Bappenas Bidik Investasi Hijau Triliunan, Perlindungan Pesisir Masuk Prioritas?
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bermitra dengan Global Green Growth Institute (GGGI), mengejar investasi hijau US$ 2 miliar atau sekitar Rp35,6 triliun. Lantas, apakah proyek perlindungan pesisir termasuk proyek strategis nasional Giant Sea Wall potensial dicarikan investasi lewat program ini?
Kemitraan yang dibalut dalam program Green Indonesia Future Initiative (GIFT) tersebut diluncurkan pada Kamis (4/6). Ditemui usai peluncuran program, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf mengatakan, pihaknya mendukung program ini terutama untuk pengelolaan ekosistem mangrove.
“Kami mendukung, (untuk) mangrove,” kata Didit. Namun, dia tidak menjawab ketika ditanya apakah program ini akan mengupayakan juga pendanaan terkait studi dan pembangunan Giant Sea Wall di pesisir Pantai Utara Jawa.
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat membeberkan rencana pemerintah untuk menanam mangrove di 200 hektare lahan untuk mengurangi ancaman abrasi dan banjir rob di wilayah pesisir Pantai Utara Jawa. Sebab, Giant Sea Wall, menurut dia, bukan solusi tunggal untuk mengatasi masalah ini.
Adapun menurut Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo, GIFT cenderung memberi peluang pada proyek-proyek hijau di luar proyek strategis nasional. “GIFT itu melihat peluang-peluang yang belum dimasuki atau belum dimulai di Indonesia, salah satunya hidrogen,” kata Teguh.
Sebagai informasi, kemitraan Bappenas dan GGGI pada program GIFT melanjutkan kemitraan sebelumnya dalam program Green Growth Program (GGP) yang berjalan selama 13 tahun.
Dana yang diperoleh GGGI berasal dari donor internasional. Pendonor terbesarnya adalah Pemerintah Kanada. Selain itu, ada pemerintah Korea Selatan, Selandia Baru, Finlandia, Denmark, dan negara lainnya. Sumber pendanaan lainnya yaitu dari pool dana multilateral seperti Green Climate Fund dan International Climate Initiative.