Sustain: Listrik Mati Bergilir Jawa-Bali Alarm Keras untuk Diversifikasi Energi
Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (Sustain) memandang problem listrik mati bergilir di Pulau Jawa dan Bali sebagai bukti rapuhnya sistem kelistrikan nasional. Pemicunya, listrik didominasi satu sumber, yaitu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.
Direktur Eksekutif SUSTAIN Tata Mustasya mengatakan, Indonesia akan sulit memenuhi kebutuhan pasokan batu bara domestik dengan lebarnya disparitas harga domestic market obligation (DMO) dan harga global. Padahal, kebutuhan batu bara domestik dengan harga DMO mencapai 220 juta metrik ton.
Akibatnya, kata Tata, Indonesia akan terus dihantui kekurangan pasokan batu bara. Dalam riset terbaru bertajuk Unlocking Solar Energy Demand: Peran Strategis PLTS Atap dan Power Wheeling dalam Mencapai 100 GW Energi Surya, Sustain merekomendasikan diversifikasi energi dengan mengoptimalkan energi surya.
"Permintaan eksisting dari sektor rumah tangga dan industri berpotensi menjadi salah satu pendorong utama percepatan energi surya nasional melalui pengembangan PLTS atap dan implementasi power wheeling," ujar Tata dikutip dari keterangan resmi pada Senin (22/6).
Tata mengatakan, sistem listrik yang terpusat seperti saat ini cenderung lebih rawan tumbang. Berbeda jika dibangun dengan sistem desentralisasi seperti dengan PLTS Atap.
“Ketika jaringan utama PLN mengalami gangguan teknis atau kelebihan beban, pasokan listrik di titik-titik konsumen tetap aman karena ditopang energi surya mandiri,” ujar dia.
PLTS Atap seperti menciptakan bantalan atau buffer di level tapak. Untuk mendorongnya, diperlukan regulasi dan insentif yang mendukung industri hingga masyarakat.
Selain PLTS Atap, power wheeling juga bisa jadi opsi. Power wheeling adalah hak pemanfaatan bersama jaringan transmisi PLN oleh produsen listrik swasta, berbasis energi terbarukan.
“Saat ini banyak industri yang ingin beralih ke energi bersih tetapi terhambat oleh keterbatasan pasokan hijau dari PLN,” ucapnya.
Dengan power wheeling, produsen energi surya skala besar dapat menyalurkan energi bersihnya langsung ke konsumen atau industri dengan jaringan yang ada.
Di samping mempercepat pencapaian target 100 GW energi surya, skema ini sekaligus mengurangi beban investasi hulu PLN. Perusahaan listrik milik negara ini bisa fokus menjaga keandalan dan perawatan jaringan transmisi utama untuk mencegah pemadaman massal.
Dalam skenario akseleratif, Sustain menghitung bahwa penambahan kapasitas energi surya sekitar 11,4 GWp dalam waktu relatif singkat dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian target pembangunan PLTS nasional sebesar 17 GW dalam tiga tahun tanpa semakin membebani keuangan negara.