Di COP30, Pertamina Ungkap Strategi Dekarbonisasi dan Bisnis Hijau

Dok. Pertamina
Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, memaparkan strategi dekarbonisasi perusahaan di Konferensi Perubahan Iklim PBB COP30 di Belem, Brasil.
12/11/2025, 16.11 WIB

PT Pertamina (Persero) memperluas peta jalan (roadmap) perusahaan menuju nol emisi bersih (net zero emission/NZE), bukan hanya pada emisi langsung dan tidak langsung tetapi kini sudah mencakup emisi dari seluruh rantai bisnisnya.

Di Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP30 yang berlangsung di Belem, Brasil, Pertamina juga memaparkan strategi dekarbonisasi dengan melanjutkan transformasi bisnis dan memperkuat langkah-langkah keberlanjutan pada seluruh lini bisnis perusahaan.

Agung Wicaksono, Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis Pertamina, mengatakan sebelumnya fokus pengurangan emisi mencakup hanya emisi langsung (Scope 1) dan emisi tidak langsung dari energi yang dibeli (Scope 2). Pertamina kini menambahkan Scope 3 yang mencakup pengukuran dan pengendalian emisi dari seluruh rantai bisnis.

“Kami sedang memperbarui roadmap Net Zero Emission Pertamina, tidak hanya mencakup emisi Scope 1 dan Scope 2, tetapi kini juga menambahkan Scope 3 untuk memastikan seluruh rantai bisnis energi kami berkontribusi terhadap pengurangan emisi,” ujar Agung, usai pembukaan KTT COP di Bèlem, Brasil, Rabu (12/11).

Agung mengatakan, perseroan memiliki komitmen terhadap agenda keberlanjutan global dalam mengatasi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan, Pertamina bahkan telah mengembangkan direktorat khusus yang membidangi transformasi dan keberlanjutan.

Menurut Agung, Pertamina sudah dan sedang mengembangkan strategi NZE di seluruh anak perusahaan dan lini bisnis, dengan menyelaraskan keunggulan operasional dengan tujuan iklim nasional. 

“Upaya dekarbonisasi juga dihasilkan dari bisnis Pertamina NRE dengan pemanfaatan pembangkit listrik hijau untuk operasional seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), hidro dan angin, serta pada saat bersamaan mendukung ekosistem kendaraan listrik (EV), mengembangkan hidrogen dan amonia hijau,” ujar Agung.

Pada lini bisnis hulu, perseroan menjalankan efisiensi energi, serta pengurangan metana dan flare loss. Pertamina juga mendorong peningkatan portofolio hulu serta mengembangkan Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization & Storage (CCUS) dan penangkapan karbon berbasis alam.

Pengembangan Program CCS dan CCUS

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai subholding upstream Pertamina, terus memacu pengembangan 13 proyek CCS/CCUS (project pipeline 2025-2026), dengan potensi penyimpanan karbon mencapai 7,3 giga ton (GT). Perseroan juga menargetkan pengembangan klaster bisnis CCS/CCUS dengan kapasitas hulu-hilir (end-to-end/E2E) sekitar 60 metrik ton per tahun (MTPA).

“CCUS/CCS Indonesia berpotensi menjadi pemimpin di Asia Tenggara dengan mengatasi emisi di sektor-sektor yang sulit dikurangi. Ini menjadi resep utama dekarbonisasi di sektor hulu migas bagi Pertamina sebagai perusahaan energi. Potensinya bisa berkontribusi mendukung target penurunan emisi 68% dari sektor energi pada 2030,” ujarnya.

Pada sektor bisnis pengolahan, Pertamina mendorong produksi biofuel (Hydrotreated Vegetable Oil, Pertamax Green dan Sustainable Aviation Fuel/SAF), bahan baku rendah karbon (UCO, CPO), dan amonia biru.

Pada bisnis gas, perusahaan menjaga tata kelola biaya transmisi, kompresor elektrifikasi, dan menggunakan bahan bakar rendah karbon untuk armada, sekaligus menghasilkan Bio-LNG, hydrogen blending, natural gas, biomethane, hidrogen, dan transportasi amonia.

Pada sektor pemasaran dan niaga, dekarbonisasi dilakukan dengan distribusi bahan bakar rendah karbon seperti biodiesel, bioetanol, SAF, perluasan Green Energy Station, serta berpartisipasi pada pasar karbon.

“Sesuai dengan pesan COP30, yaitu it's time to act, Pertamina sudah melakukan aksi – dan di sini, kami menyampaikan hal-hal yang telah dilakukan dalam bidang dekarbonisasi dan energi terbarukan seperti SAF, juga perkembangan biodiesel dan perluasan bioethanol dengan belajar banyak dari kesuksesan Brasil,” ucapnya.

Agung menyatakan upaya-upaya yang dilakukan oleh Pertamina saat ini selaras dengan standar global, yakni membatasi kenaikan suhu rata-rata global hingga di bawah 2°C. Dia sepakat bahwa masih diperlukan aksi pencegahan iklim yang lebih kuat untuk memenuhi target NZE Pemerintah Indonesia.

“Untuk itulah Pertamina menjalankan transformasi bisnis dan langkah keberlanjutan dengan tegas dan kuat, mendorong nilai dan ketahanan jangka panjang bagi masa depan energi Indonesia dan mencapai target emisi nol bersih atau NZE,” ujar Agung.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah