Sederet Negara yang “Tersandera” karena Bergantung pada LPG untuk Masak

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Pekerja merapikan tabung gas LPG 3 kg di pangkalan LPG, Jakarta, Jumat (19/1/2024).
23/4/2026, 17.37 WIB

Indonesia bukan satu-satunya negara yang bergantung besar pada LPG untuk memasak. Sederet negara berpenduduk besar lainnya juga ternyata bergantung pada bahan bakar ini. Celakanya, produksi LPG di dalam negerinya tidak mampu mencukupi kebutuhan domestik sehingga harus lobi-lobi tingkat tinggi agar kompor bisa menyala.

Berdasarkan data tahun 2023 yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), India tercatat sebagai negara dengan konsumsi LPG rumah tangga terbesar, yaitu mencapai 26,21 juta metrik ton. Di belakang India, ada Cina dengan 24,37 juta metrik ton, kemudian Rusia 11,92 juta metrik ton.

Indonesia berada di posisi keempat dengan 7,83 juta metrik ton, disusul Brasil 5,72 juta metrik ton, Meksiko 5,38 juta metrik ton, Amerika Serikat 4,6 juta metrik ton, dan Jepang 3,35 juta metrik ton.

Sedangkan mengacu pada data Bank Dunia untuk tahun yang sama, Cina, India, Jepang, Indonesia, dan Meksiko tercatat sebagai negara yang bergantung besar pada LPG impor. Pasalnya, produksi LPG di Cina, India, Meksiko, dan Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan domestiknya. Sedangkan Jepang memang memiliki sumber daya energi fosil yang sangat terbatas.

Di tengah krisis pasokan dari Timur Tengah, negara-negara ini harus putar otak mencari sumber-sumber pemasok alternatif. Amerika Serikat yang merupakan produsen dan eksportir LPG terbesar dunia, jadi salah satu opsi teratas.

Data International Energy Association (IEA) menunjukkan besarnya penurunan distribusi produk energi melalui Selat Hormuz sebelum dan setelah perang pecah di Timur Tengah.

"Ekspor LPG turun sebesar 1,2 juta barel per hari menjadi 280 ribu barel per hari,” demikian tertulis, dalam analisis migas bulanannya yang dirilis 10 April lalu. Ini artinya, penurunannya hampir 80 persen. Sedangkan sebagian besar pasokan LPG Asia dari kawasan Timur Tengah dan melalui Selat Hormuz.

Sebelum perang pecah, Timur Tengah dan Amerika Serikat bersaing ketat sebagai pemasok LPG Asia. Menurut perusahaan analisis data Keplr, sebanyak 48 persen impor LPG Asia tahun lalu berasal dari Timur Tengah, dan sekitar 39 persen dari AS.  

Ekspor Migas Timur Tengah via Selat Hormuz (IEA)

Kepanikan di India dan Stok Tebal di Jepang

Bergantung besar pada impor LPG dari Timur Tengah, India dilaporkan sempat mengalami kekurangan LPG: warga mengantre hingga terpaksa membeli di distributor tidak resmi dengan harga mahal.

Dalam pernyataan terbaru, Pemerintah India menyatakan distribusi LPG berjalan normal. “Masyarakat disarankan untuk menghindari penyetokan (panic purchase) bensin, solar, dan LPG,” kata Kementerian Migas India melalui pernyataan tertulis.

Selama ini, India dilaporkan bergantung besar pada pasokan LPG antar lain dari Arab Saudi dan Qatar. Kini, negara itu dikabarkan menambah pasokan dari AS, Norwegia, Kanada, Algeria, hingga Rusia.

Pemerintah India juga dilaporkan tengah mendorong pergeseran ke gas pipa untuk meningkatkan ketahanan energinya.

Sama seperti India, Jepang telah memperbanyak pasokan LPG dari AS. Pasokan dari Timur Tengah telah turun ke sekitar 10 persen dari total impor. Negara tersebut saat ini menjaga stok LPG untuk 50 hari impor.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.