Sri Mulyani: Hasutan dan Sinisme Hambat Perekonomian

Arief Kamaludin|KATADATA
24/11/2016, 10.16 WIB

“Jangan mudah ter-distract dari kondisi politik saat ini. Apalagi baca WhatsApp yang isinya hasutan,” kata Sri Mulyani. (Baca juga: Efek Trump, Pengusaha Minta Pemerintah Ubah Strategi Dagang)

Di sisi lain, Sri Mulyani menyayangkan jika lemahnya kemampuan pelaku pasar dalam melihat kondisi ekonomi saat ini justru akan membebani hal-hal yang sudah dibangun. Padahal, peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Bussines/EODB), misalnya, sudah naik 15 level ke peringkat 91 dunia.

“Kalau pemerintah dan masyarakat memiliki kesamaan melihat masalah, bisa langsung membandingkan dan fokus apa sih yang mau diselesaikan dalam ekonomi dan sosial politik Indonesia,” ujar dia.

Ia memastikan, pemerintah sudah mengelola instrumen ekonomi yakni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kredibel. Defisit anggaran tahun ini diperkirakan sedikit di atas 2,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan tahun depan diproyeksikan hanya 2,41 persen dari PDB. Adapun pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran lima persen.

Jika dibandingkan dengan India yang tumbuh 7,5 persen namun defisitnya 9 persen, Sri Mulyani melihat ekonomi Indonesia lebih baik. Bahkan, defisit anggaran Brazil sempat tembus 10 persen pada 2015.

“Makanya saya (menilai) agak offside kalau Indonesia dibanding dengan Brazil, dibilang lebih rendah. Saya tidak suka analisis ngawur. Saya lebih suka analisis yang kritis itu penting untuk saya,” katanya.

Halaman: