankan Selat Hormuz
Trump menghabiskan waktu berjam-jam di klub golfnya di West Palm Beach, Florida, selama dua hari di akhir pekan. Dia juga menghadiri acara penggalangan dana tertutup untuk super PAC MAGA Inc., miliknya di perkebunan Mar-a-Lago pada Sabtu (14/3) malam.
Akhir pekan lalu, Trump bermain golf di propertinya yang lain di Florida Selatan sehari setelah menyaksikan upacara pemindahan jenazah yang khidmat untuk enam tentara AS yang tewas dalam perang Iran. Jumlah korban tewas itu meningkat minggu lalu.
Trump mengeluh tentang liputan media mengenai konflik tersebut. “Media sebenarnya ingin kita kalah dalam Perang,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social, pada Sabtu (14/3). Regulator penyiaran AS (FCC) kemudian mengancam akan mencabut izin siaran kecuali mereka "memperbaiki arah."
Presiden Trump — yang merahasiakan rencana perangnya untuk Iran dari sekutu selain Israel — untuk pertama kalinya menyarankan AS perlu bergantung pada komunitas internasional untuk membantu kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz. Jalur transportasi migas ini ditutup oleh Iran sehingga pasar energi global mengalami kekacauan. Harga minyak mentah bahkan sempat menyentuh US$ 120 per barel.
Iran menyatakan mereka berencana untuk terus menyerang infrastruktur energi dan menggunakan penutupan Selat Hormuz sebagai tekanan terhadap AS dan Israel. Seperlima minyak yang diperdagangkan di dunia mengalir melalui jalur air tersebut.
“Banyak negara, terutama yang terkena dampak percobaan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, akan mengirimkan kapal perang, bersama dengan AS, untuk menjaga Selat tetap terbuka dan aman,” kata Trump pada hari Sabtu (14/3). Ia mengatakan pengamanan Selat Hormuz seharusnya selalu menjadi upaya tim.
Tidak jelas apakah dorongan multinasional itu akan dimulai atau apakah Trump hanya berharap demikian. "Semoga Cina, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan lainnya, yang terkena dampak akan mengirim kapal ke wilayah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi terancam oleh Iran," ujar Trump dalam unggahannya, Sabtu lalu.
Gedung Putih belum memberikan rincian lebih lanjut tentang maksud unggahan Trump tersebut, tetapi negara-negara lain baru bereaksi dengan hati-hati sejauh ini.
Korea Selatan berencana untuk "berkoordinasi erat dan meninjau dengan cermat" komentar Trump. Sementara itu, Jepang memantau perkembangan dengan seksama.
Kementerian pertahanan Inggris mengatakan pihaknya "berdiskusi dengan sekutu dan mitra mengenai berbagai opsi untuk memastikan keamanan pelayaran di kawasan itu."
Seorang juru bicara Kedutaan Besar Cina di Washington mengatakan Cina akan menjaga selat itu aman dan stabil melayani kepentingan bersama masyarakat internasional. "Sebagai teman yang tulus dan mitra strategis negara-negara Timur Tengah, Cina akan terus memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait," kata Kedutaan Besar Cina di AS.
Trump telah berjanji di awal perang bahwa kapal-kapal Angkatan Laut AS akan mengawal tanker melalui jalur air tersebut. Namun, hal itu belum terjadi. "Itu akan segera terjadi. Sangat segera," katanya sebelum naik Air Force One untuk terbang ke Florida.
Namun, pertanyaan tentang selat itu terus merongrong pernyataan Trump baru-baru ini saat kampanye di Kentucky. Ia mengklaim AS telah menang perang.
"Anda tahu, Anda tidak pernah suka mengatakan terlalu dini bahwa Anda menang. Kita menang," katanya. "Kita memenangkan, dalam jam pertama, itu sudah selesai."
Dampak Politik yang Luas dari Perang Iran
Pekan lalu, Departemen Keuangan AS mengumumkan penangguhan sanksi Rusia selama 30 hari. Hal ini bertujuan untuk membebaskan kargo minyak Rusia yang terdampar di laut guna membantu meringankan kekurangan pasokan yang disebabkan oleh perang Iran.
Hal itu terjadi meskipun para analis mengatakan kenaikan harga minyak akibat blokade produksi di Teluk Persia menguntungkan ekonomi Rusia. Moskow sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk membiayai perangnya di Ukraina, dan sanksi menjadi hambatan yang semakin besar.
Beberapa sekutu utama Washington mengecam langkah tersebut sebagai tindakan yang memperkuat Putin. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut pelonggaran sanksi sebagai "bukan keputusan yang tepat" dan mengatakan hal itu tidak membantu perdamaian karena mengarah pada "penguatan posisi Rusia."
Dengan persaingan pemilu paruh waktu yang mulai memanas, Trump ditanya tentang pesannya kepada para pemilih yang percaya harga bensin terlalu mahal.
“Anda akan melihat penurunan harga bensin, gas, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan energi yang sangat besar, segera setelah ini berakhir,” kata Trump, Jumat (13/3).
Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan di acara “Meet the Press” NBC, pada Minggu (15/3), tentang harga energi yang lebih tinggi. “Rakyat Amerika merasakannya sekarang dan akan (bertahan) selama beberapa minggu lagi.”
Semakin lama konflik ini berlangsung, semakin menonjol pertanyaan tentang pemilu paruh waktu. Senator Rand Paul, politisi Partai Republik dari Kentucky, baru-baru ini menyatakan di acara “Mornings with Maria” Fox Business bahwa jika harga bensin dan minyak terus tinggi, “Anda akan melihat pemilu yang menjadi bencana bagi Partai Republik."
Iran bahkan telah memecah basis pendukung Trump yang mengusung slogan “Make America Great Again” (MAGA). Sebagian mendukung aksi tersebut dan yang lainnya yang mengatakan secara tegas berkampanye agar Trump mengakhiri perang.
Tokoh-tokoh terkemuka di sayap kanan, termasuk Tucker Carlson dan Megyn Kelly, telah mengkritik Trump dengan tajam. Namun, Trump terus bersikeras dialah yang menciptakan gerakan MAGA. Ia yakin gerakan itu akan mengikutinya ke mana pun, dalam isu apa pun.
Gejolak politik ini membuat beberapa politisi Demokrat memprediksi partai mereka dapat meraih kemenangan dalam pemilihan paruh waktu yang menyaingi kemenangan gelombang biru 2018 selama masa jabatan pertama Trump.
“Demokrat hanya perlu terus mengingatkan orang-orang bahwa dia berjanji untuk menurunkan harga, dan harga masih terus naik,” kata ahli strategi Demokrat Brad Bannon tentang Trump. “Sekarang harga akan naik lebih tinggi lagi karena kenaikan harga bensin dapat meningkatkan harga barang-barang lainnya, termasuk di toko kelontong,” ujarnya.