Garuda Voting PKPU Hari Ini, Berapa Total Utangnya?

Sekretariat Presiden.
Pesawat Garuda Indonesia yang digunakan Presiden Joko Widodo untuk kunjungan ke Amerika Serikat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (10/5). Foto: Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden.
Penulis: Lavinda
17/6/2022, 15.42 WIB

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akhirnya menjalani agenda pemungutan suara atau voting dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada Jumat (17/6) hari ini.

Jadwal voting seharusnya dilakukan pada Rabu (15/6) kemarin, tetapi manajemen Garuda meminta penundaan waktu voting selama dua hari. Hal ini dilakukan untuk memastikan proses voting berjalan lancar, termasuk mengoptimalkan beberapa tahapan administratif.

Sebenarnya, berapa total utang Garuda dalam kasus PKPU ini?

Berdasarkan Daftar Piutang Tetap (DPT) per 14 Juni 2022 yang diterbitkan Tim Pengurus PKPU, Garuda Indonesia memiliki total utang mencapai Rp 142,42 triliun kepada 501 kreditur.

Menurut rincian, jumlah tunggakan Garuda terdiri dari, sebanyak Rp 104,37 triliun kepada 123 lessor, Rp 34,09 triliun kepada 300 kreditur non-lessor, dan Rp 3,995 triliun kepada 23 kreditur non-preferen.

Sebelumnya, Tim Pengurus PKPU telah memaparkan proposal perdamaian, sebagai bagian dari tahapan proses PKPU.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, dalam proposal tersebut, maskapai pelat merah ini menyampaikan sejumlah usulan penyelesaian kewajiban usaha yang telah dikomunikasikan dengan kreditur.

Sejumlah usulan penyelesaian kewajiban antara lain, terkait penyelesaian kewajiban melalui arus kas operasional, dan konversi nilai utang menjadi ekuitas.

Selain itu, perusahaan milik negara ini juga mengusulkan modifikasi ketentuan pembayaran baru jangka panjang dengan periode tenor tertentu, dan penawaran instrumen restrukturisasi, baik dalam bentuk surat utang baru maupun ekuitas.

"Skema restrukturisasi yang ditawarkan akan menyesuaikan dengan kelompok kreditur yang telah diklasifikasikan berdasarkan nilai kewajiban usaha maupun jenis entitas bisnis masing-masing kreditur," ujar Irfan dalam pesan singkat yang dikirim kepada Katadata.co.id, Kamis (9/6).

Terkait instrumen restrukturisasi, lanjutnya, Garuda akan menawarkan penyelesaian kewajiban melalui penerbitan surat utang baru dengan nilai total US$ 800 juta, serta ekuitas dengan nilai total US$ 330 juta.

Penawaran khususnya diajukan kepada kreditur lessor, finance lessor, vendor Maintenance, Repair dan Overhaul (MRO), produsen pesawat hingga kreditur lainnya dengan nilai tagihan di atas Rp 255 juta.

"Penawaran surat utang dan ekuitas dengan nilai tersebut tentunya akan terus diselaraskan dengan perkembangan negosiasi dan komunikasi bersama kreditur yang masuk dalam kriteria penerima surat utang maupun ekuitas ini," katanya.

Menurut dia, proposal perdamaian yang dipaparkan merupakan skema restrukturisasi yang masih akan terus dibahas dan dimatangkan bersama seluruh kreditur. Dia berharap terjalin komunikasi yang konstruktif untuk mencapai kesepakatan terbaik.

Dia menjelaskan, proposal perdamaian disusun untuk menghasilkan solusi penyelesaian kewajiban dengan mempertimbangkan rencana bisnis, kondisi pasar, dan berbagai masukan dari kreditur Garuda. Irfan berharap para kreditur dapat memberi dukungan kepada perusahaan dalam pemungutan suara yang berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.