Josua menyebut beberapa poin penting dalam pernyataan Presiden ECB Mario Draghi. Pertama, resesi Eropa memiliki probabilitas rendah. Sebagai hasilnya, ECB tidak akan mempertimbangkan kebijakan devaluasi atau penurunan nilai mata uang dalam negeri mereka terhadap mata uang luar. Kemudian, pernyataan bahwa kebijakan fiskal harus menjadi instrumen utama untuk mencegah resesi.

Selain kebijakan moneter ECB, Josua mengatakan faktor lain yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang yaitu negosiasi dagang AS-Tiongkok. Sebelumnya, muncul berita yang menyebutkan soal kemungkinan kesepakatan sementara/terbatas (interim) antara AS dan Tiongkok. Presiden Donald Trump sendiri sempat menyatakan akan mempertimbangkan kesepakatan interim, meskipun lebih menginginkan kesepakatan penuh.

(Baca: Terbuka Peluang Kesepakatan AS-Tiongkok, Bursa Saham Dunia Menghijau)

Dalam berita yang kemudian dibantah pejabat Gedung Putih tersebut dikatakan, berdasarkan sumber yang mengetahui masalah negosiasi AS-Tiongkok, kesepakatan interim mencakup penundaan dan pengembalian tarif untuk produk impor dari Tiongkok sebagai ganti atas komitmen terhadap hak kekayaan intelektual dan pembelian produk pertanian AS.

Josua mengatakan, laporan ini mendorong dolar AS melemah terhadap mata uang berisiko seperti pound sterling, euro, dan dolar Australia. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini masih akan terus menguat. Dirinya memproyeksikan mata uang garuda akan ada di kisaran Rp 13.875 - 13.975 per dolar AS.

Halaman: