Biaya di Marketplace Bisa Tembus 30%, Seller UMKM Keluhkan Margin Kian Tipis
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di marketplace mengeluhkan semakin besarnya biaya yang harus ditanggung penjual (seller). Berbagai potongan biaya dinilai membuat margin keuntungan penjual semakin tipis, terutama untuk produk dengan harga terjangkau.
Salah seorang pedagang online produk aksesoris wanita, Vivi Leonita, mengatakan saat ini seller tidak hanya menghadapi biaya admin marketplace. Tetapi, berbagai komponen biaya tambahan lain seperti biaya pemrosesan pesanan, layanan logistik, promosi, hingga komisi afiliasi.
Vivi, yang sudah menjadi pedagang online sejak 2015, saat ini aktif berjualan di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop. Ia menjelaskan, di TikTok Shop misalnya, terdapat sejumlah biaya wajib yang dikenakan kepada penjual.
“Biaya wajib ini seperti komisi platform, komisi dinamis, biaya pemrosesan pesanan, layanan logistik, hingga biaya preorder dan layanan mall bagi seller tertentu,” kata Vivi kepada Katadata.co.id, Rabu (13/5).
Selain itu, ada pula biaya tambahan yang bersifat opsional tetapi banyak digunakan seller. Biaya ini seperti Growth Xtra, campaign berbayar, iklan GMV Max, hingga komisi afiliator.
Sementara di Shopee, Vivi mengatakan seller dikenakan biaya admin, biaya pemrosesan pesanan, biaya preorder, dan biaya layanan mal. “Di luar itu, banyak juga seller yang mengikuti program Gratis Ongkir Xtra dan Promo Xtra, ditambah biaya iklan serta afiliasi,” ujarnya.
Menurut Vivi, besarnya total biaya yang harus ditanggung pedagang sangat bergantung pada kategori produk dan program yang diikuti.
“Untuk produk dengan harga murah seperti aksesori, total biaya marketplace dapat menjadi sangat besar secara persentase. Jika seller mengikuti berbagai program promosi, menggunakan iklan, dan afiliasi, total biaya dapat mencapai lebih dari 30% dari harga jual,” katanya.
Ia menilai produk dengan harga murah justru menjadi yang paling terdampak. Hal ini karena persentase potongan terhadap harga jual menjadi jauh lebih besar.
“Semakin murah harga produk, semakin besar persentase biaya terhadap harga jual, sehingga seller perlu sangat cermat dalam menghitung margin,” ujarnya.
Tak hanya biaya marketplace, pelaku UMKM juga menghadapi kenaikan harga bahan pengemasan seperti plastik jenis oriented polypropylene atau OPP, bubble wrap, polymailer, lakban, hingga stiker.
“Secara persentase mungkin terlihat kecil, tetapi bagi usaha yang mengirim ribuan paket setiap hari, dampaknya cukup signifikan. Jika terjadi retur, bahan kemasan umumnya tidak dapat digunakan kembali sehingga menjadi biaya tambahan,” kata Vivi.
Ia menambahkan, tren biaya marketplace dalam beberapa tahun terakhir juga terus meningkat. Jika sebelumnya pedagang hanya dikenakan biaya admin yang relatif kecil, kini terdapat berbagai komponen biaya tambahan lain.
“Awalnya, seller hanya dikenakan biaya admin yang relatif kecil. Saat ini terdapat berbagai komponen biaya tambahan seperti biaya pemrosesan pesanan, layanan logistik, program promosi, dan biaya iklan,” ujarnya.
Kebijakan Marketplace Untungkan Konsumen Namun Menambah Biaya Penjual
Menurut dia, kebijakan marketplace kini juga semakin berorientasi pada perlindungan konsumen. Meski baik bagi pelanggan, kondisi tersebut dinilai membawa konsekuensi tambahan bagi penjual.
“Dari sisi pelanggan tentu hal ini baik, namun di sisi seller ada konsekuensi tambahan yang perlu diperhitungkan, seperti biaya retur, penolakan paket COD, dan potensi ongkos kirim yang dibebankan kepada penjual meskipun kesalahan bukan berasal dari seller,” katanya.
Vivi mencontohkan, seller dapat tetap dikenakan biaya ongkos kirim ketika pembeli COD menolak paket karena berubah pikiran. “Sebagai contoh, apabila pembeli COD menolak paket karena berubah pikiran, seller dapat dikenakan biaya ongkir sekitar Rp5.000 per arah,” ujarnya.
Selain itu, perubahan kebijakan marketplace juga disebut berlangsung semakin cepat sehingga pedagang harus terus menyesuaikan strategi usaha. Akibatnya, Vibi merasa sebagai pedagang harus terus memantau dan menyesuaikan strategi usaha agar tetap dapat menjaga margin dan operasional bisnis.
Ia menegaskan, kenaikan berbagai biaya tersebut sangat memengaruhi keuntungan penjual online. Pedagang harus menghadapi kenaikan biaya marketplace, bahan baku, kemasan, tingginya retur, risiko COD gagal, biaya promosi, hingga perubahan kebijakan yang dinamis.
“Semua komponen tersebut membuat margin keuntungan semakin tipis, terutama untuk produk dengan harga terjangkau,” kata Vivi.
Bahkan, Vivi mengaku sudah sulit untuk menghitung berapa kenaikan biaya admin sejak dulu hingga saat ini. Hal itu dikarenakan biaya yang dikenakan berbeda, tergantung banyak aspek seperti jarak lokasi pembeli yang menentukan ongkir dan jenis barang yang dijual.
Namun, Vivi mencontohkan seperti penjualan untuk produknya di TikTok Shop dengan total pendapatan satu transaksi Rp 24.500. Dari total ini potongan yang ia dapatkan dari aplikasi bisa mencapai sekitar Rp 8 ribu. Potongan ini berasal dari biaya komisi platform, layanan pre order, ongkir, komisi toko afiliasi, komisi dinamis, biaya cashback bonus, hingga biaya layanan voucher ekstra.
Sementara di Shopee, ia mencontohkan dengan total pembelian satu transaksi Rp 21.500, Vivi terkena potongan sekitar Rp 7 ribu. Potongan ini untuk biaya administrasi, biaya layanan, biaya proses pesanan, dan biaya komisi sehingga penghasilan akhirnya hanya sekitar Rp 14 ribu.