Melihat Lebih Dekat PLTU di Pesisir Jawa yang Bakal Pensiun Dini

Katadata/Wahyu Dwi Jayanto
Warga setempat naik perahu melewati kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon-1, Jawa Barat.
29/11/2025, 08.09 WIB

Pagi hari di Kota Cirebon pada pertengahan November cukup cerah. Gunung Ciremai di sisi tenggara menambah ornamen cantik di langit biru. Lalu timbul rasa penasaran, apakah di pesisir laut sana, tempat pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara beroperasi, langit masih sama birunya?

Sehari sebelumnya, saya mendapat tawaran menarik dari pengelola PLTU Cirebon-1. Area itu terbuka untuk dikunjungi sejumlah wartawan, untuk membuktikan pertanyaan di atas.

“Saya undang datang ke sana, supaya bisa tahu persis bagaimana kondisi kita, apakah benar-benar bersih atau hanya bersih di atas kertas,” ajak Joseph Pangalila, Wakil Direktur Utama PT Cirebon Electric Power.

Dari pusat Kota Cirebon, butuh sekitar 30 menit perjalanan darat ke arah timur untuk menapakkan kaki di PLTU Cirebon-1. PLTU yang mulai beroperasi pada 2012 itu berdiri kokoh di pesisir Laut Jawa di Desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. 

Dari pos penjagaan di gerbang masuk, sejumlah pucuk bangunan di area seluas 150 hektare itu mulai terlihat. Segerombolan burung bertengger sejenak di salah satunya. Menarik perhatian saya untuk mendongak ke atas. Langit masih sama birunya, meski agak redup tertutup awan mendung.

Cara Kerja PLTU

Kami beranjak ke kantor PT Cirebon Electric Power. Sebelum melihat aktivitas PLTU lebih dalam, pengunjung diwajibkan mengenakan alat pelindung diri. Masing-masing pengunjung harus mengenakan helm, vest, sepatu, serta kacamata pelindung, dan ear plug

Dari area kantor, tampak corong tinggi mendekati langit dengan kepulan asap tipis di atasnya. Corong itu mengeluarkan asap dari aktivitas pembakaran batu bara, yang berlangsung selama 24 jam sehari, tujuh hari dalam sepekan. Mesin itu hanya berhenti ketika pemeliharaan atau Major Over Haul (MOH) setiap dua tahun sekali dengan durasi 10-47 hari.

Di sana 7.000 - 8.000 ton batu bara dibakar setiap hari, untuk menghasilkan 660 MW listrik. Uap panas pembakaran batu bara menggerakkan turbin, lalu gerakan tersebut diubah menjadi energi listrik. 

Menurut catatan perusahaan, emisi Nitrogen Oksida (NOX) yang dihasilkan sekitar 200 mg/Nm kubik dari baku mutu 550 mg/Nm kubik. Lalu untuk emisi Sulfur Dioksida (SO2), angkanya sekitar 140 mg/Nm kubik dari baku mutu 550 mg/Nm kubik. Total partikulatnya berada di angka sekitar 20 mg/Nm kubik dari puncak 100 mg/Nm kubik. 

PLTU Cirebon-1 menggunakan teknologi supercritical boiler, sehingga pembakaran lebih sempurna dengan residu lebih sedikit dibandingkan teknologi subcritical boiler. 

Saat itu, asap tipis memang tak sampai membuat langit jadi kelabu. Namun, ketika mesin baru dinyalakan usai pengecekan rutin, asap terlibat lebih gelap dan menebal. 

“Saat mesin dimatikan, lalu dinyalakan lagi, biasanya kita pakai solar, ya, itu agak menghitam sedikit (asapnya). Sangat wajar,” kata Environmental Engineer PT CEP, Agik Dwika.

Selain asap, pembakaran juga menyisakan debu dari batu bara. Debu halus yang timbul dari proses tersebut dialirkan ke tabung besar fly ash silo berkapasitas 1.300 ton. Sementara itu, batu sisa pembakarannya ditampung di bawah mesin boiler untuk dialihkan ke industri semen. Proses transfer menggunakan truk, dibawa dari Cirebon menuju pabrik semen di Narogong, Jawa Barat.

Pagi itu pembakaran batu bara untuk memutar turbin listrik tengah beroperasi. Dari jarak kurang lebih 600 meter, tak terdengar suara bising yang mengganggu. 

Tapi, saat mendekat, terdengar deru mesin yang jelas menandakan aktivitas produksi memang sedang berjalan. Ketika berbincang, saya perlu menambahkan sedikit volume suara agar bisa mendengar suara lawan bicara. 

PLTU Cirebon-1 terlihat dari kejauhan. (Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas)

Bagaimana Dampak PLTU Cirebon-1 ke Perairan Kawasan Pesisir Jawa?

PLTU membutuhkan air untuk mendinginkan kembali uap bekas pemutar turbin. Penempatan di tepi pantai akan memudahkannya mendapat air berlimpah untuk pendinginan. 

PLTU Cirebon-1 menggunakan teknologi cooling tower untuk mendinginkan air kondensasi bekas uap turbinnya. Dalam proses pendinginan, terjadi pertukaran suhu panas antara uap pemutar turbin dan suhu normal air laut. Usai melalui proses pendinginan, air dikembalikan ke laut dalam suhu normal. 

Fasilitas pendingin ini berada di belakang mesin boiler serta fasilitas lainnya. Posisinya langsung berbatasan dengan Laut Jawa. Jejeran cooling tower itu berdiri dengan satu gerbang mengekor ke arah laut. Gerbang ini mengalirkan air bekas pendinginan yang suhunya sudah kembali normal, 30-31 derajat Celcius.

Di sekitar aliran pembuangan air itu, pohon-pohon bakau (mangrove) tumbuh cukup subur. Agik bercerita, di bawahnya ramai dihuni kepiting bakau.

Kurang lebih sekitar 500 meter dari gerbang pembuangan air, terlihat bambu-bambu menancap, berisi harapan akan ditumbuhi biota laut seperti kerang hijau. Masyarakat memanfaatkan area tersebut untuk mencari penghasilan.

Di sisi timur, sebuah conveyor belt melintang kurang lebih sepanjang 2 km dari jetty atau dermaga, menuju fasilitas pembakaran batu bara PLTU. Sepanjang itu, conveyor yang mengangkut batu bara ini tertutup rapat. 

Menurut Agik, hal itu dibutuhkan untuk memastikan tidak ada debu atau serpihan batu bara yang beterbangan. Proses transfer muatan dari kapal tongkang ke dermaga pun dilengkapi penadah di bagian bawah, agar batu bara tak jatuh ke laut.

“Di bagian bawah antara celah dermaga dengan tongkang itu kita pasang penahan. Di atasnya ada extension atau perpanjangan tangan untuk menutup celahnya. Jadi double containment,” jelasnya. 

Dari pangkal dermaga tersebut, saya dan rekan lainnya diajak beralih ke muara Sungai Cipaluh yang berada tepat di sebelah timur PLTU. Dalam perjalanan, terlihat lahan berisi tumpukan batu bara.

Batu bara kiriman dari Kalimantan, diletakkan di area bernama stockpile. Lahan itu bisa menampung 127 ribu ton batu bara. Sepanjang tepi lahan tersebut ditanami dengan pohon, untuk menghalau debu beterbangan dari tempatnya. Tumpukan batu bara ini juga rutin disiram, agar tidak terlalu kering dan mudah terbawa angin. 

Namun, karena lahan itu terbuka, guyuran air hujan bisa menyapu sedikit demi sedikit batu bara. Oleh karena itu, mereka memasang filter, lalu menampung dan mengendapkan airnya di Coal Run Off Settling Pond. Air tersebut akan diolah untuk menetralkan tingkat keasamannya (pH), pengendapan, filtrasi, pengolahan hingga mencapai baku mutu air yang layak. 

Muara di Serambi PLTU

Di tepi PLTU, beberapa warung berdinding kayu bersandar layaknya perahu. Warung-warung itu menjual gorengan, kopi, dan minuman lain, dengan target pembeli para pekerja di PLTU. Bangunan kayu itu berdiri di tepian Sungai Cipaluh yang bermuara ke Laut Jawa. 

Kala masuk musim hujan, air sungai lebih coklat dari biasanya. Sungai itu melintasi wilayah Cirebon termasuk sampah-sampah di dalamnya. Beberapa bahkan tersangkut di akar mangrove yang tumbuh di samping PLTU itu.

Hari itu tidak ada aktivitas di antara tembok pemisah PLTU dan warung kayu itu. Hanya ada katrol yang menjuntai menyeberangi tembok. Katrol itu jadi media para pekerja dan pedagang bertransaksi. 


Artikel ini merupakan kolaborasi liputan bersama (co-reporting) media internasional, nasional, dan lokal mengenai rencana pensiun dini PLTU batu bara di Indonesia, yang diinisiasi oleh Katadata Green.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas