Biaya di Marketplace Bisa Tembus 30%, Seller UMKM Keluhkan Margin Kian Tipis
Meski demikian, Vivi menilai marketplace tetap menjadi sarana efektif bagi UMKM untuk menjangkau konsumen di seluruh Indonesia. Namun penjual pada akhirnya perlu semakin teliti dalam menghitung harga jual dan menjaga efisiensi usaha.
“Karena itu, pedagang perlu menerapkan strategi seperti bundling, efisiensi operasional, dan diversifikasi saluran penjualan agar usaha tetap sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Jalan Pintas Naikkan Harga
Salah satu pelaku usaha fesyen lokal Semarang, Andri, juga mulai merasakan tekanan dari kenaikan biaya administrasi di marketplace. Andri mengaku total biaya yang dibebankan platform e-commerce kini cukup besar sehingga berdampak langsung terhadap margin keuntungan.
Andri saat ini menjual berbagai produk kebaya dan wastra (kain tradisional) secara online maupun offline. Penjualan online dilakukan melalui Instagram dan marketplace seperti Shopee, sedangkan penjualan offline dilakukan lewat bazar dan market rutin.
Andri mulai berjualan di marketplace sejak 2023. Ia menjelaskan, biaya yang dikenakan marketplace saat ini terdiri dari biaya administrasi sebesar 8,25%, biaya layanan sekitar 4%, serta biaya proses pesanan.
“Total biaya yang dibebankan (kepada penjual) kurang lebih 14%,” katanya.
Menurutnya, tren kenaikan biaya admin terjadi secara bertahap. Pada awal menggunakan marketplace dan belum menjadi star seller, Andri mengaku belum dikenakan biaya administrasi. Namun setelah jumlah pesanan mencapai 50 transaksi, biaya admin mulai dikenakan sebesar 6%, kemudian meningkat menjadi 8%, lalu naik menjadi 14%.
Kenaikan biaya tersebut dinilai memberikan dampak signifikan terhadap keuntungan penjual online, terutama ketika total biaya sudah menembus di atas 10%.
“Pada awal kenaikan biaya admin sebesar 6%-8%, margin laba masih terpenuhi. Ketika biaya admin telah menyentuh angka di atas 10%, pengaruh ke laba cukup besar sehingga mau tidak mau ada penyesuaian harga di marketplace,” kata Andri.
Ia menambahkan, sejumlah pelaku usaha bahkan mulai mempertimbangkan kanal penjualan alternatif di luar marketplace. Andri pun juga beralih ke platform lain seperti website mandiri untuk menjual produknya.
Sebagai strategi bertahan, Andri kini menerapkan perbedaan harga antara penjualan di Instagram dan marketplace. Produk yang dijual melalui marketplace dipatok lebih mahal untuk menutupi biaya platform, sementara pembelian melalui Instagram menawarkan ongkos kirim lebih murah dan promo tertentu.
“Jika pembelian melalui Instagram, ada pilihan ongkir yang murah dan sering ada promo ongkir. Jika pembelian melalui marketplace, harga produk lebih mahal dari harga di Instagram tapi customer bisa menikmati gratis ongkir dan promo lainnya yang diberikan marketplace,” ujarnya.
Di sisi lain, kenaikan harga plastik disebut tidak terlalu memengaruhi biaya produksinya. Andri mengaku sejak awal berdagang berkomitmen mengurangi penggunaan plastik dengan memanfaatkan kertas cokelat dan paper bag sebagai kemasan utama produk.
Shopee sebelumnya menaikkan biaya layanan program gratis ongkos kirim atau ongkir XTRA bagi pedagang. Program ini bersifat opsional. “Mulai 2 Mei 2026, Shopee akan menyesuaikan biaya layanan gratis ongkir XTRA untuk produk ukuran biasa dan ukuran khusus,” kata Shopee, seperti dikutip dari situs resminya, Senin (13/4).
Dalam kebijakan baru itu, Shopee membedakan produk menjadi dua jenis yakni biasa dan khusus. Produk biasa yakni yang memiliki berat di bawah lima kilogram (kg), serta panjang, lebar, atau tinggi kurang dari 60 sentimeter (cm) dan dimensi di bawah 20 ribu cm kubik.
Sedangkan produk ukuran khusus, memiliki berat di atas lima kg, serta panjang, lebar, maupun tinggi lebih dari 60 cm dan dimensi di atas atau sama dengan 20 ribu cm kubik.
Sementara itu, platform Tokopedia dan TikTok Shop akan menerapkan kebijakan baru bagi para pedagangnya terkait layanan logistik. Pedagang di kedua platform ini akan dikenakan biaya layanan logistik mulai 1 Mei 2026.
“Mulai 1 Mei 2026 pukul 10.00, biaya layanan logistik akan dikenakan pada semua pesanan baru,” kata Tokopedia seperti dikutip dari situs resmi seller Tokopedia, Jumat (10/4).
Biaya tersebut dikenakan kepada penjual oleh penyedia layanan logistik untuk semua pesanan yang berkaitan dengan logistik. Hal ini termasuk pemrosesan pesanan, koordinasi dan pengiriman.
Untuk besarnya biaya akan dihitung berdasarkan persentase dari ongkos kirim yang dibayar pembeli di setiap pesanan. Platform menyatakan kebijakan ini tidak akan berdampak kepada pembeli.
“Biaya ini ditanggung di sisi penjual dan tidak akan ditampilkan kepada pembeli saat checkout,” kata Tokopedia.