ESDM Ramal Kendaraan Listrik Akan Turunkan Konsumsi BBM 0,44 Juta KL

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.
Karyawan mengganti baterai sepeda motor listrik di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), Gedung Direktorat Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM), Jakarta, Senin (21/12/2020).
Editor: Yuliawati
15/4/2021, 17.55 WIB

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan penurunan konsumsi BBM mencapai 0,44 Juta kiloliter (KL) pada 2021. Penurunan konsumsi BBM ini dengan asumsi semakin banyak penggunaan kendaraan listrik yang didukung dengan infrastruktur.  

ESDM memperkirakan potensi penggunaan mobil listrik mencapai 125 ribu unit, serta kendaraan motor listrik mencapai 1,344 juta unit.

Untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik itu diperlukan infrastruktur pendukung seperti 572 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Kemudian Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) mencapai 3000 unit.

"Maka diperkirakan akan menurunkan konsumsi BBM 0,44 juta kiloliter di 2021 dan 6,03 juta kiloliter di tahun 2030," ujar Senior Policy Analyst Direktorat Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Tony Susandy dalam diskusi secara virtual, Kamis (15/4).

Seiring semakin banyak penggunaan kendaraan listrik maka proyeksi penghematan energi pada 2030 menjadi 29,79 juta barel setara minyak (MBOE). Kemudian potensi pengurangan impor BBM dapat mencapai 81.63 ribu BOEPD dan total pengurangan emisi gas rumah kaca dapat mencapai 7,23 juta ton CO2.

Adapun penggunaan kendaraan listrik sebagai transportasi menurut Tony berpotensi dapat menurunkan emisi karbondioksida sebesar 62.400 CO2 di tahun ini.

Pada tahun tersebut, rincian jumlah motor listrik harus mencapai 55.098 unit, mobil listrik 4.326 unit, bus listrik mencapai  1.571 unit, dan kendaraan listrik jenis lainnya mencapai 1.406 unit. "Kita harapkan dalam waktu lima tahun ke depan dapat meningkat empat kalinya," ujar dia.

Meski demikian, untuk merealisasikan itu semua bukan perkara mudah. Ada beberapa tantangan dan hambatan yang perlu dihadapi. Misalnya penguasaan teknologi baterai karena untuk menjamin kualitas kendaraan listrik dibutuhkan kapasitas baterai yang sangat besar dan tahan lama.



Kemudian yang berikutnya mengenai infrastruktur pendukung kendaraan listrik di Indoensia. Salah satunya yakni untuk SPKLU maupun SPBKLU. "Jangan sampai nanti kendaraan listrik sudah mulai banyak tapi tempat pengisian enggak sesuai," ujarnya.

Pembangunan fasilitas daur ulang baterai merupakan salah satu poin yang tak kalah penting. Ia pun mengajak para investor untuk dapat masuk ke bisnis pabrik pengolahan baterai bekas. "Buat teman-teman Startup ini bisa masuk ke situ. Limbahnya kan ini yang diolah jadi peluang bisnis," ujarnya.

Berdasarkan peta jalan Kementerian ESDM, jumlah SPKLU pada tahun 2021 ini ditargetkan sebanyak 572 unit dan akan terus mengalami peningkatan hingga 31.859 unit pada tahun 2030. Untuk SPBKLU, tahun ini ditargetkan ada 3.000 unit. Kemudian bertambah menjadi 67.000 unit SPBKLU pada tahun 2030.

Reporter: Verda Nano Setiawan